Rabu, 07 Juni 2017

Saat Anakmu 'Cuma' Anak Biasa

Orangtua mana sih yang tak bangga ketika melihat anak-anaknya berani tampil di panggung, di muka umum? Disaksikan  banyak mata dengan tatapan kagum. Berprestasi, pecaya diri, pintar menyanyi, pandai menari?

Saya menyaksikannya kemarin, saat datang di acara parenting yang diadakan sekolahnya anak-anak. Begitu terasa pancaran rasa bahagia, bangga, dan haru dari wali-wali murid yang putra putrinya tampil di depan tamu undangan. Anak-anak itu begitu lucu dan menyenangkan. Hafalan surat pendek, menari pinguin, menyanyi dsb. Sungguh saya turut merasakan rasa bangga dan haru itu.

Namun ada sudut gelap hati saya yang mendadak merasa kecewa ketika menengok ke anak sendiri. Kok dia gak ikut tampil ya? Bukan termasuk anak-anak lucu menggemaskan di depan panggung itu...
Dan lagi-lagi saya melakukan kesalahan fatal yang jamak dilakukan kebanyakan orangtua dengan melontarkan pertanyaan "Kamu kok gak ikut nari atau nyanyi di depan? Tuh lihat, si ini aja berani. Emang kamu gak diajari nari seperti itu?" Bla...bla...bla...bla...
Aah... saya sangat menyesal saat mengingatnya.

Saya hafal betul rasanya dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Terluka, tersinggung, useless, tak berharga,  inferior, aku mah apa atuh hanya setitik debu di tengah gersangnya padang sahara, hanya hamba sahaya penuh dosa yang mengemis ampunan Tuhannya. Halah.

Kadang tanpa sadar, kita (saya maksudnya) sering tak sengaja membuat luka di batin anak-anak kita. Luka yang secara fisik tak kentara tapi merapuhkan jiwa. Meninggalkan sosok-sosok dengan luka yang menganga-nganga. Kadang luka hati itu bahkan tak sembuh, terbawa hingga mereka dewasa. Dan biasanya orang-orang dewasa yang membawa luka masa kecilnya akan cenderung melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka kelak. Menjadikan lingkaran setan yang sulit untuk diputus.

Sekarang coba jika situasinya dibalik, saat anak-anak kita membandingkan mamanya dengan mama teman-temannya.
"Mama kok gak pinter masak kaya mama temenku sih? Masakan mama gak seenak masakan mama temenku,"
"Ibu kok sukanya marah-marah terus, gak seperti ibunya si ini, baik banget?"
"Bunda kok gendut sih, bundanya ini lho, gak gendut, cantik banget"
(Dan mama pun murkaaa... Awas mama galak!! Kabuuurrr...!!!)
Gimana rasanya Mam?
Ya seperti itu jugalah yang dirasakan anak-anak kita. Terluka harga dirinya.

Ada beberapa yang kemudian mengemukakan alasan-alasan, pembelaan diri, pembenaran atau apalah namanya, 

"Itu kan demi kebaikan anak-anak, buat masa depan mereka"

"Gakpapa, biar bocahnya jadi ketularan pede kaya teman-temannya,"

"Buat melecut si anak aja, biar dia bisa berprestasi seperti kawan-kawannya,
Dan sebagainya

Sungguhkah itu yang akan terjadi? Mereka jadi lebih bersemangat, terlecut untuk lebih percaya diri, lebih berani, lebih berprestasi? Bisa jadi iya untuk sementara. Keberhasilan sesaat nan semu. Hanya untuk memenuhi tuntutan orangtuanya. Hanya agar ia 'diakui' dan 'dipandang' oleh orangtuanya. Hanya agar ia bisa menyenangkan orangtuanya. Hanya karena ia takut mengecewakan orangtuanya. Tanpa ada rasa bahagia dalam menjalani prosesnya. Dan itu sangat m e n y e d i h k a n...

Sebegitu pentingnyakah untuk menjadikan anak-anak kita 'berprestasi', juara, populer, terbaik, number one, terdepan, hingga kita merasa perlu melecut-lecut mereka dengan membandingkan prestasi yang bisa diraih kawan-kawannya yang tak bisa diraihnya? Hingga kadang kita melupakan hal yang justru paling penting dari itu semua, "Apakah mereka bahagia?" "Apakah itu keinginan mereka?"

Kadang kita, orangtua terlalu menuntut agar anak-anak bisa begini begitu hanya demi memuaskan ambisi kita, tentu saja dengan dalih "Semua ini demi masa depanmu Nak..."

Kalau anak-anak kita 'cuma' jadi anak yang 'biasa-biasa' saja,
so what...? 

Tak juara satu di kelasnya. Tak ikut lomba siswa teladan, tak pandai menyanyi atau menari, tak ikut kompetisi membuat robot, tak nyaman tampil di panggung, tak turut serta dalam olimpiade matematika atau sains dan tak tak yang lain.

Apakah mereka jadi tak istimewa, karena kita anggap tak bisa membanggakan orang tuanya di mata dunia?

Lihat deh Mam, cinta paling tulus adalah cintanya anak-anak untuk orangtuanya. Mereka menerima orangtuanya tanpa syarat. Tak peduli kita galak, tak pintar memasak, tak pandai menyanyi, suka marah, hape-an mulu, mereka selalu dan selalu membanggakan kita, menghormati kita, menjadikan kita idolanya.

Mungkin mereka hanyalah anak-anak biasa di mata dunia, tapi mereka punya kasih sayang yang sempurna untuk orangtuanya, dan itu c u k u p.

Tak bisakah kita juga memberikan hal yang sama untuk mereka? Penerimaan yang tulus tanpa syarat untuk anak-anak kita?

Tak akan ada terang jika semua adalah terang. Terang ada karena hadirnya gelap. Tak akan ada panas jika semua adalah panas. Panas ada karena hadirnya dingin. Tak akan ada ramai jika semua adalah ramai. Ramai ada karena hadirnya sepi. Tak akan ada penampil jika semua jadi penampil. Penampil ada karena hadirnya penonton. Tak ada luar biasa jika semua adalah luar biasa. Luar biasa ada karena hadirnya biasa. Semua mengambil perannya masing-masing. Sekecil apapun itu, tetaplah penting.

Tak masalah bukan saat anak kita memilih untuk berperan menjadi penonton bukan penampil? Memilih menjadi biasa, bukan luar biasa? Sebiasa apapun mereka, tetaplah mereka anak-anak luar biasa di mata kita.

Tak ada yang salah dengan mereka, yang salah adalah cara kita memandangnya.
Tak ada yang buram dengan mereka, yang buram adalah kacamata yang kita gunakan untuk melihatnya.

Dear mama, izinkanlah anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri, bertumbuh dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing. Tugas kita hanyalah mengenali, mengarahkan, dan mengembangkan bakat mereka, tanpa harus memaksa mereka menjadi seperti yang kita inginkan.

Mama, Jangan Terlalu Banyak Instruksi


"Mah, aku tak BAB ya," teriak Berry, mbarep saya terburu2. Iseng saya jawab "gak boleh!"
"Nanti keburu keluar di lantai gimana," jawabnya.
(Yaelah... dibahas, don't be so serious to Le)
"Ya kamu ngapain juga mau BAB pakai acara ijin mama. Kalo mama jawab gak boleh, terus kamu gak jadi BAB gitu?

"Mah, mamah... bangun," ujarnya sambil ngogrek-ogrek badan si mama. "Opo Ber," jawab mama dengan mata setengah merem. "Aku tak tidur siang ya," jawabnya tanpa dosa.
Ingin rasanya pergi ke luar angkasa, hipotermia di kutub utara, hilang di samudra antartika... teet! gita gutawa, parasit!
Oalah ngger... ngger... mama pikir ada macan ucul hingga kamu sampai hati mengusik tidur siang nan sakral mamamu ini.

"Mah, aku tak pakai baju ini ya. Merah sama abu-abu matching gak?"

"Mah, aku tak ngerjain PR sekarang ya?"

"Mah, aku tak mandi ya?"

"Mah, aku tak gini ya? Mah, aku tak gitu ya?"

"Mah, aku boleh gini gak? Mah aku boleh gitu gak?"

Bertanya, bertanya dan bertanya terus, atau lebih tepatnya meminta konfirmasi terhadap apa yang akan dilakukannya. Hampir semua hal dia mintakan persetujuan saya.

Awalnya saya pikir gak masalah dengan situasi seperti ini. Malah agak senang karena saya jadi lebih mudah mengawasinya. Tahu dengan detail apa-apa yang dilakukannya karena tanpa  saya minta pun, dia sudah laporan segalanya ke saya.
Tapi lama-lama kok seperti ada yang saya rasa gak pas dari situasi ini. Menilik  dari perkembangan sikap dan tingkah polahnya yang sepertinya kurang oke.

1. Kurang percaya diri
Dia tidak pede saat berbeda dengan teman-temannya. "Mamah tau dari mana kalau hari ini pakai baju koko? Coba lihat watsapnya bu guru."
Dia kurang pede menyampaikan apa yang diinginkannya pada orang lain, yang dilampiaskan dengan uring-uringan, marah, atau menangis saat keinginannya tak tercapai.

2. Ketergantungan
Dia sangat bergantung pada jawaban-jawaban yang saya berikan. Meski kalau jawaban saya tak sesuai keinginannya, dia akan tetep ngeyel mempertahankan. Dia selalu butuh penegasan dari orang lain terhadap segala hal yang akan dilakukannya. Saya jadi mikir, apa jadinya kalau kelak gak ada saya, mau minta penegasan ke mana? Iya kalau orang yang diminta itu benar, baik. Lha kalau sebaliknya?

3. Mudah terpengaruh lingkungan
Dia gampang sekali "ikut-ikutan" teman-temannya. Tak masalah jika yang diikuti adalah hal-hal yang baik. Apa jadinya jika dia kelak harus hidup di lingkungan yang auranya negatif? Kan gak bisa selamanya kita menciptakan kondisi yang steril untuk tumbuh kembangnya. Pada akhirnya dia harus mampu membentengi dirinya sendiri dari pengaruh-pengaruh negatif itu.

4. Butuh eksistensinya diakui
Dia sering membandingkan dirinya dengan orang lain.
"Si ini udah mau SD baru iqra 1, aku udah iqra 3 lho mah."
"Dulu aku berani ya mah ke dokter gigi, gak kaya Bella sekarang."
"Aku baru 6 tahun kok udah pinter ngrakit lego e mah?"
Waaa ini... rupanya dia haus pujian, ingin dibombong-bombong, ingin diakui kemampuan dan eksistensinya.

5. Kurang kreatif
Seperti burung dalam sangkar. Kreatifitasnya dibatasi oleh suruhan-suruhan dan larangan-larangan saya. Jangan begini, bahaya. Gak boleh gitu, bikin berantakan. Gini aja nih, lebih keren dll dsb dkk.

Merunut ke belakang dalam rangka mencari akar masalah... Ya, Berry itu anak sulung saya. Anak yang saya asuh ketika saya begitu miskin pengalaman mengenai parenting dan kawan-kawannya. Saya dulu memang kurang antusias mempersiapkan diri menjadi ibu baru, masih terlalu fokus pada urusan "berdamai dengan diri sendiri".
Jadilah anak pertama saya sebagai ajang eksperimen trial and error. Buat anak kok coba-coba.
Saya terlalu banyak mengarahkan (baca: menyuruh dan melarang) dia dengan alasan demi kebaikan dirinya, menurut saya tentu saja. Bagusnya begini, bagusnya begitu. Jangan begini, jangan begitu.
Terlalu takut dia kenapa-napa. Terlalu berhati-hati agar tak ada pengaruh buruk mampir ke dia.

Setelah melalui kontemplasi selama ratusan tahun -oke saya lebay- si mama pun tersadar bahwa dia telah melakukan kesalahan

Ya aku salah.
S a l a h... lah... laaah... laaaaah...

Oleh karena itu, saya berusaha melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki kesalahan saya sebelum semua menjadi terlalu sulit diperbaiki.

1. Lebih banyak berdikusi
Kurangi hobi mengarah-arahkan. Sok lebih tau yang paling baik buat anak.
Saya sekarang berusaha lebih banyak bertanya padanya, mendengarkan keinginannya, menerima pendapatnya.
"Kamu maunya apa?"
"Menurutmu gimana?"
"Kalau seperti ini gimana?"
"Bisa gak kamu cari solusi sendiri?"
"Silakan diselesaikan sendiri."
Dll, dsb, dkk

2. Menghormati setiap keputusannya
Saya berusaha meminimalkan memberikan komentar terhadap hal-hal yang dilakukannya. Misal terhadap pilihan bajunya yang itu-itu mulu, walaupun dalam hati pengen banget bilang "itu lagi itu lagi kaya gak ada baju lain aja."
Saya berusaha tidak terlalu mencampuri urusan yang berhubungan dengan mainan-mainannya, PR nya, waktu mainnya dsb.
Mengingatkan sekali-sekali jika sudah di luar batas.

3. Membuat kesepakatan
Alih-alih menyuruh atau melarang, saya sekarang lebih suka membuat kesepakatan yang disepakati dua belah pihak.
"Oke mama kurangi marah-marahnya, asal......"
"Silakan main, asal sebelum magrib sudah di rumah."
"Main tablet cuma boleh sabtu minggu, 2 jam sehari."
Dll, dsb, dkk.

4. Lebih banyak apresiasi
Hal yang mungkin kurang sering saya lakukan untuk sulung saya. Mungkin saya terlalu sibuk dengan adik-adiknya, hingga mengabaikan kebutuhannya untuk diakui eksistensinya.
Sebelum terlanjur dia mencari pengakuan dari orang lain, perbanyaklah memuji, mengapresiasi sekecil apapun pencapaian anak-anak kita.

Teori itu selalu lebih mudah, prakteknya yang susah. Hanya berharap saya selalu bisa konsisten untuk berusaha menjadi ibu yang lebih baik dari saat ini.

Percayalah Ma, Romantis itu Sederhana


Pada suatu hari, tersebutlah obrolan sepasang suami istri...

"Yah, kalau nanti aku tambah tua, keriput, gak cantik lagi gimana? Tanya sang istri manja sambil nguwel-uwel ujung baju.

Pertanyaan yang mengandung pancingan sekaligus harapan.

Sang istri berharap suaminya akan memberikan jawaban semisal: "Santai aja dear, cintaku takkan pudar meski rambut hitammu mulai memudar, sayangku takkan luntur sekalipun kulitmu telah mengendur. Trus nyanyi lagunya So7, saat aku lanjut usia.... kau tetap yang termuah di hati lanjut all of me nya john legend, cause all of me loves all of you, love your curves and all your edges, all your perfect imperfections...

Aah... Ind....ia banget... dikit dikit nyanyi. Gak sedih gak seneng, tarik terus maang...

Namun, seperti halnya menunggu godot yang tiada kunjung datang, jawaban itu pun tak pernah muncul dari mulut sang suami. Dengan lempeng, datar dan tanpa rasa bersalah suaminya hanya menjawab singkat, "Aku juga udah lebih tua Mah."

Istrinya tersenyum kecut. Entah harus merasa nggondok, geli atau bahagia. Please deh pak, kaya gitu mama-mama yang lagi nungguin anak TK nya sekolah juga tahu.

R o m a n t i s.

Iya, salah satu hal yang didamba hampir semua wanita di muka bumi bulat ini, entah kalau di muka bumi datar.  Istri mana sih yang gak melting saat dinyanyiin lagu "mana mungkin selimut tetangga hangati tubuhmu..." (gak sekalian dikoploin buk, buka sithik joss!)

Kadang kita terlalu muluk-muluk membayangkan wujud keromantisan itu hingga mengabaikan keromantisan-keromantisan kecil yang sederhana dan masuk akal. Romantis itu tak selalu harus yang semacam candle light dinner berdua, ngasih bunga, jalan-jalan keliling dunia, atau naik gondola di Venesia.

Romantis itu sederhana. Ya...

Sesederhana menyilakkan anak rambut yang jatuh di kening istrinya yang tengah asyik memasak. 

Sesederhana ngasih air putih buat istrinya yang lagi kepedesan ngemil cabe rawit. 

Sesederhana bantuin istri goreng geblek, biar nggak kejeblugan minyak panas.

Sesederhana memberi hadiah anniversary dengan alat kerokan 10ribuan untuk si istri yang gampang masuk angin.

Sesederhana mencuil daging di piringnya untuk selanjutnya diletakkan di piring istri.

Sesederhana membagi dua satu-satunya tempe goreng yang tersisa di dalam piring.

Sesederhana mengambilkan krupuk istri saat sedang makan di warung soto.

Sesederhana pertanyaan "Bodrex nya udah diminum belum Ma?"

Sesederhana memanggulkan karung belanjaan istri (istrinya itu juragan telo, jadi kalau kulakan pakai karung dong)

Bahkan hanya sekedar saling bersitatap dalam diam kemudian bersamaan mau mengatakan sesuatu yang ternyata sama itu juga romantis (macam teleportasi gitu, eh... telepati maksudnya)

Banyak sekali hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dikatakan romantis namun jarang kita sadari. Sudah kadung terpatri di pikiran jika romantis itu harus seperti kapten Yoo Shi Jin dan dokter Kang Mo Yeon, Tao Ming Se dan Sancai, Olive dan Popeye, AHY dan Anisa Pohan, pak BY dan Bu Ani, Marimar dan Sergio, Sidik dan Siti (tetangga saya) dan lain-lain.

Kembali ke cerita 'pada suatu hari' di depan. Akhirnya si istri menerima dengan legowo jawaban suaminya itu. Dan setelah melalui perenungan 40 hari 40 malam yang melelahkan,  akhirnya istri pun bisa melihat keromantisan dari kalimat "Aku juga udah lebih tua mah" tadi. 

Keromantisan dalam kesederhanaan dan keheningan. Keromantisan yang logis lagi manis.

'Aku juga lebih tua' bisa berarti aku juga sama seperti kamu, tambah tua, tambah keriput, tambah jelek. Perasaan kita sama. Jadi kita tahu sama-sama ingin diperlakukan seperti apa. Gak usah terlalu kuatir dengan keniscayaan itu.

'Aku juga lebih tua' bisa berarti tenang aja ma, kemungkinan wanita lain naksir sama aku semakin mengecil. Wong pas aku belum tua aja cuma kamu yang mau naksir aku (eaaa... nek iki menghibur diri sendiri banget)

'Aku juga lebih tua' bisa berarti aku bisa menerimamu apa adanya seperti halnya kau akan menerimaku apa adanya pula. Mari kita menua bersama.

Dan lain-lain...

Ngomong-ngomong soal romantis, ada beberapa tipe suami romantis berdasar karangan saya tentu saja.

1. Romantis religius

"Mah... bangun mah... tahajud dulu. Doa bareng yuk biar keluarga kita diberi kebahagiaan dan keberkahan selamanya. Dan semoga cinta kita abadi dunia akhirat. Aku mencintaimu karena Allah."

2. Romantis ideologis

"Mah... cinta ayah pada mamah itu sama besarnya dengan cinta ayah pada NKRI. Ayah akan berjuang mati-matian menjaga keutuhan keluarga kita sebagaimana mati-matiannya ayah menjaga keutuhan Negara ini. Merdeka mah!!"

3. Romantis logis

"Yah, mamah keliatan tuaan ya? Ini lho deket mata udah mulai berkerut."

"Jangan-jangan mamah penuaan dini ya. Makanya banyak-banyak konsumsi makanan yang mengandung antioksidan tinggi dong Mah, sama vitamin-vitamin buat mengencangkan kulit itu lho. Besok deh Ayah beliin."

4. Romantis 4L4y

"M4m, h4b15 n3y k1t4 m4m4m b4kso yuk, d1 t3mp4t k1t4 dulu k3t3mu p3rt4m4 k4l1, b14r r4s4 c1nt4 k1t4 t3t4p t3rj494."

"Enggak yah, kita habis ini ke servis HP aja. Kayanya HP ayah rusak, itu tulisannya kecampur-campur huruf sama angka. Mama vertigo bacanya."

5. Romantis gombalis

"Mah kamu tahu gak? Buat ayah, matiin ular kobra itu sangat jauh lebih mudah daripada matiin cinta ayah ke mamah."

Indah banget ya mah pemandangannya...|Iya|Tapi tetep jauh lebih indah mandangin Mama|

6. Romantis posesif

"Mah... jangan lupa ya. Ntar telpon gak boleh mati. 2 jam sekali harus ngabarin ayah mama lagi dimana, sama siapa, lagi ngapain. Oiya jangan lupa, gak usah deket-deket sama pria lain. Mamah tau kan, ayah paling kuatir kalau mama pergi sendirian. Oke mah, jaga selalu hatimu ya... I love you."

7. Romantis ekonomis

"Mah... nih papa beliin lipstik baru. Murah lho, tadi ada obral 100ribu dapat 3"

"Tega ya kamu Mas, ngasih mama lipstik harga segitu."

"Yaampun Mah, ngapain sih pakai lipstik mahal-mahal? Kamu lipstikan pakai minyak bekas gorengan yang kamu makan aja udah cantik banget kok Mah... Lagian kita kan belum bayar uang sekolah si kakak, uang listrik, uang pam, gaji simbok, kredit ember sama wajan dll. Inget kan kamu Mah?"

Naah, termasuk tipe yang manakah suami anda mams?

Oke. Jadi jelas ya mams, romantis atau tidaknya pasangan kita sebenarnya tergantung dari cara kita memandang dan menyikapi hal-hal kecil yang dilakukannya. Percayalah, suamimu itu romantis dengan cara mereka masing-masing.

Salam romantis😙

Selingkuh, Hanya Soal Pilihan


Tersebutlah pada suatu hari percakapan sepasang suami suami istri...

"Kenapa ya Yah makin banyak aja orang yang suka selingkuh?" si istri membuka percakapan.

Hmmm... jawabnya sambil meletakkan HP yang dipegangnya.
"Suka selingkuh itu kecenderungan Ma."

Tentu saja si istri yang rajin memasak meski jarang enak itu tak lantas menelan mentah-mentah hipotesis waton suloyo yang dikatakan suaminya.

"Maksudnya kecenderungan? Bakat gitu? Atau gawan bayi?" Tanya si istri lagi.

"Ya semacam itu lah."

"Jadi Ma... selingkuh itu bukan karena rumah tangganya tidak bahagia atau dia tidak puas sama istrinya. Ndak ada itu. Orang selingkuh itu ya karena mau selingkuh aja, mau dia bahagia atau enggak."

"Orang yang nggak suka selingkuh nggak akan selingkuh sekalipun dia nggak bahagia, dan sebaliknya orang yang punya kecenderungan selingkuh dia akan tetap selingkuh meski kehidupan rumah tangganya sempurna dan baik-baik saja," jelasnya makin sok tau.

Btw saya sudah pernah bilang belum kalau suami saya tampak sangat gorjes saat dia sedang menjelaskan ke-soktahuannya dengan sangat percaya diri? O iya, ada satu hal lagi yang membuat ketamvanannya naik satu level di mata saya, yaitu saat  dia ngelawak dengan muka serius, lempeng dan gak ketawa sama sekali. Macam Cak Lontong pas lagi stand up comedy gitu lah. It's so cooolll.
Oke. Abaikan bagian memualkan ini.

Kembali ke topik. Selingkuh.

"Kalau selingkuh itu kecenderungan berarti semacam takdir gitu? Genetis? Allah kasih kecenderungan orang ini suka selingkuh, orang ini nggak suka selingkuh. Kasihan dong orang yang dikasih takdir hobi selingkuh." Tanya si istri masih belum puas dengan jawaban yang diberikan suaminya.

"Ya justru itu Ma, di situ ujiannya. Mampu nggak dia mengalahkan kecenderungan ingin selingkuhnya itu. Pas ingin selingkuh, pas ada yang mau menanggapinya. Ya sudah jadilah perselingkuhan. Jadi yang salah dua-dua nya, yang selingkuh karena udah selingkuh dan yang diajak selingkuh kenapa mau."

"Tapi setiap orang dikaruniai akal untuk berfikir serta memutuskan apakah dia mau memilih selingkuh, yang berarti mengkhianati komitmen atau mempertahankan komitmen yang sudah disepakati bersama dulu di awal pernikahan apapun masalah mereka saat ini," jelasnya panjang lebar.

Si istri cuma mengangguk-angguk sambil mbatin "Karepe lahPak, sing penting njenengan bahagia."

"Lha kalau kamu tipe yang cenderung suka selingkuh enggak Yah?" Tanya istrinya lebih lanjut.
"Enggak lah Ma... tenang aja. Di silsilah keluargaku gak ada sejarahnya ada yang pernah selingkuh,"  jawabnya jumawa. Jawaban yang mungkin agak absurd tapi cukup memuaskan hati istrinya. Haha. Cemen lu tri, dikasih jawaban kaya gitu aja udah langsung percaya.

"Oke deh Pak I do trust you ya. Jaga selalu hatimu, saat jauh dariku tunggu aku kembali."
(Tampaknya si istri ini pernah bercita-cita jadi penyanyi namun nggak kesampaian. Bentar-bentar nyanyi. Bentar-bentar nyanyi. Nyanyi kok bentar-bentar.

-Tamat-

S e l i n g k u h. Adalah salah satu hal yang ditakutkan dalam sebuah rumah tangga selain hama tikus dan coro yang merajalela di dapur rumah tentu saja.

Dan asal tahu saja, pelaku selingkuh nggak didominasi oleh kaum pria/suami sahaja Banyak juga wanita/istri yang terperosok ke dalam konflik perselingkuhan ini.

Alasan yang biasa mereka kemukakan antara lain: tidak bahagia dalam rumah tangga, terjebak pada perkawinan yang salah, tidak dimengerti pasangan, tidak puas dengan pelayanan yang diberikan pasangan, sudah jenuh and so on. Alasan-alasan yang diada-adakan dan dicari-cari sebagai pembenaran diri.

Dan selingkuhlah yang mereka pilih sebagai solusi dari semua permasalahan itu, dengan slogan andalannya yang hampir mirip pegadaian, 'Mengatasi Masalah dengan Masalah'.

Saya tak hendak menuliskan tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah perselingkuhan dalam rumah tangga. Satu-satunya cara yang harus dilakukan agar tidak selingkuh ya 'Jangan selingkuh!!' Dan itu kembali lagi pada kekuatan iman, kejernihan akal dan kemampuan mengendalikan diri masing-masing orang.

Saya lebih tertarik menuliskan beberapa fakta selingkuh yang mungkin belum banyak diketahui. Fakta-fakta ini saya rangkum dari beberapa situs hasil gugling-gugling saya ya karena gugling is my middle name.

1. Jenis musik mempengaruhi kecenderungan selingkuh

Ada yang gemar musik rock n roll? Ternyata penyuka rock n roll punya kecenderungan lebih besar untuk selingkuh, yaitu 41 persen. Sementara musik pop 16 persen, country 11 persen, klasik 7 persen, hip-hop 2 persen (entah ini siapa yang neliti dan gimana caranya). Kenapa dangdut koplo dan campur sari nggak masuk dalam penelitian itu? Kenapa? Jawab aku Mas!

2. Selingkuh itu bisa jadi karena genetik

Menurut sebuah penelitian, kecenderungan berselingkuh seseorang itu terkait dengan DNA. 50 persen orang dengan alel panjang hormon dopamin memiliki kecenderungan untuk selingkuh di belakang pasangan mereka. Sementara individu dengan alel singkat hormon dopamin cenderung setia. (Jangan tanya saya alel itu apa atau siapa karena saya tahunya farel suaminya fitri).
Intinya adalah "Pakne, ternyata kamu benar. Nggak waton suloyo seperti kataku. Tak salah aku memilihmu menjadi imamku." Halah.
Ternyata banyak pasangan yang rumah tangganya bahagia, harmonis dan baik-baik saja ketahuan salah satunya berselingkuh.

3. Wanita lebih bahaya saat berselingkuh

Biasanya laki-laki selingkuh hanya karena masalah fisik saja. Berbeda dengan wanita yang sekalinya selingkuh bisanya melibatkan perasaan. Emosional. Nah ini lebih berbahaya karena meninggalkan kesan mendalam. Rela melakukan apapun untuk selingkuhannya, termasuk mengganyang harta suami demi si selingkuhan.

4. Selingkuh bukan berarti cinta hilang

Perselingkuhan justru sering terjadi saat kehidupan rumah tangga sudah settle/mapan. Menetap, punya anak, dan tercukupi kebutuhannya. Bukan pada awal-awal perjuangannya membangun rumah tangga bersama pasangan. Saat tiba fase mapan ini, beberapa pasangan justru merasakan kekosongan jiwa, kehampaan, kesepian dan rasa cinta yang mulai memudar. Dan mereka memenuhi kekosongan hati itu dengan selingkuh. Dan ini mereka lakukan bukan karena tak cinta lagi dengan oasangannya.

5. Istri seringkali tahu jika suaminya selingkuh

Intuisi istri itu sekuat sinyal kartu seluler di dekat tower BTSnya. Hanya dari sehelai rambut yang berbeda panjang dari rambutnya saja, mereka bisa mencium sesuatu yang beda dari suaminya. Atau dari perubahan bau keteknya. Biasanya tak pakai minyak wangi, biasanya tak suka begitu, solali lali ola ola la (yak bala jaer mana suaranya. *palmface)
Kadang para istri tahu jika suaminya selingkuh, tapi tak mau mengakui. Denying. Mencoba berfikir positif menghadapi keanehan-keanehan yang dilakukan suaminya.

6. Laki-laki berselingkuh dengan sahabatnya.

Ini mah udah jamak terjadi ya. Witing tresno jalaran saka kulino. Perselingkuhan biasanya berawal dari 'persahabatan' lawan jenis (eh, sama jenis juga bisa sih, jaman edan, apa yang nggak bisa)  dan dimulai dari tempat kerja dimana mereka bisa lebih intens bertemu setiap hari.
Jaga suamimu baik-baik. Nggak usah terlalu banyak menuntut suami biar lebih begini lebih begitu. Karena suami yang sering kau kau tag-tag namanya dalam artikel-artikel "wahai suami na na... itu" terkadang adalah suami yang didambakan wanita/istri lain di muka bumi ini. Camkan itu nisanak! (Diambil dari status yoanita astrid, mama muda beranak tiga yang hobi curhat di medsosnya. Puasass??)

Oke. Segitu dulu aja ya. Hayati ngantuk Bang,  ini sudah hampir subuh.
Ingat ya, selingkuh itu pilihan! Anda udah dewasa dan berakal sehat untuk bisa memutuskan segala hal yang hendak anda pilih beserta segala konsekuensi baik buruknya.

Salam setia!