Jumat, 18 November 2016

Wahai Ibu, Berdamailah dengan Dirimu


Kadang saya suka baper setelah membaca-baca tulisan, artikel, buku atau status-status fb mama-mama muda idola saya yang berbau-bau parenting dan yang sebangsanya. Soalnya dari situ saya sedikit banyak memperoleh gambaran tentang sesok ibu ideal, ibu yang keren, ibu yang profesional, ibu yang baik...

Ibu yang baik adalah ibu yang punya visi dan misi yang jelas untuk anak-anaknya. Rencana-rencana yang terukur, target-target yang harus dicapai, strategi mencapainya dan semacamnya.

Ibu yang baik adalah ibu yang jarang marah atau berteriak-teriak pada anaknya. Lemah lembut dan sangat terjaga pitch controlnya.

Ibu yang baik adalah ibu yang bisa dengan sangat sabar menghadapi tantrum anak-anaknya, membujuknya dengan halus, tanpa suara harus beralih ke falsetto apalagi pakai acara ancam-mengancam.

Ibu yang baik adalah ibu yang selalu memasakkan fresh food untuk anak-anaknya, bukan nugget, sosis atau mie instan. Apalagi sampai kelupaan masak.

Ibu yang baik adalah ibu yang bisa mengkondisikan anak selalu melakukan hal positif, meminimalkan penggunaan tv juga gadget, mengajari ngaji, hafalan dan doa-doa.

Ibu yang baik adalah ibu yang jarang mengeluh "Hayati lelah bang..." karena ibu memang bukan Hayati.

Ibu yang baik adalah ibu yang menerima utuh anak-anaknya serta tak pernah membandingkannya dengan yang lain.

Ibu yang baik adalah nanananana... (boleh diisi)

Duuh langsung merasa minder waghder tingkat Asia. Mendadak galau gundah gulana. Menengok ke diri-sendiri, tak ada yang masuk kriteria. Jadi aku ini ibu yang baik bukan ya?

Jauh panggang dari api.

Terlalu easy going. Santai kaya di pantai. Tak ada target yang jelas. Go with the flow semboyan andalannya.
Hampir setiap pagi berteriak-teriak sekedar mengingatkan "buruan mandinya, sarapan, berangkat sekolah, telat lagi kita."
Stok nugget, sosis, mie instan selalu siap sedia.
Anak tantrum ikutan tantrum juga.
Kadang tak sempat update hafalan doa-doa. Saat sibuk melanda, gadget dan tv jadi senjata utama, yang penting jangan ganggu mama!
Keluh kesah tak pernah lupa.

Aah... ibu macam apalah saya. Dengan kualitas alakadarnya ingin anak-anaknya bisa jadi luarbiasa.

Kerisauan ini bisa jadi muncul karena adanya gap yang terlalu lebar antara idealisme dengan realitas. Idealnya begitu, kenyataannya begini. Cita-cita pengen jadi seperti rani peri yang baik hati dan cantik sekali, apa daya kenyataannya malah jadi bhayankar peri yang sirik hati lagi sakit gigi (ini film kan udah gak tayang, cari contoh lain napa, noh yang lagi tayang tuh Maria Mercedes)

Ada dua cara untuk memperkecil gap itu, satu naikkan usaha agar realitas mendekati idealisme atau kedua, turunkanlah standar idealisme. Tentu saya cari yang mudah dong, yaitu turunkan standar idealisme. Caranya adalah dengan mencari definisi lain dari frase "ibu yang baik." Oleh karena itu saya ngarang-ngarang sendiri definisi "ibu yang baik" versi saya.
Ibu yang baik menurut saya bukanlah ibu yang nananana di atas tadi.
Ibu yang baik adalah ibu yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Yeeeeiii prok ...prok...prok... Keren ya....... ngawurnya? Haha

Anggap saja semua setuju dengan definisi ini. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara untuk bisa berdamai dengan diri sendiri?
Oke, berikut saya tuliskan beberapa poin-poin agar bisa berdamai dengan diri sendiri, yang tentu saja masih lanjutan mengarang-ngarang tadi

1. Menerima dan memaafkan diri-sendiri

Bersama lahirnya seorang anak, saat itu pula lahirlah sesosok ibu. Dan sejak detik itu, si ibu harus mulai belajar menerima bahwa hidupnya sudah bukan hanya tentang dirinya. Seperti halnya bayi yang harus berjuang dan beradaptasi dengan dunia barunya, pun demikian dengan sang ibu yang harus belajar tentang hal-hal baru yang jauh sangat berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Terimalah dirimu utuh apa adanya. Bahwa kau tak sempurna. Kau tak selalu bisa tersenyum, kadang kau butuh menangis, kadang kau ingin marah saat banyak hal terjadi di luar kehendakmu. Katakan pada dirimu, Ya, aku siap menjadi ibu dengan segala manis pahit konsekuensinya. Aku menerima hari-hari kurang tidurku, berkurangnya waktu untukku sendiri, aku menerima perubahan bentuk badanku...
Mungkin aku tak langsung bisa jadi ibu jagoan, tapi aku berjanji akan terus belajar untuk memperbaiki diri. Aku memaafkan diriku untuk segala tangisan, kemarahan, keluhan, dan emosi-emosi lain yang kadang muncul begitu saja tanpa bisa kukendalikan...
(Berasa jadi Mario Teguh, udah zupeeerr belom mam..? Haha)

2. Jangan ngoyo

Tak mengapa saat kita merasa begitu lelah dan malas dengan tumpukan piring atau cucian kotor, lantai yang selalu lengket oleh sisa makanan seberapa kalipun kita telah menge-pel-nya, atau serakan mainan di sepanjang jalur perjalan kamar-dapur-ruang serbaguna-dapur-kamar.
Terimalah, nikmati dan rasakan... jangan selalu memaksakan diri untuk segera membereskannya.
Ada kalanya kita hanya perlu hening sejenak di antara hiruk pikuk kesemrawutan yang terjadi di dalam rumah (bahasa kerennya "luweh" atau "sebodo teuing" ). Tarik nafas panjaang... hembuskaann... daaan tinggal tidur. Siapa tahu saat kita tidur akan datang seekor keong mas jelmaan putri raja yang akan membereskan segala keberantakan itu.
Saat anda bangun dan menemukan kondisi rumah yang masih sama bentuknya, berarti keong mas itu hanya hadir dalam mimpi anda. Bersyukurlah karena anda masih berada di dunia nyata.

3. Ubah cara pandang

Cobalah sekali-kali katakan di depan gunungan baju yang hendak disetrika "ya ampun, ternyata keluargaku punya sangat banyak baju untuk kami pakai."
Di depan tumpukan piring kotor katakanlah "Alhamdulillah ya... hari ini perutku dan anak-anak kenyang, cukup makan, cukup minum..."
Di antara serpihan pecahan kapal katakanlah "Ini adalah salah satu bukti bahwa aku cukup berhasil mengurus anak-anakku. Ya, mereka sehat dan aktif,  karena hanya balita yang sehat yang sanggup memporakporandakan isi rumah".

Lalu tersenyumlah dan mulailah selesaikan pekerjaan itu satu per satu.

Huuuu... kirain setelah diomongin begitu, segala piring, segunung baju dan segerobak mainan itu bakal dengan sendirinya berada manis dan rapi di tempatnya masing-masing. Haha... Kecuali anda punya Jinny atau Om jin, dijamin, sampai lebaran kuda, gak akan pernah terjadi hal seperti itu.
Tapi paling tidak perasaan anda akan sedikit membaik dalam menyikapinya.

4. Jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain
"Ibu itu wow banget deh, bisa handle 9 anak tanpa ART, dan kelihatan bahagia. Gue, anak baru tiga udah keteteran manyun aja."
"Ibu yang ini juga, kerja padahal, anaknya 5 tahun udah hafal juz amma. Lah anak gue, An-Nas sama Al-Falaq aja belom lancar, padahal ibunya di rumah terus."
Terus galau lagi, merasa tak berguna, payah dan gagal jadi ibu yang baik.
Daripada seperti itu, lebih baik stop membanding-bandingkan diri-sendiri dengan orang lain. Setiap ibu unik dengan caranya masing-masing. Kalau mau membandingkan ya bandingkanlah kita saat ini dengan kita waktu dulu sebelum jadi ibu. Kita yang dulu egois, manja, boros, keras kepala, ngeselin dll bisa berubah drastis setelah jadi ibu. Yakin deh bakal takjub sendiri.

5. Apresiasi diri sendiri

Ibu, sungguh engkau berharga. Jangan menyia-nyiakan apalagi sampai mendzolimi dirimu sendiri.
Hargailah dirimu dengan memberikan makanan yang cukup dan bergizi untuk tubuhmu. Berikanlah nutrisi yang sehat untuk kelancaran fikirmu. Berikan daster yang layak untuk menunjang penampilanmu. Rawatlah kecantikan fisik pun hatimu. Luangkan sedikit waktu untuk merelaksasikan jiwa dan ragamu.
Karena engkau pantas mendapatkannya.

6. Temukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarmu

Katanya bahagia itu sederhana...
Ngemil es krim bareng anak-anak sambil tertawa-tawa, itu bahagia. Lupakan sejenak timbangan, berat badan dan diet-dietan. Ikut bermain lego atau masak-masakan sama anak-anak, itu bahagia.
Berbagi semangkuk kolak kepada tetangga depan rumah, itu bahagia.
Melebihkan sedikit upah untuk mbah pijet yang dengan terkantuk-kantuk 2.5 jam memijat tubuhmu, itu bahagia

Banyaaak sekali hal-hal yang statusnya "biasa aja" ternyata bisa memberikan efek rasa yang warbyasa.

7. Jangan fokus pada kelemahan.

Mungkin kau lemah dalam masak-memasak tapi kau unggul dalam rajut-merajut. Mungkin kau kurang pandai dalam membuat kerajianan-kerajinan tangan, tapi kau lihai dalam berjualan online. Mungkin kau tak lihai menjalankan usaha-usaha mencari tambahan penghasilan, tapi kau lebih dalam hal menyemangati orang lain.
Ya gitu deh, jangan berkubang pada kelemahanmu, kecewa berlarut-larut terhadap diri sendiri, "Duh apa banget sih gue, jadi orang kok gak ada gunanya buat orang lain." Sesedikit apapun kau merasa berguna buat orang lain,  engkau tetaplah juara di mata anak-anakmu.


8. Bersyukur.

Thank God I'm a mom. Apalah mama saat kalian tak ada Nak...
Segalak apapun engkau, tetaplah engkau yang dicari pertama kali saat mereka bangun dari tidurnya.
Sembleber apapun telor ceplok yang kau buat, mereka akan tetap memakannya disertai pujian "hmmm... masakan mama enak..."
Sesibuk apapun engkau, mereka akan selalu bersabar menunggumu luang untuk membacakan dongeng pengantar tidur mereka.

Renungkanlah itu dan berbahagialah dengan penerimaan tulus tanpa syarat oleh anak-anakmu. Peluk mereka... dan berterimakasihlah kepada-Nya atas limpahan nikmat yang bertubi-tubi yang kadang tak kau sadari.

Sebagai penutup, quote dari Jill Churchill ini manis banget meski agak gak nyambung... gapapa ya, udah pening ini saya mikirnya.
"There's no way to be a perfect mother and a million ways to be a better one."
Selamat berproses menjadi ibu yang lebih baik ya mam, bukan menjadi ibu sempurna. Berdamailah dengan dirimu dan jadilah ibu bahagia.

Kamis, 10 November 2016

Hati-hati Gangguan Psikosomatis Akibat Kurang Piknik


Syahdan, pada suatu ketika, tersebutlah seorang mamah muda cantik jelita nan bijaksana beranak tiga mendatangi sebuah Rumah Sakit hendak mengkonsultasikan keluhan yang akhir-akhir ini dirasakannya. Masuklah dia ke ruang dokter syaraf dan terjadilah percakapan berikut: "Begini Dok, sudah dua bulan ini punggung sebelah kiri saya sering tiba-tiba kesemutan terutama saat posisi cuci piring," kata mama muda tersebut. "Kesemutan itu lama-lama merambat ke kepala (pernah ngerasain kesemutan di kepala buibu?), mulut, telapak tangan, kaki, semua-semua jadi sering sekali kesemutan. Terus rasanya lemes banget Dok, gak punya energi, dada rasanya sakit, punggung berasa remuk redam setiap kali bangun tidur, sering sakit kepala, bla bla bla bla bla..... ," tambah mamud tersebut bersemangat dan sedikit mendramatisir.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter berkata "Lha jangan-jangan itu cuma psikosomatis, karena kamu stres. Sakit kok nggladrah-nggladrah gak karuan sampai mana-mana," kata dokter, galak. Anaknya berapa?" Tanya dokter lebih lanjut sambil melihat dua batuta yang mondar-mandir di ruangannya. "Tiga dok, sama yang bayi, " jawab si mamud mama imud, eh...muda.

"Wah ya wis jelas itu, jenuh...." jelas sang dokter.

Si mamud pun bengong, "Oh gitu ya Dok, bisa ya, stres bikin sakit fisik? Gak ada indikasi sakit jantung atau yang sebangsanya kan Dok?" Lanjut si mamud yang masih penasaran kok jawabannya sesederhana itu. Dokter pun menjawab dengan agak sebal "Sakit jantung apanya, wong bisa ngomong nritik-nritik, runtut,  ndangkik-ndangkik kaya gitu kok jantung. Kecuali kalau anda pas ngomong ngos-ngosan, sesak napas..."
"Duuuuh salah guwe, kebanyakan ngasih micin jadi gini nih, gak meyakinkan," batin si mamud.

"Tapi Dok, waktu periksa ke klinik dekat rumah katanya bisa jadi ada indikasi sakit jantung, terus disuruh cek EKG,"tanya si mamud masih ngeyel. "Ya itu kan dokternya cuma nurut-nurutin aja maunya kamu, mau tes EKG lagi? Saya bikinkan pengantarnya!" Jawab dokter makin galak. "Nggg....gak usah deh Dok, jadi gak ada yang bermasalah kan sama tubuh saya?" Tanya mamud lagi dengan agak nggondok. "Enggak, janganlah masih 30 tahun kok sudah sakit kaya gini.

"Jadi saya harus ngapain ya Dok?" Tanyanya si mamud mencari solusi. "Ya silakan aja, mungkin anda bisa lebih mendekatkan diri pada Allah, bermunajat, atau mungkin makan-makan, jalan-jalan, PIKNIK... atau apalah kesukaan anda," jawab dokter.

Tentu saja jawaban dokter itu membuat hati si mamud sorak sorai bergembira, bergembira semua... Yess!! PIKNIK!!! La la la ye ye ye, habis ini harus segera bikin proposal piknik atas rekomendasi dokter yang ditujukan ke si bapak. Dan si Mamud itu pun mulai mengkhayalkan liburannya dengan bahagia.

--TAMAT--

Jadi, apakah pesan moral  yang bisa diambil dari kisah based on true story di atas?
Satu. Gak usah lebay kalau memeriksakan diri ke dokter. Katakan secukupnya, tak perlu terlalu banyak bumbu. Lihat akibatnya? Penyakit kesemutan yang dikeluhkan jadi kelelep info-info tambahan yang kurang penting, jadi gak fokus.

Yang kedua, penyakit yang diakibatkan kurang piknik (baik secara langsung atau tidak) itu nyata adanya. Bukan sekedar sandiwara, bualan semata, atau meme lucu-lucuan di dunia maya.

Ya, namanya psikosomatis. Gangguan psikosomatis digunakan untuk menyatakan penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis/mental, seperti stres, cemas, kecewa, depresi, dll.
Psikosomatis ini menyebabkan rasa sakit atau gangguan pada fungsi tubuh meskipun tidak tampak kelainan pada pemeriksaan x-ray, tes darah atau lainnya.

Kalau dulu jaman SD kita hafal mati adagium" Men sana in corpore sano", di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, hari ini tampaknya pepatah itu sudah terpatahkan. Bisa dilihat dari makin banyaknya orang-orang dengan fisik yang sehat namun jiwanya sakit. Sebutlah itu koruptor, pembohong, psikopat, orang-orang stres, depresi dan teman-temannya.

Tibalah kita di jaman "Corpus sanum in mente sana" atau di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Saat ini banyak sekali macam penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh jiwa yang kurang sehat.

Ngomong-ngomong, ada lho sebuah profesi yang beresiko tinggi mengalami stres, cemas atau depresi. Yap, profesi ibu rumah tangga. Profesi adiluhung nan mulia, tanpa tanda jasa yang berbalas surga. 24 jam sehari, 7 hari  seminggu tiada henti berjibaku mengolah rasa, jiwa dan raga demi masa depan nusa dan bangsa. Hidup ibu RT! Merdeka!! (Halaheem...)
Kerempongan, kemultitaskingan serta kegiatan yang selalu sama dan berulang-ulang itu rentan memicu kejenuhan, stress, atau lebih jauh lagi depresi pada diri seorang ibu. Itulah kenapa ibu rumah tangga adalah salah satu makhluk yang paling butuh piknik di muka bumi ini.

Oleh karenanya penting sekali memastikan kesehatan jiwa seorang ibu. Se-urgen menyelamatkan Nobita dari pembullian yang dilakukan Giant dan Suneo. Sepenting perjalanan ke barat mencari kitab suci yang dilakukan Guru Tong dan keempat muridnya. Ibulah seharusnya orang pertama yang wajib diupayakan kebahagiaannya. Karena ibu yang bahagia akan membahagiakan anak-anaknya. Pun ibu yang sedih, gundah gulana biasanya juga akan menggalaukan anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Kebahagiaan seorang ibu adalah tanggung jawab semua pihak, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Dear bapak-bapak, mau kan ibu dari anak-anak anda bahagia lahir batin gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja? Naah... Salah satu caranya adalah dengan sering-seringlah mengajaknya piknik, selain transferan teratur dan berlebih tentu saja, juga kado-kado kecil berupa berlian dan intan permata. Kalau belum bisa semua ya minimal 5gram Logam Mulia tiap bulannya juga tak apa (mama matre mama matre ke laut aje).
(Mohon jangan diprotes ya, ini mencari alur biar psikosomatis bisa nyambung sama piknik sudah cukup sulit, apalah lagi ketambahan bantahan anda)

Sebagai tambahan, berikut Saya tuliskan beberapa ciri yang menandakan kapan saatnya seorang ibu perlu diajak piknik.

1. Sakit fisik yang setelah dilakukan pemeriksaan, tidak diketahui penyebabnya. Merasa lemah letih lesu lunglai tanpa sebab. Sakit kepala yang sering datang tak diundang pulang tak diantar. Siklus menstruasi yang tiba-tiba menjadi tidak teratur. Sakit di hampir semua bagian tubuh, dsb.

2. Mendadak pemarah
Ketika si mamah mulai merasa terganggu/malas/emosi saat diminta bikinin susu, gorengin nugget, bacain cerita atau bermain pasaran oleh si bocah. Ketika mama menjadi cepat marah hanya karena mendengar pertengkaran kakak adik dalam memperebutkan posisi utama tidur di sebelah mama. Ketika mamah menjadi cepat murka menghadapi hal ecek-ecek semacam susu tumpah di lantai, baju kotor bergantungan di kapstok atau kompor gas yang mendadak mati saat proses memasak baru sepertiga jalan.

Nah saat mamah mulai uring-uringan tanpa sebab yang jelas dan logis, itulah pertanda bahwa dia sudah mulai lelah jiwanya. Piknik salah satu solusinya.

3  Mendadak pelupa
Ibu adalah seseorang di rumah yang paling tahu seluk beluk segala cenceremen di rumahnya. Lebih-lebih lagi, ibu adalah spesialis pencari barang hilang. "Mah, di mana kaos kaki kakak yang batik kotak-kotak?" "Tuh di kamar depan, di dalam lemari laci ke 62 tumpukan paling kiri." Jawab si ibu, detail dan presisi.  "Mah di mana kunci motor ayah tadi ya?" "Tuh di kantong celana ayah yang kemarin bolongnya udah mama jahit." Mah, dimana es krim yang kemarin adek taroh kulkas?" "Oooh itu udah di dalam perut adek, kan kemarin udah dimakan, mau modus yaaa?" "Mah di mana presiden waktu ada demo 411 kemarin?" Eh... Maaf maaf, saya mulai ngelantur. Mungkin karena lapar.

Nah, saat ibu yang biasanya ingat segalanya mendadak berhenti sejenak di depan kulkas untuk mengingat-ingat apa yang hendak diambilnya tadi, itu adalah salah satu alarm tanda bahaya bahwa si ibu sedang butuh relaksasi.

4 Mendadak baperan
Kezel lihat suami istri posting foto romantis. Nyinyir lihat orang-orang posting foto makanan, tempat piknik, anak-anak mereka dll. Zebel sama status-status yang gak se-ide dengannya. Delcont,  unfolow, blokir. Mendadak melow tanpa alasan yang jelas. Pokoknya semua orang salah. Gak ada yang bisa mengerti aku. Aku gak bisa diginiin. Kalian semua zahaaat...

Adakah salah satu ciri di atas yang sedang anda rasakan mom? Jika ya, maka segeralah letakkan peralatan perang sehari-hari anda. Berikan jeda sesaat untuk diri anda. Relaksasikan jiwa dan pikniklah!

Sabtu, 20 Agustus 2016

Cerpen yang aslinya curcol



Adalah kegagalpulangan (lagi) bapak dari rantau yang mengawali rangkaian cerita ini. Karena gagal pulang itulah si mbarep jadi bete, cemberut dan uring-uringan sepanjang hari. Siapa lagi yang ketempuhan kalau bukan maknya. Memiliki hati selembut peri, tak tahanlah emak melihat gundah gulana di mata anaknya. Untuk mengobati kekecewaan, dipenuhilah cita-cita mendadak si anak yang pengen pergi ke rumah utinya naik kereta

Dan cerita pun dimulai.....jreng jreeeng....
M: "Oke, keretanya berangkat jam setengah 6 kurang 5 menit. Jadi kita dari rumah jam 4, biar mama bisa sekalian urus reskedul tiket kereta ayah, " Emak ketok palu
Fakta di lapangan: gubrak gubruk gubrak gubruk, bangunin bocah, mandiin, nyiapin makan, packing baju, endebra endebre, nanana ninini. Yak slesai. Setengah 5 baru bisa panggil taksi ke rumah.
*Alibi: namanya juga bawa bocah. Rempong cynt...

Bete 1:
Qadarullah dapat supir taksi yang sepertinya mengidap gangguan obsesif kompulsif terhadap garuk-garuk. Garuk teruuussss maaang....sepanjang jalan kenangan. Diawali dari garuk-garuk lengan gruk..gruk....grukk... lamaaa banget. Berlanjut ke garuk kepala. Brul...brul...brul... Serpihan salju beterbangan dalam kabin. Belom puas juga, pundak yang kini jadi sasaran garukan tangannya. Sruk...sruk...sruuukkk...
Si emak mulai bete "Garuk-garuk mulu, ngantuk apa pak?" Butiran ketombe rupanya sedikit mendistorsi konektivitas otak si emak hingga gagal menghubungkan antara garuk dan ngantuk. "Nngg....Nggak kok buk" jawab pak supir.
Dalam hati emak teriak, Apaaa??? Buuuk?? Mbak dong, bak buk bak buk. Sambil menggerutu,  emak mati-matian menahan diri untuk tidak berkata "Wis,  Saya turun sini aja pak, pinggirin mobilnya! Garuk-garuk, ketombe sama buk nya itu bikin saya ilfil!" *banting setir

Bete 2:
Singkat cerita taksi sampai di stasiun pukul 16.50. Emak beserta 3 anaknya cuss ke loket pembelian tiket kereta, daaan... patah hati saat itu juga melihat antrian manusia bak semut mengerubuti remah biskuit bayi. (Jadi ya, patah hati bukan melulu punya para gagal-muv-on-er).
Mendadak vertigo emak kambuh. Ditambah minus silinder yang diderita matanya membuatnya makin nggak fokus melihat pengumuman availabilitas tiket yang ditempel di dinding loket pelayanan. Bermodalkan tanya-tanya plus akting tampang bingung (atau bego?) sekaligus memelas ke sesama pengantri akhirnya dia berhasil ndusel-ndusel hingga depan loket dan memperoleh 4 tiket kereta tepat pukul 17.15. *katakan: Berhasil! Berhasil! Berhasil! Horeee!!!
Yo rasah njuk terlalu menghayati tokoh Dora ngono to para pembaca yang budiman.

10 menit tersisa. Tergopoh-gopoh rombongan kecil itu berlari masuk stasiun. "Ayo buruan, keretanya udah mau datang," teriak si emak sambil terus berlari kecil. Lupa sejenak bahwa dia membawa balita. Tersadar kembali saat si bocah teriak hendak menangis "Mamah tungguin, Bella jangan ditinggalin" (pantesan Allah menggambarkan kelak saat kiamat ibu-ibu akan melupakan anak-anak mereka, lha wong baru mau ditinggal sepur aja udah kaya gitu)

Bete 3:
Tak sampai 5 menit menunggu, kereta nan gagah itu datang. Si emak menggandeng kedua anaknya dengan tangan kanan dan kirinya sambil menggendong bayi menaiki kereta yang alhamdulillah yaaa... puenuh banget. Berjalan antar gerbong sambil tengok kesana kemari dan tak menemukan kursi kosong, emak pun siap dengan situasi terburuk gelar lesehan dekat pintu.
Hamdalah....orang-orang baik selalu saja ada. Tampaknya sih karena faktor iba melihat kerendelan emak tersebut.

Seorang bapak berdiri dan menawarkan tempat duduknya. Si emak mengucapkan terimakasih sambil mendudukkan kedua bocahnya di situ. "Duduk sini, anteng, jangan rusuh," pesan emak ke kedua anaknya. Diikuti seorang ibu yang juga berdiri dan menawarkan tempat duduknya. Basa-basi emak menolak tawaran itu. Tapi berhubung si ibu udah kadung berdiri dan kursinya sayang banget kalo gak ditempati, akhirnya emak pun dengan bahagiaduduk di kursi itu. Huuuu mari kita sorakin. Tapi gak sampe 15 menit kok. Sueeerr!! Soalnya emak berasa kaya memanfaatkan kerendelan bawa anak demi kepentingan diri-sendiri dengan mengorbankan hak orang lain (maklum, dulu nilai PMP PSPB emak di kisaran  8-9 terus).
Jadi akhirnya emak pun berdiri dan mempersilakan ibu tadi untuk duduk kembali.

Bete 4:
Ternyata kerusuhan belum berakhir.
Selama di kereta entah kenapa kedua bocah batuta itu berulah sepanjang jalan. Mulai dari cilukba an antar kursi. Loncat-loncat, tabok-tabokan, jawil-jawilan, jegal-jegalan yang berujung pada jerit-jerit, nangis-nangis dan saling wadul. Sekali lagi emak mati-matian nahan emosi buat mencegah momster di tubuhnya keluar. Miapaaah?? Demi pencitraan sebagai ibu peri nan baik hati to yaa, apalagiii??? Coba kalo satu gerbong itu emak booking semua hingga hanya ada dia dan anak-anaknya. Niscaya emak bakal turut serta terjun ke dalam medan pertempuran kaplok-kaplokan itu.

Di tengah tatap mata iba dan 'apa banget sih ini' para penumpang, tetiba si balita berbisik di kuping emak "Bella.... kebelet pipis niih." Duuuhh!! Emak pun kesel. Ni anak hobi banget kebelet pipis di waktu dan tempat yang gak tepat ya. "Udah tahan dulu setengah jam lagi, nanti pipis di rumah," jawab emak. Si anak nurut. Sayangnya dia nahan pipisnya tetep sambil loncat-loncat, ketambahan pula sama acara gangguin adik bayinya di gendongan. Towel2, ciwel2, unyel2 de el el.
Emak murka, "Udah deh! jangan digangguin adeknya."
Dimarahin begitu si anak merajuk sambil mengancam "Nanti Bella ngompol di sini lho kalo mamah gak bolehin Bella pegang Brilly." Si emak pun K.O dengan sukses.

Hamdalah lagi, perjalanan itu cuma satu jam. Entah apa jadinya kalo lama perjalanan dikalikan 8 atau 12. Bisa masuk angin akut emak.

Setengah jam kemudian, banyak kursi yang mulai ditinggalkan penumpangnya. Pundak punggung emak pun sudah mulai protes digantungin beban 7.5 kilo sambil berdiri. "Lumayaaan bisa ngeluk boyok 15 menit," begitu pikir emak. Sayangnya seperti peribahasa jauh panggang dari api. Apa pasal? Yaak, si bayi ogah diajakin duduk. Tiap pantat nempel kursi sebentar, si bayi mulai merengek-rengek minta berdiri. Si emak ngalah, berdiri lagi dan mengorbankan encok di pinggangnya yang mengancam untuk kambuh. Tentu saja dengan tetap memasang muka cool, sok ceria dan sok bijak.
 *Pencitraan ini... janganlah cepat berlaa..luu (gak usah terlalu dihayati lagunya... Hayati kan udah lel... halaaah)

Panjang bener si ceritanya. Baru 1 jam naik prameks. Gimana kalo 10jam naik jokotingkir, bisa-bisa kalo dijadiin novel ngalahin jumlah novelnya Tere Liye.

Yaudah deh, berhubung saya udah capek ngetiknya (pake hp bo', bukan leptop), mari kita tamatkan saja cerpen ini.

Akhirnya kamipun (kami?? Jadi ini fiksi atau nyata?? Cerpen atau curcol??) sampai di rumah Uti dengan sehat selamat dan sentausa tiada kurang satu apapun tepat pukul 18.45.

Surprais Utiii.... dan Uti pun geleng-geleng kepala dengan keniatan emak dan ketiga anaknya.

Tarik nafaaaass......lepaaaasss....
Huufffffttttt.........


Jumat, 15 April 2016

Saat Si Sulung Kenal Eyang Google


Akhir2 ini Berry (6th) sulung saya lagi hobiii banget sama yang namanya gugling. Tiada hari tanpa gugling. Mungkin hasil dari ngeliat ibunya yang bentar2 nanya ke google, dari resep kueh sampe cara mengatasi batuk pilek pada bayi.

Alhasil munculah keyword2 ajaib di chrome hp saya. Misal: pesawat tempur lego yang ada sayap atasnya dua...klik masuk...klik gambar trus diliatin gambarnya atu2. Ada lagi, kendaraan angkatan darat laut udara lego yang kecil (duowone rek, opo ra mumet 'yang gugel). Pokoknya segala hal tentang perlegoan, dengan keyword yang kaya ular naga panjangnya. Pernah dikasih tau si mama "Gak gitu juga Ber, masukin kata kuncinya aja. Gugel kan bukan manusia. Dia gak ngerti maksudmu apa" Tapi ya namanya bocah, gak afdol kalo gak ngeyel.

Dan pagi ini saya terpaksa ngakak dengan keyword yang dituliskannya  'cara orang biasa menjadi elsa'. Alamaaak. Dan dengan bangga ditunjukkannya ke si mama "gini lho mah caranya kalo bella mau jadi elsa"
Terdorong dari rasa pedulinya sama adeknya yang pas saya tanya cita2nya apa, dia jawab 'mau jadi elsa', zzzzz....(ini frozen emang ratjun bener buat anak2). Si mama pun setengah mati nahan hasrat mau ngakak demi menghargai upaya yang dilakukan si kakak buat nyenengin adeknya.

Oke, selamat datang di fase di mana posisi ibu sebagai si serba tahu resmi tergantikan oleh eyang gugel. Yeaah. Siap2 lakukan pengawasan melekat terhadap hal2 ajaib yang bakal ditanyakan ke si eyang.
Aahh... mendidik anak jaman sekarang sungguh makin berat jendral!!

Bergantung Pada Suami, Ada yang Salah??



Apa sih rasanya kalo ada orang yg kenal cuma sebatas nge add fren setelah baca status kita di fb, moro2 nge chat spt itu?
Pengen sih dilanjutin panjang lebar gitu, biar seru,  tapi katanya menahan diri dari kesia2an selalu lebih baik kan ya? Jadi ya sudah lah, tahan hawa nafsumu buat muni2.

Btw saya kok jadi bete dengan kalimat, "biar gak terlalu bergantung pada suami" ya...
Adakah yang salah dengan "istri yang bergantung pada suaminya"? (Gak usah komen 'satu2nya tempat bergantung itu Gusti Allah' ya, di luar konteks)

Kesannya bergantung pada suami itu adalah perbuatan yang merendahkan harga diri para istri. Terlalu bergantung itu yang kaya apa? Sejauh mana?
Apakah kalo istri beli lipstik, bedak, gamis, atau kerudung pake uang suami, artinya terlalu bergantung pada suami? Sedangkan kalo beli barang2 itu pake uang sendiri lebih tidak bergantung? lebih bermartabat?
Apa istri2 yang gak bekerja, gak menghasilkan uang itu kedudukannya jadi lebih gak keren dibandingkan istri2 yang kerja atau menghasilkan uang?

Seolah sudah jadi pemikiran yang mendarah daging bahwa istri  selayaknya harus bisa menghasilkan uang sendiri atau mandiri secara finansial. Biar gak ngrepotin suami, biar gak bergantung sama suami, biar gak 'bisanya cuma minta', biar gak disia-sia, biar gak inferior, biar posisi tawarnya gak rendah dan biar2 yang lain.

Bukankah suami itu ada, salah satunya buat 'digantungi'? Lewat kewajiban yang dibebankan padanya untuk menafkahi anak istri. Jadi, suami itu udah didesain dari sononya buat 'direpotin', buat 'digantungin' anak istri. Nah... lipstik, bedak, gamis dkk itu termasuk salah satu wujud menafkahi, memenuhi kebutuhan istri. Syukur2 kalo istri bisa beli itu semua pake uang sendiri. Itu namanya bonuus.
Lagian sebagian besar suami biasanya lebih senang saat 'digantungi' sama anak istri. Semacam ada pengakuan terhadap eksistensinya, bahwa dia dibutuhkan.
Kalo diberi nafkah dianggap sebagai bentuk ketergantungan istri terhadap suami, lha trus apa gunanya nikah?
Bukankan setelah menikah tak ada aku tak ada kamu melainkan kami? Jadi seharusnya gak ada yang ngrepoti dan direpoti. Adanya saling melengkapi.

Bukankah pernikahan bukan ajang pertunjukan superioritas vs inferioritas suami istri? Pernikahan ada untuk saling melengkapi, menutupi kekurangan satu sama lain.
Kalo dalam bahasa jawa, pasangan itu disebut Garwa: Sigaraning Nyawa (Separuh Aku kalo kata kang ariel). Jadi dua2nya saling melengkapi biar bisa utuh.  Suami berkewajiban memberi nafkah istri, selanjutnya istri berkewajiban menjaga dan mengelola harta sang suami. Ituu...
Kalo dua2 nya sudah melakukan kewajibannya, niscaya mereka akan mengerti apa artinya kenyamanan , kesempurnaan cintaaa..

Note: tulisan ini gak membahas tentang istri2 yang mau gak mau tetap harus  bekerja ya. Entah buat bantu perekonomian keluarga atau terpaksa jadi tulang punggung keluarga atau karena suami yang emang gak bisa digantungi atau karena hal2 lain yang semacamnya


Minggu, 10 April 2016

Kenapa Sih Gak Pakai ART?


Banyak saudara dan kawan yang melontarkan pertanyaan semacam itu ke saya. Ada pula yang masih ditambah "gak usah sayang-sayang amat sama duit" (nasib punya raut muka jutek, njengkelin, antagonis, tinggi hati, pelit dan medit).
Anggaplah mereka bertanya atas dasar kasih sayang dan rasa iba melihat kerempongan mamah mud136a (ngaku-ngaku) beranak tiga, tanpa art dan pejuang ldr-an yang ditengokin sebulan sekali (curcol detected). Jadi saya ya cukup nyengir-nyengir badak aja menjawabnya.

Sebenarnya situasi seperti ini bukanlah salah siapa-siapa. Bukan juga salah cinta dan kawan-kawannya. Adalah lebih karena keribetan saya sendirilah, drama ketiadaan ART berawal.  Yaa... alasan utama daripada tidak menggunaken ART adalah karena saya-nya yang kurang merasa mampu menjadi nyonyah. Alasan yang wagu, terkesan dibuat-buat dan menyusahkan diri sendiri memang. Mau bagaimana, dari sananya saya gak terlalu hobi nyuruh-nyuruh (kecuali nyuruh-nyuruh anak-anak), pekewuh saat ngingetin hal-hal yang kurang pas, dan malas meluruskan banyak hal seperti yang saya mau. Ditambah kehadiran orang asing yang sering bikin saya mati gaya di rumah sendiri dan terpaksa melakukan pencitraan habis-habisan, seperti berpura-pura menjadi ibu bidadari nan baik hati yang gak hobby marah-marah  hingga berusaha bobok siang syantik tanpa ngorok. Sungguh ibu bidadari lelah bang...
Pernah beberapa kali punya ART dari yang bibi-bibi sampai mbak-mbak remaja alay yang hobbynya pegang hp. Dan hasilnya... ya itu tadi. Cuma bisa grundelan dan menggerutu di belakang karena pekerjaan mereka gak sesuai dengan SOP yang saya inginkan atau biasa saya lakukan. Mau megingatkan  atau membenarkan juga gak enak gitu. Rempong deh eik.
Alhasil karena sudah kebayang bakal seperti itu lagi maka saya putuskan untuk berusaha gak pakai jasa ART. Daripada cuma nambahin grundelan saya yang ujung-ujungnya bikin stres, baper dan gak bahagia sendiri. Yang ada tambah nge-hang lah ibu bidadari.

Ngomong-ngomong, tulisan ini tidak sedang membahas benar salah atau membandingkan mana yang lebih baik lho ya. Ibu-ibu kan bawaannya suka baper kronis. Isi tulisannya apa komentarnya kemana. Yang penting nyolot duluan, nyambung belakangan. Tulisan ini cuma membahas tentang preferensi. Pilihan. Kesukaan. Lebih khusus lagi pilihan saya, bukan pilihan ibu-ibu lain. Jadi gak ada bebar gak ada salah. Gak ada lebih baik gak ada lebih buruk.
Saya lebih suka balon ungu dibandingkan balon ijo, bukan berarti yang suka balon ijo jadi lebih  cemen, nista atau gak mulia karena gak suka balon ungu kan ya? Bukan berarti juga saya nyuruh penyuka balon-balon ijo itu untuk beralih haluan suka balon ungu semua. Soalnya sempat ada yang berkomentar, "Trus kalau gak ada ART siapa yang ngurusin anak-anak saya mba? Saya kan kerja, gak kaya situ di rumah doang." Waduh, lha ya wanda to mba. Tau gak wanda? Waaa nda tau. Haha. Emang saya nyuruh situ buat gak pakai ART apa?
Own battle-own battle aja, begitu kata teman-teman di grup whatsap SMA. Battle saya saat ini lagi tidak membutuhkan jasa ART, semua masih bisa saya handle sendiri. Pasti berbeda dengan battlenya ibu-ibu lain dong ya. Ibu yang bekerja misalnya, atau ibu dari anak berkebutuhan khusus, atau sama-sama ibu rumah tangga tapi punya kesibukan luar biasa, atau ibu-ibu wirausaha atau ibu-ibu yang lain. Banyak kondisi, banyak warna. Gak perlulah disama-samakan jadi sewarna. Jadi kurang harmonis nantinya, gak indah. Emang belum cukup puas ya terjun di kancah perang abadi IRT vs Working mom, Susu formula vs ASI, lahiran normal vs secar dan yang sebangsanya itu? Masih mau ditambahi mulia mana ibu yang pakai ART atau tidak? Duh buuk, so wasting time. Buang-buang energi. Simpelin aja say, butuh ART ya pakailah jasanya. Yang sudah ketemu ART yang pas di hati ya sayangilah mereka, dieman-eman bahasa jawanya, karena cari ART itu seperti cari jodoh, cocok-cocokan.
Yang gak pakai ART ya biasa aja. Gak perlu sok jumawa, "guwe lho, anak tiga gak pakai ART, situ anak baru satu asistennya dua." Wiiiisss ndak penting sekali itu.

Sebenarnya buat yang menjalankan hidup tanpa ART, gak teramat sangat rempong seperti yang terlihat atau terbayang sih. Kadang memang ada saat-saat yang lumayan menguras emosi, tapi tidak setiap waktu juga. Awal-awal punya bayi, malam-malam yang hanya bisa tidur 2-3jam itu lumayan bikin emosi, sakit kepala yang entah kenapa suka datang di pagi buta itu juga bikin sensi. Kerapihan rumah yang hanya bertahan paling lama 10 menit kadang juga bikin keki. Mandi yang hanya bisa secepat bebek, gimanalah mau luluran atau latihan karaoke di kamar mandi dengan tenang, sementara si bocah menunggu dengan cucuran air mata di depan pintu.  Dan banyak hal-hal lain yang kadang bikin mama berubah jadi momster. Tapi secara keseluruhan everything is un (der) control, eh... (meski sambil tertatih-tatih dan terbata-bata).

Ini ada beberapa tips ala saya yang lumayan bisa sedikit meringankan kerempongan mengurus rumah beserta bocah di dalamnya tanpa ART

1. Subkontrakkan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya bisa di-subkon-kan ke pihak lain. Misal: memasak bisa disubkonkan ke warung sebelah rumah (maksudnya beli matengan aja buk),  nyuci nyetrika bisa diberikan ke laundry depan rumah, antar jemput sekolah bisa diberikan ke jasa antar jemput langganan. Jangan lupa, niatkan untuk membuka jalan rejeki pihak-pihak yang bersangkutan, siapa tau hal-hal kecil macam ini yang kelak akan mempermudah kita meraih surga-Nya

2. Turunkan standar kedisiplinan tentang kebersihan dan kerapihan rumah. Ini hal yang cukup berat dilakukan oleh mama-mama pengidap OCD.
Saat rumah berantakan penuh mainan, cukup hela nafas, ambil sapu dan sapulah segala macem printilan dan cenceremen di lantai ke dalam serok sampah. Niscaya anak-anak akan berebut menyelamatkan mainannya agar tak berakhir di tempat sampah.

3. Skip pekerjaan2 tak penting dalam hidup seperti SETRIKA. Bukankah kata orang "life is too short to iron your underpants" kan ya?
(Bilang aja males)

4. Pastikan persediaan indomih, coklat dan es krim mencukupi. Karena hanya mereka yang memahami kegundahan ibu-ibu yang jungkir balik menjaga kestabilan rumah setiap harinya.

5. Pastikan di dalam kotak obat selalu tersedia koyo, balsem, dan bodrex. Karena merekalah pengganti tangan suami untuk mengurangi sakit kepala dan pegal-pegal di pundak, lutut serta kaki.

6. Selalu aktifkan whatsap dan bbm sebagai ajang untuk menyalurkan emosi (baca:marah-marah) kepada bapaknya bocah sekalipun hanya akan dijawab standar dengan 'sabar ma, badai pasti berlalu'

7. Jangan terlalu memaksakan diri jadi ibu sempurna. Terlalu antipati sama pospak, bubur bayi instan, frozenfood pabrikan atau susu formula. Dijamin stresss!! Belajarlah jadi ibu yang bijaksana.

8. Sekali dua gak masalah nyampah di wall fb sendiri (jangan wallnya orang). Asal jangan keseringan. Terlalu sering mengeluh dan merasa paling rempong sedunia itu tidak bagus untuk kesehatan jiwa.

9. Upayakan selalu ada piknik time dan pijet time atau metime,  karena mama juga (cuma) manusia, punya rasa punya hati... *nyanyi. Dan ingat, mama bukan wonderwoman- yang hatinya terbuat dari besi dan baja- ya. Boleh banget kalau sesekali butuh meneteskan air mata dan bahu untuk bersandar.

10. Dan tips terakhir ini lah kuncinya. Selalu katakan ke diri sendiri bahwa jadi ibu itu anugrah, dan punya anak itu berkah.  Lihat wajah polos mereka. Rasakan dan resapi celoteh dan keceriaan mereka. Hanya soal waktu kok.
Ada berapa banyak pasangan di luar sana yang sangat menginginkan bisa merasakan kerempongan semacam ini. Jadi nikmat manalagi yg akan kau dustakan.

Oke. Demikian tulisan panjang lebar  ini dibuat sekedar untuk menyemangati dan menjaga kewarasan diri. Setiap ibu akan menemukan "ritme" dan "cara"nya masing2-masing dalam menghadapi medan pertempurannya. Temukan dan nikmatilah!!

Sabtu, 02 April 2016

Makhluk Multitasking Itu Bernama Ibu



Masak sambil gendong bayi, sambil nyusuin, sambil apdet status bbm.... bisaaaa

Telponan sambil main candy crush saga sambil nonton korea (sok2an drakor, asline uttaran).....keciiiilll

Rebus air buat mandi bayi, sementara nunggu air panas beresin tempat tidur yg abis dipake perang2an duo balita, sambil watsapan ngomongin harga cabe, rio haryanto, sby vs jokowi hingga demo supir taksi.... sangguup

Kadang fisiknya masih di depan kaca -sambil nyisir rambut yg udah 2 hari gak disisir- tapi pikiran sudah jauh mengembara meninggalkan si raga....
Habis ini masak nasi, ngucekin popok mumpung bayi tidur, nyapu ngepel lantai, jangan lupa sms tukang galon buat anterin galon, beli pulsa listrik, jemur dan lipet cucian, benerin genteng bocor, nyari kayu bakar di hutan, zzzzz.....  dst dst dst.

Saking banyaknya tab pikiran yg dibuka, banyak hal yang menjadi tak optimal. Pas masak nasi, lupa rice cooker gak dicetekin. Ketauannya waktu mau nyuapin bocah, buka magic com, dan menemukan beras yang belom berubah wujud.
Pas itu pula pas bayi udah bangun dari tidur setengah jamnya dan mulai owek2 manja . Diiringi backsound "mah udah laper banget nih", si mama buru2 ke kamar buat ambil bayi  sambil bilang "tunggu bentar lagi yaa"....
Karena buru2 kaki tak sengaja kecocok printilan mainan yang terserak di lantai. Terpaksa berhenti sejenak buat..... marah2 duluk. Wkwk
Dan Semua itu terjadi di satu waktu, bersatu padu menghasilkan orkestra yang sungguh syahdu *mode lebay diaktifkan.....
Itulah sebabnya ibu2 seharusnya minum aqua 2x lebih banyak dari bapak2 biar gak kaya si cinta yang gagal ngenalin rangga  di bandara setelah 14 tahun penantian panjangnya karna lupa minum aqua (bukan iklan)

Kemultitaskingan ibu itu gawan bayi (dari sononya-terkait dengan struktur otak) dan merupakan salah satu kelebihan wanita. Hamdalah dikasih anugrah berupa kemampuan multitasking oleh Gusti Allah. Apa jadinya kalo ibu2 gak punya kemampuan itu? Niscaya 24 jam sehari takkan cukup untuk menyelesaikan kerjaan rumah tangga yang segambreng tanpa ujung pangkal itu.
Meski begitu, multitasking yang terus2an tanpa jeda rentan menghadirkan stress tingkat dewa. Komputer aja perlu direfresh, sama halnya dengan multitasking mom, perlu direfresh juga biar gak gampang eror. Salah satu cara merefreshnya adalah dengan mengoptimalkan peran para bapak, selain piknik dan selfi tentu saja.

Bersabarlah wahai bapak saat malam tiba mendadak istrimu bete dan uring2an. Karena energinya sudah terkuras habis untuk hal2 runsing seperti cerita di atas. Tinggallah lelah yang tersisa. Cukup sediakan telinga untuk mendengar keluh kesahnya dengan sabar. Sediakan bahu lebarmu untuk bersandar. Berilah dia waktu jeda sesaat untuk rehat. Sekali2 kasih surprais istri dengan bikinin indomih telor pake cengek sama es milo, atau beri dia waktu meluruskan punggung sambil mbaca novel kesukaannya dengan tenang tanpa rengekan balita2 itu. Sungguh itu hadiah yang lebih berharga dibanding dikasih  LM 5 gram (bo'ooong)

Buat bapak2 yg ldr an, cobalah jangan hanya nanyain kabar anak2 tok, tanyakan juga kabar ibunya anak2, masih 'waras' kah mah? Ciptakanlah pembicaraan yang berkualitas setelah seharian ia hanya bisa ngobrol dengan balita. Kalo pas pulang, sesekali gantikanlah tugasnya ngurus urusan rumah tangga. Sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat bisa menjadikan harinya bersemangat. Biarkan ia tidur sedikit lebih lama, atau beri kesempatan dia untuk memainkan gitar berdebunya dan meluapkan emosinya melalui nyanyian sumbangnya. *curcol ni yee

Jadi para bapak, bantulah para ibu untuk bisa bermultitasking dengan sehat demi kesehatan jiwa istri,  karena sungguh multitasking itu sangat menguras energi dan mengaduk2 emosi



Minggu, 13 Maret 2016

Niat Baik yang Bertepuk Sebelah Tangan, Balada Sapu Ijuk

Pernah ngerasa kecewa gak saat niat baik kita ternyata bertepuk sebelah tangan?

Ini cerita tentang kemarin malam. Saat kami sedang makan di alun2 kota, datanglah seorang bapak sepuh dengan membawa beberapa biji sapu ijuk dan sulak. Si bapak menawarkan dagangannya ke pengunjung warung. Sepiii....gak ada yang tertarik.  Awalnya sempet ragu-ragu, beli gak ya secara lagi gak butuh amat barang-barang itu. Lagian ntar dikira sok baek sama orang-orang (iya saya mah orangnya ge-er an). Tapi akhirnya saya putuskan beli aja deh, kasihan si bapak udah sepuh, jualan malem-malem pula. Lagian bapaknya murah senyum, kayanya ramah ni.
Detik si bapak mau pergi dari warung saya panggil "Paak!" Si bapak gak denger, sekali lagi "Paak!" belom nengok juga (terlalu lembut mungkin suara saya) akhirnya para pengunjung warung berinisiatip membantu manggil si bapak "Paaaakkk... paaakk!!!" kompak bak paduan suara. *Berasa pengen ambil baskom buat ngumpetin muka.
"Pak sapune setunggal, pinten?" tanya saya. Jawab si bapak, "Monggo bu (kenapa gak mbak aja sih, merusak mood ini) 30ribu mawon, niki sae sapune."

Mendadak rasa simpati saya sama si bapak penjual musnah. Oke deh pak, saya tak pura-pura bego gak bisa bedain sapu 10ribuan sama 30ribu. Saya kasih 50ribu ke si bapak dan lanjutin makan. Si bapak lalu nanya "Niki susuk bu?" (belom puas nuthuknya pak??), Saya jawab dengan anyel "Nggih pak, susuk 20ewu" sambil mbatin nek njenengan jujur sakjane mbotensah susuk pak.
Sampe rumah saya pake sapu yang katanya sae itu buat nyapu daaan taraaaaa..... mbrodooool semua itu ijuknya.
Paak, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat... (bacanya sambil bayangin yang ngomong itu cinta ke rangga yaah... 😗 )
---the end----

Pasti deh pastiiii adaaa aja yang bakal komen nyolot "Udah iklasin aja, gak seberapa 30ribu ini, idep-idep nolongin bapaknya sapa tau bapaknya bla bla bla bla......." atau "Kalo emang niat nolong mah nolong ajaa gak usah pamrih, gak iklas malah gak dapet apa-apa." Atau "Jangan suuzon, sapa tau bapaknya lagi kesulitan bla bla bla bla..." Atau "Masih mending jualan, daripada ngemis." De el el, de es be e te ce. Hahahaha.... karepmu.

Menurut saya lho ya, ini bukan tentang besarnya nilai uang. Bukan tentang iklas gak iklas. Ini adalah tentang rasa simpati yang terkhianati, juga apresiasi yang tercederai. Eaaa...uopooh to iki.
Rasanya geloo gitu saat niat baik kita hanya dihargai dengan sejumlah materi yang gak seberapa. Saat kejujuran hanya seharga beberapa puluh ribu.
Rasanya kezel gitu kalo dimodusin atau dimanfaatin.
Mereka memanfaatkan kondisi kemelasan mereka untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dan itu bukan cara yang elegan, bukan cara yang berkah. Yakin gologokin gak akan bertahan lama.
Beda lho ya rasanya ngasih sedekah langsung 20ribu sama beli sapu yang kita tau harganya 10ribu tapi di-marked-up jadi 30ribu. Sekalipun nilainya sama, niatnya sama tapi rasanya beda. Yang satu rasanya bahagia yang satu rasanya nelangsa. Haha. Ya iyalah gimana sih rasanya dibohongi.

Dan hal-hal seperti ini berkali-kali saya alamin (nasib jadi mamah cantik baik hati bak ibu peri yang mudah diboongi). Kalo istilah jowone "wis ditulung malah menthung", dibaikin malah manfaatin. Dari mulai ditipu tukang mesin cuci, ditipu tukang taman, diutangin gak dibayar  dan masih banyak yang lain. Dan biasanya orang-orang ini terlihat baik, ramah, bijak, suka menolong dan tidak sombong. Ya begitulah, memang kita gak bisa menilai orang dari tingkat kemelasan nya saja.

Yak jadi apa inti cerita ini? Apalagi kalo bukan curcoooolll. Haha. Bahwa kita tetep harus hati-hati mau semeyakinkan apapun penampakan dan ucapan seseorang . Bahwa niat baik itu tak selalu berbalas manis. Tapi jangan sampe ketakmanisan itu bikin kita kapok buat berniat baik karna katanya bahkan baru niat aja udah diitung pahalanya kan ya?  ðŸ˜‡