Senin, 05 Januari 2015

5.5 Tahun Bersamanya

Hampir 6 tahun mengarungi bahtera rumah tangga -tsaah bahasanya- mendorong saya menulis catatan kecil kali ini. Belom lama sih kalo baru 6 tahun. Ibu bapak saya sudah ngalamin peringatan kawin emas. 6 tahun mah seujung kuku pengalaman berumah tangga beliau. Tapi gak ada salahnya juga mereview rumah tangga saya yang baru seumuran anak kelas 1 sd ini. Sebagai bahan pembelajaran saya pribadi agar ke depannya bisa lebih oke lagi.

Selama hidup dengan lelaki asing yang tiba2 rela mbeliin bedak dan lipstik buat saya ini, saya merasa 'cukup' nyaman. Baru 'cukup', belom nyampe tahap 'sangat'. Haha. Kata orang, kalo berhasil melewati 5 tahun pertama kehidupan perkawinan, insyaalloh tahun2 selanjutnya akan lebih mudah dilewati. Amiin.

Kehidupan rumah tangga saya itu gak romantis. Jauuh dari dongeng2 romantis ala romeo-juliet, putri tidur dan pangeran tampan, tao ming tse-sancai, barbie dan ken atau mickey dan minnie mouse yang penuh bunga, puisi, nyanyian, dan rayuan gombal. Namun karena sangat biasa itulah, saya menjadi nyaman menjalaninya. Iya. Karena saya gak perlu berpura2, jaim atau pake topeng dalam kehidupan rumahtangga saya. Saya hanya perlu menjadi saya. Dan dia silakan menjadi dirinya.

Saya bisa dengan santai kentut atau ngupil di sampingnya tanpa muka saya harus berubah jadi merah padam. Dan sebaliknya, berlaku juga untuknya. Palingan hanya seloroh "hoeek kamu kentut ya, keluar sana. Heboh buka pintu jendela, nyalain kipas angin.
Atau momen lain yang sering terjadi, pas di tempat makan misalnya,  suami saya dengan santainya bilang "bayarin mah, duitku tinggal sepuluh ribu nih" tanpa dia merasa jadi 'rendah' gegara dibayarin wanita. Atau sebaliknya saya yang bilang, aku gak bawa dompet lho yah, tanpa ngerasa rendah diri karna minta dibayarin. Saya memegang teguh prinsip: duit suami adalah duit saya juga. Dan duit saya adalah duit saya sendiri. :p.

Saya juga sering nyuruh dia, misalnya "bikinin indomie dong yah, males masak nih" sekalian sama es teh manisnya ya. Dan sebaliknya dia sering minta "mah, goreng tempe sana, tepungnya dikit aja, tempenya jangan ketipisan, pake api kecil ya, kalo adonannya sisa jangan maksa ditemplok2in ke tempe lho". Issshhhh rewel. Dan semua itu tidak melibatkan kata 'superioritas'. Saya gak pernah merasa superior karna bisa nyuruh2 dia. sebaliknya juga dia, biasa aja menanggapi suruhan2 saya.

Kalo pas suami saya dapat jatah pulang, biasanya kalo udah senggang saya ambil hpnya. Dimulai dari cek panggilan keluar masuk, inbox sms, obrolan via watsap, bbm sampe fb messenger. Hihi. kepo nama tengah saya. Suami saya cuek aja nanya, ngapain ma? Ngecek aja, sapa tau ada sms dari cewek cantik. Dan dia hanya tertawa. Ada tuh, dari bu ini atau bu itu (rekanan kerjanya). Demikian juga saat suami saya ngepoin hp, ig, fb atau twiter saya (eh, ini gak pernah ding, malah saya yang suka maksa2 dia nge like status2 saya. Atau seringnya saya yang komenin status sendiri pake akun dia. Wkwkwk. Ketauan deh). Saya yakin, suami saya percaya sama kesetiaan saya. Ciyeeh.

Saya gak merasa risih nanya berapa gaji nya sebulan, uang ini asalnya dari mana, dll. Atau bertanya tentang teman2nya, kerjaan kantornya blablabla dan dia dengan senang hati menjawabnya tanpa merasa saya memata2inya. 
Saya gak merasa bego nanya hal remeh temeh semisal, kenapa sih bencong itu hobi mangkal di pengkolan? Atau dulu kenapa kamu mau nikahin aku?Dan dia juga menjawab alakadarnya. Soalnya kalo mangkal di pangkalan namanya tukang ojek. Atau karena gak ada pilihan lain waktu itu. Cuma ada kamu. Yaudah ambil aja. Haaahhh!!! Apaaa??? Jadi bukan karna cinta kamu nikahin aku?? Mata melotot, bibir pleyot2. Tampar aku mas *sinetron alay mode on.

Atau kejadian terbaru kemarin di inul vizta. Dia jalan di depan dan buka pintu kaca. Sayangnya itu pintu gak dia tahan, main lepas aja. Alhasil kejedotlah saya dan bella yang jalan di belakangnya. Sisi batin saya bilang: Oke. Santai, cool, jangan liatin kesakitan dan kemarahanmu, banyak embak2 di sana *jaim say. Sisi batin yang lain bilang: awas ya ntar di dalem. Habiis. *siapin tangan buat cubitan dan tabokan maut. Dan sesampe di ruang karaoke hebohlah saya mencak2 sama suami. Gimana sih, itu namanya gak gentlemen, lelaki apa kaya gitu, harusnya kamu yang bukain pintu buat aku @$fhfd%!@!&*. Dan dia dengan santainya bilang iya, udah dong maaf ya. Tadi kupikir pintunya ditahan berry. Hiiiihhhh. Akhirnya saya mengalah untuk berhenti marah2 saat inget durasi nyanyi yang cuma 1 jam jadi kebuang2 gegara insiden itu. Ya sutralah yuk kita nyanyi sakitnya tuh di sini sambil dongkol.

Itu sekelumit cerita kehidupah keseharian saya sama suami. Biasa aja. Gak ada menyentuh2nya kaya cerita di drama korea. Tapi saya sangat mensyukurinya. Yakin deh Alloh selalu memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Alloh tahu, saya butuh lelaki yang seperti ini bukan yang seperti itu, yang saya angankan waktu itu. Entah apa yang terjadi kalo lelaki itu bukan dia. Yeeeeyyy aku memujimu suamiku. Haha. Dan saya juga harus belajar untuk gak selalu membandingkan kehidupan rumah tangga si ini atau si itu yang terlihat begitu 'ideal' di mata saya. Setiap rumah tangga itu unik dengan caranya sendiri.

Dan setiap ingat awal perkenalan kami, saya selalu inget guyonan jayus pertamanya.
D:Apa bedanya soto sama coto?
S: *jawab serius, kalo soto itu kuahnya bening, coto agak item
D: Salah. Kalo soto pake daging sapi, kalo coto pake daging capi *muka lempeng tanpa senyum.
S: ih jayus
D: Apa bedanya soto sama sroto?
S: soto pake daging sapi, sroto pake daging srapi
D: salah. Kalo soto sapi, sapinya kakinya empat, kalo sroto, sapinya kakinya emprat
S: ih maksaaaaa. Hahaha (dulu belom musim ketawa pake wkwkwk).

Kamis, 01 Januari 2015

Susu Kedelai Bikin Mandul? Ciyuuss??

Kemarin ada teman yang nanya bener gak susu kedelai bikin mandul? Saya gak bisa jawab pertanyaan itu sejelas menjawab pertanyaan bener gak manusia bernafas dengan paru2? Jadi di sini saya coba tuliskan alur pikir nya aja ya, versi saya.

Susu kedelai/sari kacang kedelai itu sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu terutama oleh orang2 asia (awalnya dari cina), (sumber:wikipedia). Kalo konsumsi kedelai dikatakan bisa bikin mandul, harusnya sekarang udah ada masalah dengan jumlah populasi manusia terutama di kawasan asia dong?

Kedelai merupakan sumber protein non hewani yang sangat bagus, karena dia memiliki hampir semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Namun demikian, di dalam kedelai itu juga ada beberapa senyawa anti gizi seperti asam fitat, inhibitor tripsin, goitrogen, saponin dsb. Senyawa antigizi ya bukan senyawa berbahaya *catet. Namun seiring dengan makin berkembangnya penelitian, senyawa2 antigizi ini ternyata juga bisa bersifat menguntungkan. Asam fitat misalnya, dia disebut antigizi karena dapat mengikat mineral2 penting seperti kalsium, seng dan magnesium membentuk endapan sukar larut sehingga mengurangi ketersediaan mineral2 tersebut bagi tubuh. Tapi kemampuan ini juga menjadikannya mampu bertindak sebagai antioksidan dengan mencegah reaksi oksidasi yang merugikan tubuh.
Itulah kenapa ngomongin gizi itu gak sepasti ngomongin satu tambah satu sama dengan dua.

Balik ke susu kedelai. Susu kedelai ini sama seperti tahu termasuk produk yang gak difermentasi (liat tulisan saya sebelumnya tentang bedanya tahu sama tempe). Produk2 yang tidak difermentasi ini kemungkinan punya kandungan senyawa antigizi yang lebih tinggi dibandingkan produk2 fermentasi seperti tempe dan kecap.

Satu lagi yang jadi kontroversi pada susu kedelai, yaitu isoflavon. Isoflavon banyak terdapat pada kedelai dan produk turunannya. Isoflavon ini termasuk dalam golongan fitoestrogen yaitu senyawa yang mirip dengan hormon estrogen pada manusia. Di satu sisi dia punya segudang manfaat seperti anti oksidan, anti kanker, menurunkan kolesterol jahat dan masih banyak lagi. Namun di sisi lain -karena kemiripannya dengan estrogen-, dia dikatakan dapat mengganggu sistem reproduksi manusia, bikin infertil dan gangguan seksualitas lain. Saya gak tau yang bener yang mana. Yang jelas penelitian2 terkait isoflavon yang banyak dilakukan pada tikus percobaan (bukan manusia) ini biasanya menggunakan isoflavon dengan dosis sangat tinggi. Sejauh saya gugling, hasil2 penelitian ini bervariasi, ada yang memberikan hasil positif maupun negatif.

Yang jelas lagi, susu kedelai itu solusi untuk anak2 yang alergi dengan laktosa pada susu sapi (lactose intolerance). Anak2 yang tidak tahan terhadap laktosa (diare kalo abis minum susu) biasanya disarankan beralih pada susu kedelai karena komposisi gizinya yang hampir mendekati susu sapi.
Saya kasih susu kedelai juga kok ke anak saya. Tapi saya gak rutinkan. Saya menempatkan susu (baik sapi maupun kedelai) itu sebagai pilihan bukan kewajiban. Pengen minum silakan, enggak juga gakpapa.

Kalo ngomongin infertilitas, kanker, stroke dan penyakit2 serem sebangsanya, menurut saya gak bisa diambil kesimpulan hanya dengan menuduh satu faktor saja sebagai penyebabnya. Kedelai bikin mandul. Mie instan dan MSG bikin kanker. Gorengan bikin kolesterol tinggi dan semacamnya. Naiknya prevalensi penyakit2 serem itu bisa jadi merupakan gabungan dari perkembangan teknologi, pola makan gak bener dan gaya hidup gak jelas. Rokok, alkohol, makanan junkfood, makanan instan, diet tinggi gula, kebanyakan nonton insert atau jodha akbar, kurang olahraga, depan laptop seharian, gadget gak bisa lepas dari tangan and so on. Faktor2 itu bergabung jadi satu dan terakumulasi bertahun2, jadilah boooomm!!! Penyakit2 manusia modern yang jaman dulu mungkin jadi penyakit langka.

Dapet benang merahnya kan ya dari catatan ini? Tiwas nulis panjang2 malah gak nyambung atau bikin pusing kan gak asik banget.
Jadi gimana itu tadi susu kedelai? Asal minumnya gak heboh2 amat alias wajar2 saja, saya pikir gak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Makan tempe tahunya kalo bisa jangan tiap hari, sehari 3x, bosen euy :D ganti telor ceplok, ikan atau apa gitu. Oiya ada kok produk susu kedelai yang udah difermentasi. Namanya soyghurt, temennya yoghurt. Secara teori itu lebih baik dibandingkan susu kedelai biasa.

Yuk Telaah Kebenaran Iklan Minyak Goreng


Gambar diambil dari kompasiana.com

Kenapa gorengan itu jadi favorit hampir semua penduduk indonesia raya? Jawabannya cuma satu: karena  e n a k. Apa yang bikin enak? Yap, MINYAKnya. Btw soal minyak,  jadi inget persaingan para produsen minyak dengan merk dan jargon masing-masing untuk menarik konsumen memilih produknya. Itu beneran gak sih?

Yuk cek atu-atu...

1. Minyak 2x penyaringan itu lebih baik?
Apa sih tujuan penyaringan dalam pengolahan minyak itu? Ngilangin kolesterol? Ngilangin kotoran? Bukaaann..............!!! Penyaringan (bahasa teknologinya fraksinasi) itu tujuannya buat misahin fraksi cair minyak (olein) dengan fraksi padat (stearin)nya. Emang kalo masih ada bagian yang padat jadi bahaya gitu? Enggak juga. Cuma minyaknya jadi lebih mudah 'membeku' pada suhu kamar, jadi keliatan kurang oke penampakannya. Kalo disaring 2x fraksi padatnya udah gak ada, jadi gak mudah 'beku'. Kalo yang dimaksud 'baik' itu kaya gini ya jelas 2x penyaringan lebih baik dari 1x penyaringan. Tapi kayanya hampir semua merk minyak goreng kemasan udah menerapkan 2x penyaringan deh (tuntutan konsumen yang suka minyak goreng bening)

2. Minyak mengandung omega 3, omega 6 dan omega 9 itu keren?
Jadi ya Omega 9 itu nama lainnya adalah asam oleat. Asam oleat itu komponen utama dari minyak sawit (bimoli, filma, tropical, sunco, sania dkk). Jadi semua minyak sawit mengandung omega 9? Iyak. Minyak sawit juga punya kandungan asam lemak linoleat (omega 6) sekitar 8%an. See, bagaimana bahasa iklan mempengaruhi pikiran kita? Kalo minyak yang dicap mengandung omega 3 ya berati itu ditambahkan dari sumber hewani. Tapi sepertinya gak gitu ngefek juga itu omega 3, toh kita mengonsumsi minyak goreng juga gak sampe segelas sehari :p. Lagian  kira2 omega 3 itu akan rusak gak karna penggorengan?

3. Minyak non kolesterol itu lebih sehat?
Sekali lagi. Yang punya kolesterol itu cuma manusia dan produk2 dari sumber hewani. Lemak yang ada pada bahan minyak goreng nabati itu namanya fitosterol. Jadi tanpa dicap 'nonkolesterol' pun semua minyak goreng itu ya emang non kolesterol. Jargon ini sebenernya justru agak menyesatkan, soalnya jadi memberi kesan kalo minyak bebas kolesterol itu njuk bebas dinggo sakkarepe dewe (baca: terus bisa dipake suka2 gue -gak dapet feel nya kalo diindonesiain-). Padahal yang namanya minyak ya tetep minyak, yang harus dibatasi penggunaanya.

4. Minyak yang sehat bisa diminum?
Diminum itu cuma salah satu cara menguji kualitas minyak. Minyak goreng yang baik, saat diminum akan berasa seperti minum air biasa. Minyak goreng yang sudah mengalami multiple proses (pemurnian, penghilangan warna dan bau dll) biasanya juga bisa diminum (tapi tidak ditujukan untuk diminum).

5. Minyak goreng mengandung vitamin A, D, E, K?
Secara alami minyak goreng memang mengandung vitamin2 ini. Ada juga yang masih ditambahkan/difortifikasi dengan vitamin A. Masalahnya buat sebagian besar kita, minyak goreng ini dipake sebagai media penghantar panas -bilang aja buat nggoreng, riweh pisan-, nah vitamin2 ini sangat mudah rusak akibat pemanasan suhu tinggi. Jadi ya gak usah ngarep masih bisa dapet vitamin2 itu pada pisang goreng, tempe goreng dkk.

Jadi lagi2 jangan mudah terprovokasi baik oleh iklan maupun kata orang. Jadilah konsumen yang keren. Oke kembali lagi ke pilihan masing-masing sukanya pake minyak goreng yang merk mana. Kalo saya sih sukanya minyak goreng yang mengandung....... diskonan :D

Makanan Organik vs Makanan Konvensional

Let's talk about 'pangan organik'. Apa sih yang terasosiasi di benak kita kalo ngomongin makanan organik? 3 kata? Kalo saya mahal, aman, sehat. Cek satu2.
Sebelumnya back to definisi dulu. Bahan pangan organik itu adalah bahan pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik. Minim pestisida sintetis dan pupuk kimia. 'Organik' di sini hanya istilah ya, untuk pertanian yang ramah lingkungan, back to nature dsb,  beda sama 'organik' yang dimaksudkan di pelajaran kimia itu (semacam molekul yang mengandung atom karbon). Jadi saya pake istilah bahan pangan biasa/konvensional aja sebagai kebalikan dari bahan pangan organik.

1. Lebih mahal?
Bahan pangan organik ini harganya biasanya 10-30% lebih mahal dari bahan pangan konvensional. Kenapa lebih mahal? Antara lain karena perawatannya yang lebih riweuh, permintaan yang lebih tinggi daripada penawaran, penanganan pasca panen yang lebih ribet, tenaga kerja yang lebih banyak, dan sertifikasi pangan organik yang gak mudah dan gak murah dll.

2. Lebih aman?
Samakan persepsi aman dulu. Apa yang dimaksud aman itu adalah karena kandungan pestisidanya lebih sedikit? kalo itu, ya jelas pangan organik punya residu pestisida lebih rendah dibandingkan pangan konvensional. Wong syarat disebut organik itu emang meminimalkan/meniadakan pestisida sintetis. Tapi menurut saya, sebenernya kuncinya itu ada pada dosis. Apakah dosis pestisida di bahan pangan konvensional itu melebihi ambang batas maksimum penggunaan pestisida yang diijinkan? Kalo masih jauh di bawah dosis, ya masih aman, gak perlu terlalu parno. Masalahnya ada juga petani2 nakal yang kadang bertanam gak pake aturan, semena2 ngasih pestisida ke tanamannya. Nah dosis untuk pestisida itu beda2, tergantung jenis pestisidanya dan bahan pangannya. Bisa di cek di SNI (saya lagi males nyarinya. Banyak :D). Meskipun begitu, sangat jauh lebih baik kalo pestisida sintetis itu bisa diganti dengan pestisida alami/hayati/nabati yang lebih ramah lingkungan.

3. Lebih sehat?
Lha kalo tentang nutrisinya gimana? Apakah pangan organik lebih tinggi nutrisinya dibandingkan yang konvensional? Sepertinya gak begitu. Yang saya baca2 itu ternyata beda kandungan gizi antara pangan organik dan yang konvensional itu gak signifikan/gak beda2 amat/sama aja. Yang harus diperhatikan dari pangan organik itu sebenarnya adalah tentang kontaminasi mikrobianya. Kan pupuknya itu biasanya pake pupuk kandang ya, bakteri semacam E.Coli di pupuk kandang itu kira2 bisa mengkontaminasi bahan pangannya gak? Gak tau juga, belom dapat referensinya.

Pilihan banyak orang untuk pindah haluan dari pangan konvensional ke pangan organik itu sebenarnya lebih terkait dengan persepsi otak. Semacam halo efek gitu, sugesti mungkin ya. Tanpa melihat nilai nutrisi di kemasan, konsumen biasanya menyimpulkan kalo pangan yang dilabelin dengan cap 'organik' itu lebih sehat, lebih bergizi, rendah kalori dan lebih aman, sekalipun lebih mahal. Kaya persepsi kalo mobil Honda itu lebih keren dari Hyundai *gak nyambung ya :D Persepsi ini sebenarnya kurang tepat dan kurang kuat, karena belom didukung dengan banyak penelitian. Kebanyakan penelitian yang dilakukan adalah membandingkan kandungan residu pestisida pada pangan organik dan konvensional. Penelitian2 yang membandingan kandungan nutrisi kedua jenis pangan ini hasilnya bervariasi sehingga belom bisa ditarik kesimpulan besarnya kalo pangan organik itu lebih tinggi nutrisinya dibandingkan pangan konvensional.

Jadi ya biasa aja deh, gak perlu terlalu rem to the pong dan ri to the bet. Lagi2 kembali pada preferensi masing2. Kalo ngerasa lebih mantep dengan makanan2 organik, -dengan resiko harus merogoh kocek lebih dalam- sok dilanjutken. Tetapi kalo masih tetep bertahan dengan pangan yang biasa aja ya gakpapa juga. Dengan catatan diperhatikan preparasinya. Residu pestisida yang paling banyak itu biasanya ada di permukaannya. Jadi kalo mau makan buah ya kupas dulu kulitnya. Apalagi untuk buah manggis, kabar gembiranya kan kulitnya bisa diekstrak tuh :D. Atau kalo buah2 yang kulitnya harus dimakan macam stroberi, anggur atau apel ya dicuci pake sabun yang foodgrade itu. Kalo kubis, bagian terluarnya mending dibuang dulu.

Kalo pengen yang aman dan murah ya nanam sendiri aja sayur2 dan buah2annya. Pake metode hidroponik juga oke kayanya. Gak pake tanah2an. Saya kemarin juga udah nanem cabe, tomat dan sesayuran lain. Menyenangkan lho. Melihat sebuah proses kehidupan baru, dari sebutir biji, berkecambah, tumbuh daun da..da..da.. trus dipanen deh, kalo gak dipanenin ulat sama walang duluan :D

Oke, demikian sekelumit cerita tentang pangan organik yang saya tahu. Monggo kalo ada koreksi atau info tambahan.