Kamis, 27 November 2014

Jangan Takut Makan Mie Instan

Semangkuk mie instan rebus dipakein telur sama irisan cabe rawit ituuuhhh........ sluuurrrppp....salah satu surga dunia. Rugi kalo gak nyobain


Enggak ah. Serem. Mie instan itu makanan gak sehat tauk. Ati-ati ada lilinnya, bisa bikin kanker pulak MSG nya.Eleuh-eleuh....segitu pisan yak sama mie instan. 

Oke. Sekarang ngomongin tentang mie instan yuukk. Teringat beberapa waktu lalu saya lagi mau masak mie instan dan tiba2 sodara nyeletuk, air rebusan yang pertama dibuang dulu baru diganti pake air termos soalnya ada lilinnya itu
Jreng...jreeng.... Spechless sayanya mah

Coba sekali-sekali liat proses pembuatan mie instan (googling please). Lihat tahapan terakhir sebelum dikemas. Yesss, digoreng pada suhu 140°-150°C selama 60-120detik kemudian langsung didinginkan. Proses ini ditujukan agar tekstur mie jadi keras, kadar air berkurang, lebih awet karena bakteri/jamur tidak bisa tumbuh. Naaaahhh, nggoreng nya itu pake minyak kan ya, bukan air (kalo pake air namanya ngrebus mbak)? Abis digoreng, ditiriskan trus didinginkan maka jadilah itu minyak yang masih tersisa nempel di mie. Betul apa bener? 
Jadiiiii kalo saat merebus mie itu ada kaya minyaknya di air rebusan,  itu bukan lilin buibu tapi minyak goreng. Jelas yaaaa??*ala cikgu dosen, hhhhhhh *hela napas, esmosi saia. 

Lanjuuutt.... Info keterlaluan kedua nih, kalo masak mie instan bumbunya jangan direbus bareng mie nya karena pada suhu 120°C MSG akan terurai menjadi senyawa2 yang berpotensi karsinogenik (pemicu kanker) atau yang semacam itu redaksinya. Ngerasa ada yang janggal gak sama informasi di atas? Nggak ada?? Sini sini saya tunjukin. 
Inget pelajaran SD dulu dong? "Berapa titik didih air anak-anak?" Bertanyalah ibu guru sumini pada anak muridnya. "100°C bu guruuuu" Jawab murid-muridnya serempak. Iyak pintar sekali.  
Naaah masak mie instan ini pake kompor sama panci kan ya?  Masak mi pake panci dan kompor sampe yang masak ubanan juga tidak akan pernah mengubah titik didih air yang 100°C menjadi 120°C, kecuali kalo sodara/sodari semua masak mie nya pake panci presto (Lodrok dong mie gue).
Lha gimana critanya itu MSG bisa terurai/terpirolisis atau apalah namanya jadi senyawa-senyawa karsinogenik?

Yang terakhir nih penting  banget, masih percaya kan sama badan pengawas obat dan makanan (bpom)?  Di setiap kemasan mi instan pabrikan merk2 terkenal itu pasti ada ijin bpom nya *kalo gak ada, gak usah dibeli. Badan pom ga akan dengan mudahnya mengeluarkan nomor perijinan bpomnya untuk suatu produk yang gak jelas keamanannya. Kalo mie instan itu gak aman dan gak layak makan udah dari dulu ditarik dari peredaran. Yang harus diwaspadai justru mie2 industri rumah tangga yang banyak bertebaran di pasar atau tukang sayur itu. Tanpa merk, tanpa kemasan higienis, gak tau pake pengawet formalin atau tidak dll. Jangan terbalik-balik. Gak semua yang pabrikan (berpengawet kimia) itu kurang baik untuk kesehatan. Dan sebaliknya gak semua yang tanpa pengawet itu pasti baik. Selama penggunaan pengawet itu terkontrol dan sesuai patron its oke menurut saya.

Nah masalahnya sekarang adalah seberapa sering kita konsumsi mie instan itu sendiri. Kalo tiap hari sehari 3x dan bener-bener mie instan doang, ya itu lebay bingits namanya. Kenapa gak boleh keseringan?

1. Mie instan itu makanan yang 'gak bergizi' (haha. Jahatnya... yaudah deh gizinya minimalis). Jadi ngapain juga masuk-masuk-in sesuatu yang gak ngasih manfaat ke tubuh sering-sering? Selingan gakpapa, sebagai recreational food, seminggu 2-3x masih tolerable. Kalo mau lebih bergizi campurkan dengan sayur, telur atau bahan bergizi lain.

2. Mie instan itu makanan yang tinggi garam. Diet tinggi garam terus menerus jelas gak baik untuk tubuh apalagi untuk orang-orang yang punya riwayat hipertensi, sangat tidak dianjurkan

3. Mie instan itu pantangan buat yang alergi atau intoleran terhadap gluten. Gluten itu protein yang terdapat pada tepung2an seperti gandum sebagai bahan dasar mie. Orang-orang seperti ini biasanya akan jadi pusing, mual atau sakit perut setelah makan makanan-makanan mengandung gluten seperti mie atau roti.

Jadi mie instan itu aman ya, asal semua aturannya dipatuhi dan gak berlebihan. Sooo.....cek dan validasilah  informasi2 yang diterima. Jangan mudah menelan mentah-mentah semua data. Digoreng apa direbus dulu gitu biar agak enak. Sayang banget kan ilmu yang berharga itu  menjadi tak bernilai hanya karena ditemplokkan dengan semena2 untuk menghukumi suatu fenomena dengan tidak tepat.

Ancaman Di Balik Manisnya Gula

Gambar diambil dari intisari-online.com

Set dah, tumben bikin judul a la-a la media abal-abal gini. Wkwk. Kenapa oh kenapa buk? Yah karena inilah faktanya. Daripada ibu-ibu parno berlebihan terhadap MSG -yang notabene sudah dijamin aman-, sepertinya lebih pas kalo kuatir berlebihannya dialihkan pada gula pasir. Kenapa gula pasir? Begini ceritanya:
Gula pasir (atau nama kimianya sukrosa)itu masuknya ke golongan karbohidrat, yang di dalam tubuh dipecah jadi unsur penyusunnya (fruktosa dan glukosa). Glukosa di tubuh ini yang nantinya sering disebut dengan istilah gula darah. 

Coba bayangkan berapa gelas gula yang dibutuhkan untuk bikin 1sachet nutrijel? Ukurannya udah gelas bo' bukan sendok lagi. Belom lagi gula yang ngumpet di dalam  sirup, softdrik, es teh manis, sup buah, es krim, jus buah, biskuit, macem2 kue kering, permen dan banyak lagi.  Itu perhitungan di luar nasi lho. Iya nasi putih. Nasi putih itu termasuk makanan dengan indek glikemik tinggi. Makanan ber IG tinggi itu adalah makanan yang dengan cepat menaikkan kadar gula darah. Yess sepertinya konsumsi kita high sugar banget ya. Emang ada yang salah dengan diet high sugar? Begini ceritanya (lagi :)): yang kadang sering disalah-salahin sebagai biang kegemukan itu kan lemak ya. Gorengan, makanan bersantan dkk. Ada benernya juga sih. Tapi taukah anda jika kelebihan gula yang tidak dipake tubuh itu juga disimpan sebagai.... jreng...jreng......
yup  L E M A K.
Dan itu justru yang jadi penyebab utama kegemukan. Iyaaa lemak yang bikin gendut itu. Wkwk

Jadi hubungan diet tinggi gula dengan kegemukan? Ya sodara sepupu deh, deket banget. Sebagai tambahan, kadar gula  yang tinggi dalam darah itu akan memaksa pankreas untuk kerja rodi ngeluarin insulin (buat menyeimbangkan kadar gula darah tubuh). Kalo pola ini dilakukan terus menerus, yang ada insulinnya jadi gak sensitif, terpaksa pankreas ngeluarin lebih banyak insulin lagi. Nah sekresi insulin berlebih ini diduga sebagai penyebab dasar munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes dkk. Jadi teringat bude saya yang harus sangu alat suntik kemana-mana. Karena setelah selesai makan beliau harus selalu menyuntikkan insulin ke dirinya sendiri untuk menurunkan kadar gula darahnya. 

Pola konsumsi tinggi gula ini juga mungkin yang jadi penyebab naiknya prevalensi penyakit semacam jantung koroner, stroke dkk di semua kalangan. Dulu kan penyakit-penyakit 'keren' ini cuma jadi milik orang-orang kaya yang makannya enak-enak trus ya. Tapi sekarang dari lapisan bawah sampe atas tidak jarang yang mengidap penyakit-penyakit semacam ini. Btw saya juga pernah baca (belom tau validitasnya ya), bahwa proses pengolahan gula yang puanjang (dari penggilingan, pemurnian, evaporasi, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan sampe pengepakan) ini akan menghilangkan semua mineral yang tadinya ada di tebu. Jadi gula pasir yang putih bersih dan manis itu benar-benar hanya murni berisi sukrosa tok. Gak ada mineral apalagi vitamin yang masih bisa digunakan tubuh.

Oke. Berapa sih batas maksimal konsumsi gula pasir sehari yang seharusnya? Menurut WHO tidak lebih 5% kebutuhan energi harian. Kalo kita asumsikan sehari itu 2000kkalori, ya berarti tidak lebih dari 100kkalori yang itu setara dengan 25gram gula atau kira-kira 6 sendok teh. Kalo versi peraturan menteri kesehatan RI, konsumsi gula dalam sehari itu tidak lebih dari 4 sendok makan. Sedikit ya... ? Ngeteh manis pagi hari 2 sendok teh gula pasir. Coffeebreak siang 2 sendok lagi. Eh, sarapan sama ngemil donatnya belum diitung :p, sampe rumah sore, teh manis anget enak nih, 2 sendok teh lagi yang datengnya serombongan bareng sahabat2nya yaitu pisang goreng, roti goreng dkk. Ya sutralah... lewat deh tuh 4 sendok makan gula/hari. haha. Trus gimana dong? Pengen makan manis tapi takut gula. Makannya sambil liat saya aja *senyum manis.

Ada sih yang namanya pemanis buatan yang rendah kalori tapi semanis gula. Seperti aspartam (tropicanaslim),  stevia dll. Ini masuk kategori aman ya (ada nilai ADI)-nya,  tapi ada beberapa kontroversi juga. Jadi kalo hati gak mantep ya gak usah dipake. Intinya terapkan pola hidup sehat, kurangi aktivitas ngopi-ngopi cantik, ngemil donat kentang (deket rumah saya ada yang jual donat kentang enak murce dan laris bgt *abaikan), kurangi nasi putih, makanan manis, goreng-gorengan, perbanyak serat dan pastinya olahraga. Yaah endingnya kok lagi-lagi hidup sehat dan olahraga. Gak seru ini mah. Saya nulis-nulis gini tapi juga belom bisa menjalankannya lho (tutup muka), susah euy.

Gini lho, intinya tuh saya pengen mendudukkan semua itu proporsional pada tempatnya. Pas. Gak berlebihan. Gak lucu kan kalo misalnya bela-belain pesen bakso tanpa vetsin (tapi kecap+saos 3sendok :)), tapi merasa santai-santai aja ngeteh anget sama ngemil donat tiap sore.
Khawatirlah dengan sesuatu yang memang layak dikhawatirkan, jangan membebani otak dengan kekhawatiran2 yang sebenarnya tidak diperlukan :)

Jadi judul di atas gak lebay kan? Asli gula itu lebih mengancam dibandingkan MSG karena cara mengancamnya itu semanis rasanya, bikin kita gak sadar kalo dia itu sebenarnya harus dihindari.

Kamis, 20 November 2014

Kecap=MSG ???




Ini adalah tulisan pertama saya yang ada hubungannya sama pangan (dunia yang pernah saya geluti selama 7 tahun, sekalipun kini ilmunya udah ketumpuk-tumpuk sama ilmu-ilmu tentang cara praktis menyiasati kenaikan harga beras, listrik dan bbm untuk ibu rumah tangga eaa

Baiklah, sekarang saya mau ngomongin tentang pangan, khususon MSG a.k.a micin, vetsin, penyedap rasa, masako, royco dan kawan-kawannya. Kenapa MSG? Karena tadi pagi Berry anak saya lahap banget makannya hingga nambah 3 piring nasi dengan berlaukkan kecap alias nasi kecap (Haha. Poor Berry) 
Back to kecap, emang ape hubungannya kecap sama MSG? Langsung cuss ke TKP. Cekidot yaa....

Saya inget sekali anekdot yang pernah bapak dosen ceritakan (sedikit hal yang saya ingat dari banyak hal yang saya pelajari :p). Begini ceritanya:
Ibu A: "Saya gak pernah lho masak pake vetsin. Gak sehat, bahaya, bisa bikin anak bodoh" (dengan gaya sok paling yes sedunia)
Ibu B: "Saya mah kurang mantep kalo masak gak pake micin. ". 
Ibu A: "Anak saya itu gampang banget makannya. Asal ada kecap aja beres deh, lahaappp. Jadi saya gak perlu susah-susah"
....................................
Jreng....jreng.....!!!!!
Bu Joko Bu Joko... tau gak sih kecap itu isinya apaan? Yap, anda benar, M S G

Monosodium Glutamat
MSG (Monosodium Glutamat) adalah garam natrium dari asam glutamat , senyawa yang memberikan rasa gurih (umami). Asam glutamat sendiri merupakan komponen protein yang secara alami terdapat pada hampir semua makanan. Adapun kecap, kecap adalah salah satu makanan hasil fermentasi kedelai hitam oleh jamur. Pada proses pembuatan kecap dilakukan penambahan garam (NaCl), dan salah satu hasil fermentasi jamur itu adalah asam glutamat. Ada Na dari garam dan glutamat dari asam glutamat, maka jadilah Na glutamat alias MSG. Get it kan hubungan kecap sama MSG? Jadi sama juga boong dong kalo masak tanpa vetsin tapi kecap jalan terus? Bukan boong sih, tapi kurang tepat. Ibaratnya pesen semangkok bakso tanpa vetsin, pas baksonya dateng langsung kalap naroh bersendok-sendok kecap, saos ma sambel. Lhah ape gunanya tadi mesen bakso gak pake vetsin mbak? pesen aja bakso gak pake mangkok, wkwk. Memang sih MSG dalam kecap terbentuk secara alami melalui fermentasi bukan sengaja disintesis secara kimia. Tapi pada dasarnya bahan yang terkandung di dalamnya sama-sama natrium dan glutamat kan? Jadi.....??

Benarkah MSG Berbahaya?
Ngomongin tentang MSG, pasti yang terlintas di kepala adalah tentang gak sehat dan gak aman. Benarkah Itu? 
MSG itu bahaya gak sih? Hmmm.... bahaya binggoooo......
.....kalo kita pakenya 6 kg/hari. 
Jadi gini. Di dalam dunia pangan itu ada yang namanya ADI (acceptable daily intake) yaitu batasan seberapa banyak konsumsi bahan tambahan pangan yang dapat diterima dan dicerna setiap hari sepanjang hayat tanpa mengalami resiko kesehatan (bisa dianalogikan dengan dosis dalam dunia perobatan). Dan ada batas maksimum penggunaan yang bisa dihitung dari nilai ADI. Tahukah berapa nilai ADI untuk MSG? Berdasarkan perka bpom no 23 th 2013, batas maksimum penggunaan MSG adalah secukupnya atau sewajarnya (not specified), gak ada batasan maksimal, yang berarti aman untuk dikonsumsi. Saya bandingkan dengan ADI untuk natrium benzoat yaitu 0-5mg/kg berat badan. See! Harusnya kalau mau khawatir lebih ke pengawet dong daripada ke MSG. Toh kalau pakai vetsin pun paling pol gak sampai 1/2 sendok teh kan? Soalnya kalo kebanyakan yang ada rasa masakannya malah jadi pahit bukannya enak.  
Lanjuuuttt.....

MSG Penyebab Chinese Restaurant Syndrom?
Trus gimana dengan chinese restaurant syndrome yang disebut-sebut disebabkan oleh pemakaian MSG? It's so yesterday. Banyak penelitian-penelitian baru  yang dilakukan yang membuktikan bahwa ternyata MSG bukanlah penyebab sindrom itu (pan penelitian itu berkembang terus yak, kalo ada yang keliru ya direvisi). Dengan banyaknya penelitian yang membuktikan bahwa MSG itu aman maka dimasukkanlah MSG itu sebagai GRAS (Generally Recoqnize as Safe). 

Kecap Sehat Tanpa MSG?
Gimana dengan iklan-iklan yang mengklaim kecap sehat tanpa MSG? Ya itu pinter-pinternya produsen kecap  itu dalam memainkan kata-kata aja. Mungkin dalam pembuatannya memang tidak ditambahkan MSG secara langsung. Tetapi substansinya kan MSG jugak? Jelilah dengan bahasa iklan. Seperti minyak goreng yang hobi ngiklan non kolesterol. Lha emang yang namanya minyak goreng itu gak ada kolesterolnya melainkan fitosterol. Jadi tanpa di-cap nonkolesterol pun semua minyak goreng nabati itu memang gak ada kolesterolnya.

Jadi MSG itu insyaalloh aman ibu-ibu (dengan pemakaian yang sewajarnya). Dan yang terpenting batasi asupannya karena segala yang berlebihan itu kagak baik kan ya. Buat yang antipati sama MSG, suka puyeng kalo makan masakan ber-MSG (sugesti atau bukan?) yaaa gapapa juga sih. Bagus kok bisa memanfaatkan yang alami-alami sebagai pengganti MSG seperti tomat, daging, keju misalnya. Tapi jangan juga terlalu nyinyir sama ibu-ibu yang masih pake MSG, apalagi sampai bego-begoin anak-anak yang masakanya dipakein vetsin. Dan buat pemakai MSG yang merasa masakannya kurang mantap, silakan gunakan dalam jumlah yang sesuai. Preferensi masing-masing orang aja. Gak usah terlalu parno sama MSG karena MSG emang bukan sesuatu yang harus terlalu dikhawatirkan.

Rabu, 19 November 2014

Mari Bercermin

Sekali lagi ini bukan tentang siapa presidennya. Toh musim pemilu kemarin saya juga gak milih dua-duanya. Jadi saya bukan termasuk golongan jokowi lover. Noted. Tapi saya juga bukan jokowi hater. Biasa aja. Sekalipun misalnya prabowo yang jadi presiden saat ini, yakin deh kebijakan cabut subsidi bbm ini akan terjadi juga suatu saat. Kaya gak pada belajar dari sejarah. 7x ganti presiden dengan sistem yang sama (baca:demokrasi pancasila), keadaanya tetap sama, lebih buruk malah. Saya cuma ingin belajar mendudukkan sesuatu secara proporsional, pada tempatnya. Sebenernya ingin sih ngikutin nafsu nyalahin ini dan itu -mencari kambing hitam-, soalnya itu kerjaan yang paling gampang dan enak. Tapi saya pikir udah terlalu banyak juga yang melakukannya. Udah mainstream. Terlalu banyak orang-orang yang dengan mudah ngeshare berita 'sampah', hujat sana hujat sini, nyetatus negatif dan provokatif, merasa pendapat dan sikapnya paling benar, merasa lebih ahli dari yang beneran ahli, puas melihat orang lain jatuh, kecewa, sakit hati dan yang semacamnya. Sudah terlalu banyak hal-hal negatif yang terjadi di negeri ini. Miskin prinsip-prinsip hidup mulia dan teladan yang baik. 

Jadi sebelum saya mulai ikut-ikutan nyinyir, bersumpah serapah dan mencaci-maki, saya mau menengok dulu ke diri saya. Egois, gak berfikir panjang -yang penting saat ini saya bisa hidup enak sebodo amat kelak nasib anak cucu-, kurang empati -mau dilayani sebaik-baiknya tanpa mau tahu keriweuhan yang melayani-, maunya yang nyaman-nyaman aja, gak mau susah dikit, pemalas, komentator yang mahir untuk kebijakan pemerintah, kalau membela diri pol-pol an dan kadang gak logis dan masih banyak lagi. Manusia itu adalah hakim yang mashur untuk kesalahan orang lain tapi pengacara yang handal untuk diri sendiri (quote dari tulisan tere liye). Saya jadi merasa malu melihat diri saya sendiri. Dengan kualitas kaya gini sepertinya sangat tidak layak untuk judging siapapun. Saya gak ingin jadi kaya siapa itu namanya, adian napitupulu ya. Yang sebelumnya heboh teriak2 nyinyirin pemerintah tapi giliran kepilih jadi anggota dpr cuma bisa jawab 'pusing kepala gw' waktu ditanya tentang kenaikan bbm. Oohh ternyata gak segampang apa yg gw omongin ya ngurusin 200juta lebih kepala (mungkin gitu batinnya)

Saya gak mengabaikan pentingnya merevolusi sistem ya. I do agree sama gerakan yang mengusung ide mulia penerapan syariah islam secara kaffah. Membawa kembali aturan islam yang begitu lama dicampakkan. Menjadikan islam sebagai ideologi -way of life- ya,  bukan sekedar agama ritual yang hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya.

Tapi tidak bisa dinafikkan juga pentingnya merevolusi mental (minjem istilah pak jokowi gapapa ya :)) orang-orang di dalam sistem itu. Gak tau ya apa karna kelamaan dijajah atau karna kultur sosio budaya atau apa yang bikin orang-orang indonesia itu 'beda' dengan orang-orang luar sana. Susah diatur, ngotot, ngeyelan, terima beres, korup, ogah diajak prihatin dan kawan-kawan.

Jadi apa kesimpulannya? Gak tahu deh. Haha. Silahkan disimpulkan sendiri. Jadi ini ceritanya saya sedang belajar 'menulis' biar gak sekedar jadi ibu rumah tangga yang uplek sama urusan domestik rumah tangga aja. Bosen euy.

Jumat, 14 November 2014

APEL cinta

Hari ini ulang tahun saya yang ke 32. Dan pas kebetulan jadwal suami saya -yang bekerja nun jauh di sana- pulang ke jogja. Singkat cerita, sesampai di rumah dia memberikan sebuah kotak kecil hadiah ulang tahun buat saya. 

Seperti wanita pada umumnya, saya ngarep yang di dalam kotak itu sebongkah berlian, perhiasan atau paling tidak beberapa gram logam mulia. *wanita emang dianugrahi naluri 'buas' jika terkait pada barang-barang yang bisa dijadikan uang. Haha.

Namun ketika saya buka kotak itu.... taraaaaa...... ternyata isinya adalah.... apel. Iya A P E L. Bukaan... bukan apel dalam bentuk iphone 6 yang lagi tenar itu, melainkan sebutir apel merah 'biasa' dan selembar kertas yang isinya menceritakan alasan kenapa si apel yang terpilih menjadi sang kado.

Ya sutralah.... 5 tahun hidup sama dia membuat saya terbiasa menerima hal-hal yang 'seperti ini'. Tadinya saya ngarep alasan pemilihan apel itu agak filosofis. Misalnya, apel merah itu rasanya manis, semanis 5 tahun pernikahan kami. Atau kulit apel merah itu kaya antioksidan yang memperlambat penuaan dini agar kami bisa semakin lama bersama *maksa. Atau apalah, yang agak touching gitu.

Namun setelah saya baca selesai tulisan itu, gak ada itu kata-kata romantis yang bikin berkaca-kaca.Alasan yang dikemukakannya dalam surat itu begituuuu sederhana daann... *sampe gak bisa menemukan kata yang pas. 
Di kertas itu tertulis, kenapa apel bukan jeruk atau duren karena... kotaknya cuma cukup buat naroh apel bukan yang lain (soalnya kotaknya dibeli duluan, belom tahu mau diisi apa). Untung juga bukan diisi segerombol ciplukan atau beberapa biji kersen. Zzzzz..... Antara geli campur kesel. Akhirnya berakhir dengan tertawa sebel :D Tapi setelah saya ingat-ingat, kado ini lebih mending dibandingkan kado-kado yang dulu pernah diberikan untuk saya, seperti sekotak permen menta atau alat kerok masuk angin yang dibeli di bis seharga 5ribuan.

Ya seperti itulah dia (atau laki-laki pada umumnya ya), gak njlimet, gak romantis, gak detail, tekstual dan yang jelas apa yang dikatakan di mulut itu sama dengan di hati. Beda dengan wanita yang pengennya dimengerti isi pikirannya tanpa mau mengatakannya secara tersurat. Apa yang dikatakannya kadang tidak seperti yang diinginkannya. Lain di bibir lain di hati memang.

Dia memang tak sempurna. Sangat jauh dengan sosok ideal yang dulu sering saya impikan jadi pasangan hidup saya. Tapi karena ketaksempurnaannya itulah saya bisa mencintainya dengan sempurna. Seperti ketaksimetrisan apel yang sering membuatnya kurang indah dilihat, atau warna merahnya yang kadang tidak merata, namun tak ada yang mempermasalahkannya, bahkan hampir semua orang menyukai rasa manisnya. Jadi tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa dicintai banyak orang...

Oke. Cerita berakhir happy ending dengan pemotongan apel itu dan memakannya bersama anak-anak... :D

Senin, 03 November 2014

Tentang Keteladanan

Saya pikir negeri ini miskin keteladanan. Kekurangan sosok-sosok yang perilakunya bisa digugu dan ditiru. Hal ini dapat dilihat dari hebohnya pemberitaan tentang bu menteri susi beserta segala komentar pro maupun kontra yang menyertainya. Ada yang menganggap yang penting isinya, casing tidak masalah. Yang penting kerjanya, bukan rokok, tato dan bir nya. Yang penting profesional, tidak munafik dan bla bla bla. Hingga sampai pada penarikan kesimpulan yang ga logis, mending tatoan dan ngrokok tapi ga korupsi daripada pake jilbab dan terlihat alim tapi korupsinya segambreng. Emang pilihannya cuma itu ya? Kenapa ga milih yang udah pake jilbab, kerjanya oke, ga ngrokok, ga tatoan, ga nge-bir, ga korupsi pula. Ya itu tadi, karena sosok-sosok yang seperti itu sudah langka di negeri ini. Hampir punah malah. Ini juga akibat maraknya pola pikir 'pilihlah yang terbaik di antara dua keburukan atau pilihlah yang buruknya minimalis'. Saya bukan termasuk yang kontra sama bu susi sih. Malah angkat jempol saat lihat foto beliau gendong simbah-simbah tua dan menaikkannya di pesawatnya. Atau saat beliau mengeluarkan ide-ide segarnya saat rapat dengan para menteri. Saya hanya ingin menitikberatkan tentang pentingnya keteladanan sebagai unsur pembangun kemajuan bangsa.  Untuk orang-orang yang bisa mendudukkan masalah pada tempatnya sih ga akan kesulitan dengan situasi seperti ini. Tapi untuk orang-orang awam, pelajaran moral yang bisa diambil justru bisa sangat keliru. Misal, ngapain repot-repot sekolah tinggi, lulus smp aja bisa jadi menteri dan sukses. Kenapa ga berpikir kalau sekolah tinggi, yang lebih tinggi dari menteri juga bisa didapat. Atau, kalau mau jadi pengusaha berarti ga usah sekolah aja. Kenapa ga berpikir kalau sekolah tinggi dan jadi pengusaha itu lebih keren? Atau standar 'keren' yang dilihat itu juga sudah bergeser? Keren itu sekedar nyentrik, beda dan antimainstream? Entahlah. Banyak orang yang lantas mencari berjuta alasan untuk membenarkan perbuatannya yang sebenarnya tidak tepat. Nanti mungkin akan tiba saatnya ketika ada cerita seorang homo yang pengusaha sukses suka menyantuni orang miskin. Atau seorang perampok yang memberikan hasil rampokannya pada orang-orang miskin ala robinhood. Atau seorang psk yang sukses menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri dan cerita-cerita yang semacamnya. Masihkah kita bisa mengatakan  "yang penting apa yang sudah diberikan untuk masyarakat, bukan homonya, bukan rampoknya, bukan psk nya". Ini mah pemikiran liberal bin sekuler. Errr... rusak dunia.
Di jaman Nabi tidak sulit menemukan keteladanan-keteladanan yang menggetarkan hati baik yang diberikan Nabi maupun sahabat-sahabat beliau. Namun saat ini sulit menemukan pemimpin-pemimpin yang seperti itu. Pemimpin yang menyadari bahwa kelak dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Sebagai ibu yang mempunyai dua anak balita, saya terusik untuk ikut menyatakan pendapat, karena saya ingin memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang positif dan penuh teladan baik. Mungkin tidak banyak juga yang bisa saya lakukan. Tapi saya akan upayakan sekuat tenaga memberikan keteladanan-keteladanan kecil untuk anak-anak saya. Seperti kejujuran, hak milik, saling berbagi, saling memuji, saling mengalah, reward punishment dan yang semacamnya. Nilai-nilai hidup yang saat ini sulit dicari keberadaannya. Paling tidak, saya bisa memberikan jawaban yang 'lumayan' ketika kelak ditanya tentang keteladanan apa yang telah saya berikan untuk anak-anak saya. Dimulai dari yang kecil dari diri sendiri, dengan harapan semoga yang kecil ini bisa membesar dan sedikit memperbaiki kondisi bangsa ini yang sedang begitu terpuruk.