Sabtu, 05 Desember 2015

Resensi Novel "Pulang"



"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...."

Sekali lagi Tere Liye berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai kata, mengolah rasa di novel terbarunya yang diberi judul "Pulang". Diterbitkan oleh Republika Penerbit, September 2015, novel setebal 400 halaman ini menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Bujang yang kelak kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Si Babi Hutan. Julukan yang diperoleh karena keberhasilannya mengalahkan seekor babi hutan raksasa seorang diri di jantung rimba Sumatra dan menyelamatkan nyawa Tauke Muda, sahabat bapaknya.

Cerita selanjutnya adalah tentang kisah hidup Bujang muda di perantauan setelah diangkat anak oleh Tauke Muda, pemimpin tertinggi keluarga Tong, salah satu penguasa ekonomi hitam di negeri ini. Proses dia bertransformasi dari anak rimba dengan kaki licak oleh lumpur tanpa alas kaki hingga menjadi pemuda jenius pemegang dua titel master dari luar negeri diceritakan dengan menarik. Keinginan kuatnya menjadi tukang pukul di keluarga Tong membawanya bertemu dengan orang-orang pilihan yang kemudian menjadi guru sekaligus sahabatnya dalam menempa mental dan fisiknya. Seperti tokoh Kopong si tukang pukul jagoan yang sangat menyayangi Bujang, Frans si Amerika yang menjadi guru Bujang di bidang akademis, Guru Bushi sang master samurai nan bijak dari Jepang, Salonga si penembak jitu yang temperamental, serta tentu saja Tauke Muda si pemimpin utama keluarga Tong.
Satu hal yang dipegang teguh oleh Bujang, yaitu janjinya kepada mamaknya sebelum merantau, untuk selalu menjaga perutnya bersih dari makanan dan minuman haram dan kotor.

"Beberapa pakar ekonomi menaksir nilai shadow economy antara 18-20% GDP dunia. Angka sebenarnya, dua kali lipat dari itu. Di negeri ini saja, dengan total produk domestik bruto per tahun 800 miliar dolar, maka nilai transaksi shadow economy lebih dari 320 miliar dolar. Setara dengan 4.000 triliun rupiah, 40% GDP."

Dengan berlatarkan masalah shadow economy (ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja), Tere Liye dengan cukup detail menguraikan seperti apa intrik-intrik yang dilakukan tangan-tangan penguasa ekonomi pasar gelap ini dalam melakukan bisnisnya. Negosiasi tingkat tinggi, penyuapan, permainan media hingga pembunuhan yang dilakukan dalam senyap menjadi bumbu penyedap dalam cerita. Seolah menghentak pikiran kita bahwa konspirasi itu memang nyata adanya. Bahwa mafia itu ada. Bahwa ada tangan-tangan berkuasa yang mengendalikan  kasus-kasus besar yang terjadi di indonesia. Nama-nama yang tak terekspos media namun sebenarnya dialah yang berada di balik nama-nama besar konglomerat kelas kakap di negeri ini. Menjadi penguasa yang sesungguhnya dari banyak bisnis besar di Indonesia. Dan kesemuanya itu diatur dengan sangat rapi oleh organisasi shadow economy yang ruang gerak serta kekuasaannya ternyata mendunia.

Di novel ini pula kita akan diajak berkeliling menikmati suasana beberapa kota di dunia, mulai dari mencekamnya pedalaman rimba Sumatra, padatnya kota Jakarta, gemerlapnya Hongkong, pengapnya sebuah sudut kawasan miskin di Tondo Manila, hingga kedamaian salah satu pedesaan di Tokyo, Jepang. Seolah kita bisa ikut merasakan apa yang sedang dialami si tokoh utama.
Cerita ditutup dengan adegan-adegan heroik saat Si Babi Hutan harus memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh "orang dalam", sahabat dekatnya sendiri. Adegan-adegan laga yang diceritakan dengan detail membuat kita ikut berimajinasi tentang serunya pertempuran itu.

Gaya bercerita novel ini mengingatkan Saya pada gaya penceritaan dua novel sebelumnya yang berjudul "Negeri Para Bedebah" dan "Negeri di Ujung Tanduk". Cepat, bernas, dan tidak membosankan. Meloncat dari satu cerita ke cerita yang lain secara berkesinambungan dengan beberapa alur flashback.  Dengan jalinan konflik yang rapat kita dibuat enggan beranjak hingga tiba di halaman terakhir. Tanpa sadar kita akan dibuat terpukau dengan sosok Bujang seperti halnya mendadak kita merasa kagum pada sosok Thomas di dua novel tersebut. Bujang yang tak punya rasa takut, jenius, negosiator handal, kokoh dalam memegang prinsip serta tentu saja jago berkelahi dan menembak.

Membaca novel ini seolah kita ikut terhanyut di dalamnya. Mereka-reka benarkah hal-hal di dalam cerita itu sungguh nyata terjadi di negeri ini. Bahkan saya dibuat penasaran, apakah benar, bahkan hingga "siapa yang jadi presidennya" bisa diatur oleh segelintir penguasa ekonomi bayangan ini? Apa benar rumah-rumah mewah di ibu kota itu hanyalah kamuflase untuk menutupi benteng-benteng kokoh yang dibangun di baliknya oleh si penguasa ekonomi hitam untuk menjalankan aktifitas bisnisnya? Di sini Tere Liye terlihat begitu menguasai tema cerita, ditambah lagi dengan data-data pendukung berbasis riset yang disajikannya di awal cerita.

"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran."

Bukan Tere Liye jika tak punya "pesan" dalam setiap ceritanya. Seperti biasa, dia selalu bisa menyuguhkan pesan moral, pemahaman baru, prinsip hidup, serta keteladanan dengan sangat mengalir, tanpa menggurui dan mengena di hati.

Bahwa seburuk atau sekelam apapun masa lalu kita, kita berhak menafsirkan ulang seluruh pemahaman hidup kita. Kita berhak mendefinisikan kembali mau menjadi seperti apa diri kita saat ini. Sekuat apapun kita berusaha, kita tidak akan mampu melawan kenangan masa lalu yang menyesakkan atau hari-hari menyakitkan yang pernah kita lewati. Justru peluklah segenap kenangan-kenangan buruk itu. Dekap erat segala keresahan, kebencian, keraguan dan kecemasan, karena hanya dengan itulah kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri.  Ingatlah bahwa kita akan selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari terburuk sekalipun. Seperti matahari yang tak pernah alpa untuk terbit tak peduli seburuk apapun hari itu.
Ingatlah bahwa Tuhan tak pernah menutup pintu pengampunan-Nya. Bahkan Dia selalu memanggil semua hamba-Nya untuk selalu "pulang" kembali kepada-Nya. Dan kita berhak untuk menempuh jalan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar