Jumat, 15 April 2016
Bergantung Pada Suami, Ada yang Salah??
Apa sih rasanya kalo ada orang yg kenal cuma sebatas nge add fren setelah baca status kita di fb, moro2 nge chat spt itu?
Pengen sih dilanjutin panjang lebar gitu, biar seru, tapi katanya menahan diri dari kesia2an selalu lebih baik kan ya? Jadi ya sudah lah, tahan hawa nafsumu buat muni2.
Btw saya kok jadi bete dengan kalimat, "biar gak terlalu bergantung pada suami" ya...
Adakah yang salah dengan "istri yang bergantung pada suaminya"? (Gak usah komen 'satu2nya tempat bergantung itu Gusti Allah' ya, di luar konteks)
Kesannya bergantung pada suami itu adalah perbuatan yang merendahkan harga diri para istri. Terlalu bergantung itu yang kaya apa? Sejauh mana?
Apakah kalo istri beli lipstik, bedak, gamis, atau kerudung pake uang suami, artinya terlalu bergantung pada suami? Sedangkan kalo beli barang2 itu pake uang sendiri lebih tidak bergantung? lebih bermartabat?
Apa istri2 yang gak bekerja, gak menghasilkan uang itu kedudukannya jadi lebih gak keren dibandingkan istri2 yang kerja atau menghasilkan uang?
Seolah sudah jadi pemikiran yang mendarah daging bahwa istri selayaknya harus bisa menghasilkan uang sendiri atau mandiri secara finansial. Biar gak ngrepotin suami, biar gak bergantung sama suami, biar gak 'bisanya cuma minta', biar gak disia-sia, biar gak inferior, biar posisi tawarnya gak rendah dan biar2 yang lain.
Bukankah suami itu ada, salah satunya buat 'digantungi'? Lewat kewajiban yang dibebankan padanya untuk menafkahi anak istri. Jadi, suami itu udah didesain dari sononya buat 'direpotin', buat 'digantungin' anak istri. Nah... lipstik, bedak, gamis dkk itu termasuk salah satu wujud menafkahi, memenuhi kebutuhan istri. Syukur2 kalo istri bisa beli itu semua pake uang sendiri. Itu namanya bonuus.
Lagian sebagian besar suami biasanya lebih senang saat 'digantungi' sama anak istri. Semacam ada pengakuan terhadap eksistensinya, bahwa dia dibutuhkan.
Kalo diberi nafkah dianggap sebagai bentuk ketergantungan istri terhadap suami, lha trus apa gunanya nikah?
Bukankan setelah menikah tak ada aku tak ada kamu melainkan kami? Jadi seharusnya gak ada yang ngrepoti dan direpoti. Adanya saling melengkapi.
Bukankah pernikahan bukan ajang pertunjukan superioritas vs inferioritas suami istri? Pernikahan ada untuk saling melengkapi, menutupi kekurangan satu sama lain.
Kalo dalam bahasa jawa, pasangan itu disebut Garwa: Sigaraning Nyawa (Separuh Aku kalo kata kang ariel). Jadi dua2nya saling melengkapi biar bisa utuh. Suami berkewajiban memberi nafkah istri, selanjutnya istri berkewajiban menjaga dan mengelola harta sang suami. Ituu...
Kalo dua2 nya sudah melakukan kewajibannya, niscaya mereka akan mengerti apa artinya kenyamanan , kesempurnaan cintaaa..
Note: tulisan ini gak membahas tentang istri2 yang mau gak mau tetap harus bekerja ya. Entah buat bantu perekonomian keluarga atau terpaksa jadi tulang punggung keluarga atau karena suami yang emang gak bisa digantungi atau karena hal2 lain yang semacamnya
Minggu, 10 April 2016
Kenapa Sih Gak Pakai ART?
Banyak saudara dan kawan yang melontarkan pertanyaan semacam itu ke saya. Ada pula yang masih ditambah "gak usah sayang-sayang amat sama duit" (nasib punya raut muka jutek, njengkelin, antagonis, tinggi hati, pelit dan medit).
Anggaplah mereka bertanya atas dasar kasih sayang dan rasa iba melihat kerempongan mamah mud136a (ngaku-ngaku) beranak tiga, tanpa art dan pejuang ldr-an yang ditengokin sebulan sekali (curcol detected). Jadi saya ya cukup nyengir-nyengir badak aja menjawabnya.
Sebenarnya situasi seperti ini bukanlah salah siapa-siapa. Bukan juga salah cinta dan kawan-kawannya. Adalah lebih karena keribetan saya sendirilah, drama ketiadaan ART berawal. Yaa... alasan utama daripada tidak menggunaken ART adalah karena saya-nya yang kurang merasa mampu menjadi nyonyah. Alasan yang wagu, terkesan dibuat-buat dan menyusahkan diri sendiri memang. Mau bagaimana, dari sananya saya gak terlalu hobi nyuruh-nyuruh (kecuali nyuruh-nyuruh anak-anak), pekewuh saat ngingetin hal-hal yang kurang pas, dan malas meluruskan banyak hal seperti yang saya mau. Ditambah kehadiran orang asing yang sering bikin saya mati gaya di rumah sendiri dan terpaksa melakukan pencitraan habis-habisan, seperti berpura-pura menjadi ibu bidadari nan baik hati yang gak hobby marah-marah hingga berusaha bobok siang syantik tanpa ngorok. Sungguh ibu bidadari lelah bang...
Pernah beberapa kali punya ART dari yang bibi-bibi sampai mbak-mbak remaja alay yang hobbynya pegang hp. Dan hasilnya... ya itu tadi. Cuma bisa grundelan dan menggerutu di belakang karena pekerjaan mereka gak sesuai dengan SOP yang saya inginkan atau biasa saya lakukan. Mau megingatkan atau membenarkan juga gak enak gitu. Rempong deh eik.
Alhasil karena sudah kebayang bakal seperti itu lagi maka saya putuskan untuk berusaha gak pakai jasa ART. Daripada cuma nambahin grundelan saya yang ujung-ujungnya bikin stres, baper dan gak bahagia sendiri. Yang ada tambah nge-hang lah ibu bidadari.
Ngomong-ngomong, tulisan ini tidak sedang membahas benar salah atau membandingkan mana yang lebih baik lho ya. Ibu-ibu kan bawaannya suka baper kronis. Isi tulisannya apa komentarnya kemana. Yang penting nyolot duluan, nyambung belakangan. Tulisan ini cuma membahas tentang preferensi. Pilihan. Kesukaan. Lebih khusus lagi pilihan saya, bukan pilihan ibu-ibu lain. Jadi gak ada bebar gak ada salah. Gak ada lebih baik gak ada lebih buruk.
Saya lebih suka balon ungu dibandingkan balon ijo, bukan berarti yang suka balon ijo jadi lebih cemen, nista atau gak mulia karena gak suka balon ungu kan ya? Bukan berarti juga saya nyuruh penyuka balon-balon ijo itu untuk beralih haluan suka balon ungu semua. Soalnya sempat ada yang berkomentar, "Trus kalau gak ada ART siapa yang ngurusin anak-anak saya mba? Saya kan kerja, gak kaya situ di rumah doang." Waduh, lha ya wanda to mba. Tau gak wanda? Waaa nda tau. Haha. Emang saya nyuruh situ buat gak pakai ART apa?
Own battle-own battle aja, begitu kata teman-teman di grup whatsap SMA. Battle saya saat ini lagi tidak membutuhkan jasa ART, semua masih bisa saya handle sendiri. Pasti berbeda dengan battlenya ibu-ibu lain dong ya. Ibu yang bekerja misalnya, atau ibu dari anak berkebutuhan khusus, atau sama-sama ibu rumah tangga tapi punya kesibukan luar biasa, atau ibu-ibu wirausaha atau ibu-ibu yang lain. Banyak kondisi, banyak warna. Gak perlulah disama-samakan jadi sewarna. Jadi kurang harmonis nantinya, gak indah. Emang belum cukup puas ya terjun di kancah perang abadi IRT vs Working mom, Susu formula vs ASI, lahiran normal vs secar dan yang sebangsanya itu? Masih mau ditambahi mulia mana ibu yang pakai ART atau tidak? Duh buuk, so wasting time. Buang-buang energi. Simpelin aja say, butuh ART ya pakailah jasanya. Yang sudah ketemu ART yang pas di hati ya sayangilah mereka, dieman-eman bahasa jawanya, karena cari ART itu seperti cari jodoh, cocok-cocokan.
Yang gak pakai ART ya biasa aja. Gak perlu sok jumawa, "guwe lho, anak tiga gak pakai ART, situ anak baru satu asistennya dua." Wiiiisss ndak penting sekali itu.
Sebenarnya buat yang menjalankan hidup tanpa ART, gak teramat sangat rempong seperti yang terlihat atau terbayang sih. Kadang memang ada saat-saat yang lumayan menguras emosi, tapi tidak setiap waktu juga. Awal-awal punya bayi, malam-malam yang hanya bisa tidur 2-3jam itu lumayan bikin emosi, sakit kepala yang entah kenapa suka datang di pagi buta itu juga bikin sensi. Kerapihan rumah yang hanya bertahan paling lama 10 menit kadang juga bikin keki. Mandi yang hanya bisa secepat bebek, gimanalah mau luluran atau latihan karaoke di kamar mandi dengan tenang, sementara si bocah menunggu dengan cucuran air mata di depan pintu. Dan banyak hal-hal lain yang kadang bikin mama berubah jadi momster. Tapi secara keseluruhan everything is un (der) control, eh... (meski sambil tertatih-tatih dan terbata-bata).
Ini ada beberapa tips ala saya yang lumayan bisa sedikit meringankan kerempongan mengurus rumah beserta bocah di dalamnya tanpa ART
1. Subkontrakkan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya bisa di-subkon-kan ke pihak lain. Misal: memasak bisa disubkonkan ke warung sebelah rumah (maksudnya beli matengan aja buk), nyuci nyetrika bisa diberikan ke laundry depan rumah, antar jemput sekolah bisa diberikan ke jasa antar jemput langganan. Jangan lupa, niatkan untuk membuka jalan rejeki pihak-pihak yang bersangkutan, siapa tau hal-hal kecil macam ini yang kelak akan mempermudah kita meraih surga-Nya
2. Turunkan standar kedisiplinan tentang kebersihan dan kerapihan rumah. Ini hal yang cukup berat dilakukan oleh mama-mama pengidap OCD.
Saat rumah berantakan penuh mainan, cukup hela nafas, ambil sapu dan sapulah segala macem printilan dan cenceremen di lantai ke dalam serok sampah. Niscaya anak-anak akan berebut menyelamatkan mainannya agar tak berakhir di tempat sampah.
3. Skip pekerjaan2 tak penting dalam hidup seperti SETRIKA. Bukankah kata orang "life is too short to iron your underpants" kan ya?
(Bilang aja males)
4. Pastikan persediaan indomih, coklat dan es krim mencukupi. Karena hanya mereka yang memahami kegundahan ibu-ibu yang jungkir balik menjaga kestabilan rumah setiap harinya.
5. Pastikan di dalam kotak obat selalu tersedia koyo, balsem, dan bodrex. Karena merekalah pengganti tangan suami untuk mengurangi sakit kepala dan pegal-pegal di pundak, lutut serta kaki.
6. Selalu aktifkan whatsap dan bbm sebagai ajang untuk menyalurkan emosi (baca:marah-marah) kepada bapaknya bocah sekalipun hanya akan dijawab standar dengan 'sabar ma, badai pasti berlalu'
7. Jangan terlalu memaksakan diri jadi ibu sempurna. Terlalu antipati sama pospak, bubur bayi instan, frozenfood pabrikan atau susu formula. Dijamin stresss!! Belajarlah jadi ibu yang bijaksana.
8. Sekali dua gak masalah nyampah di wall fb sendiri (jangan wallnya orang). Asal jangan keseringan. Terlalu sering mengeluh dan merasa paling rempong sedunia itu tidak bagus untuk kesehatan jiwa.
9. Upayakan selalu ada piknik time dan pijet time atau metime, karena mama juga (cuma) manusia, punya rasa punya hati... *nyanyi. Dan ingat, mama bukan wonderwoman- yang hatinya terbuat dari besi dan baja- ya. Boleh banget kalau sesekali butuh meneteskan air mata dan bahu untuk bersandar.
10. Dan tips terakhir ini lah kuncinya. Selalu katakan ke diri sendiri bahwa jadi ibu itu anugrah, dan punya anak itu berkah. Lihat wajah polos mereka. Rasakan dan resapi celoteh dan keceriaan mereka. Hanya soal waktu kok.
Ada berapa banyak pasangan di luar sana yang sangat menginginkan bisa merasakan kerempongan semacam ini. Jadi nikmat manalagi yg akan kau dustakan.
Oke. Demikian tulisan panjang lebar ini dibuat sekedar untuk menyemangati dan menjaga kewarasan diri. Setiap ibu akan menemukan "ritme" dan "cara"nya masing2-masing dalam menghadapi medan pertempurannya. Temukan dan nikmatilah!!
Sabtu, 02 April 2016
Makhluk Multitasking Itu Bernama Ibu
Masak sambil gendong bayi, sambil nyusuin, sambil apdet status bbm.... bisaaaa
Telponan sambil main candy crush saga sambil nonton korea (sok2an drakor, asline uttaran).....keciiiilll
Rebus air buat mandi bayi, sementara nunggu air panas beresin tempat tidur yg abis dipake perang2an duo balita, sambil watsapan ngomongin harga cabe, rio haryanto, sby vs jokowi hingga demo supir taksi.... sangguup
Kadang fisiknya masih di depan kaca -sambil nyisir rambut yg udah 2 hari gak disisir- tapi pikiran sudah jauh mengembara meninggalkan si raga....
Habis ini masak nasi, ngucekin popok mumpung bayi tidur, nyapu ngepel lantai, jangan lupa sms tukang galon buat anterin galon, beli pulsa listrik, jemur dan lipet cucian, benerin genteng bocor, nyari kayu bakar di hutan, zzzzz..... dst dst dst.
Saking banyaknya tab pikiran yg dibuka, banyak hal yang menjadi tak optimal. Pas masak nasi, lupa rice cooker gak dicetekin. Ketauannya waktu mau nyuapin bocah, buka magic com, dan menemukan beras yang belom berubah wujud.
Pas itu pula pas bayi udah bangun dari tidur setengah jamnya dan mulai owek2 manja . Diiringi backsound "mah udah laper banget nih", si mama buru2 ke kamar buat ambil bayi sambil bilang "tunggu bentar lagi yaa"....
Karena buru2 kaki tak sengaja kecocok printilan mainan yang terserak di lantai. Terpaksa berhenti sejenak buat..... marah2 duluk. Wkwk
Dan Semua itu terjadi di satu waktu, bersatu padu menghasilkan orkestra yang sungguh syahdu *mode lebay diaktifkan.....
Itulah sebabnya ibu2 seharusnya minum aqua 2x lebih banyak dari bapak2 biar gak kaya si cinta yang gagal ngenalin rangga di bandara setelah 14 tahun penantian panjangnya karna lupa minum aqua (bukan iklan)
Kemultitaskingan ibu itu gawan bayi (dari sononya-terkait dengan struktur otak) dan merupakan salah satu kelebihan wanita. Hamdalah dikasih anugrah berupa kemampuan multitasking oleh Gusti Allah. Apa jadinya kalo ibu2 gak punya kemampuan itu? Niscaya 24 jam sehari takkan cukup untuk menyelesaikan kerjaan rumah tangga yang segambreng tanpa ujung pangkal itu.
Meski begitu, multitasking yang terus2an tanpa jeda rentan menghadirkan stress tingkat dewa. Komputer aja perlu direfresh, sama halnya dengan multitasking mom, perlu direfresh juga biar gak gampang eror. Salah satu cara merefreshnya adalah dengan mengoptimalkan peran para bapak, selain piknik dan selfi tentu saja.
Bersabarlah wahai bapak saat malam tiba mendadak istrimu bete dan uring2an. Karena energinya sudah terkuras habis untuk hal2 runsing seperti cerita di atas. Tinggallah lelah yang tersisa. Cukup sediakan telinga untuk mendengar keluh kesahnya dengan sabar. Sediakan bahu lebarmu untuk bersandar. Berilah dia waktu jeda sesaat untuk rehat. Sekali2 kasih surprais istri dengan bikinin indomih telor pake cengek sama es milo, atau beri dia waktu meluruskan punggung sambil mbaca novel kesukaannya dengan tenang tanpa rengekan balita2 itu. Sungguh itu hadiah yang lebih berharga dibanding dikasih LM 5 gram (bo'ooong)
Buat bapak2 yg ldr an, cobalah jangan hanya nanyain kabar anak2 tok, tanyakan juga kabar ibunya anak2, masih 'waras' kah mah? Ciptakanlah pembicaraan yang berkualitas setelah seharian ia hanya bisa ngobrol dengan balita. Kalo pas pulang, sesekali gantikanlah tugasnya ngurus urusan rumah tangga. Sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat bisa menjadikan harinya bersemangat. Biarkan ia tidur sedikit lebih lama, atau beri kesempatan dia untuk memainkan gitar berdebunya dan meluapkan emosinya melalui nyanyian sumbangnya. *curcol ni yee
Jadi para bapak, bantulah para ibu untuk bisa bermultitasking dengan sehat demi kesehatan jiwa istri, karena sungguh multitasking itu sangat menguras energi dan mengaduk2 emosi
Minggu, 13 Maret 2016
Niat Baik yang Bertepuk Sebelah Tangan, Balada Sapu Ijuk
Pernah ngerasa kecewa gak saat niat baik kita ternyata bertepuk sebelah tangan?
Ini cerita tentang kemarin malam. Saat kami sedang makan di alun2 kota, datanglah seorang bapak sepuh dengan membawa beberapa biji sapu ijuk dan sulak. Si bapak menawarkan dagangannya ke pengunjung warung. Sepiii....gak ada yang tertarik. Awalnya sempet ragu-ragu, beli gak ya secara lagi gak butuh amat barang-barang itu. Lagian ntar dikira sok baek sama orang-orang (iya saya mah orangnya ge-er an). Tapi akhirnya saya putuskan beli aja deh, kasihan si bapak udah sepuh, jualan malem-malem pula. Lagian bapaknya murah senyum, kayanya ramah ni.
Detik si bapak mau pergi dari warung saya panggil "Paak!" Si bapak gak denger, sekali lagi "Paak!" belom nengok juga (terlalu lembut mungkin suara saya) akhirnya para pengunjung warung berinisiatip membantu manggil si bapak "Paaaakkk... paaakk!!!" kompak bak paduan suara. *Berasa pengen ambil baskom buat ngumpetin muka.
"Pak sapune setunggal, pinten?" tanya saya. Jawab si bapak, "Monggo bu (kenapa gak mbak aja sih, merusak mood ini) 30ribu mawon, niki sae sapune."
Mendadak rasa simpati saya sama si bapak penjual musnah. Oke deh pak, saya tak pura-pura bego gak bisa bedain sapu 10ribuan sama 30ribu. Saya kasih 50ribu ke si bapak dan lanjutin makan. Si bapak lalu nanya "Niki susuk bu?" (belom puas nuthuknya pak??), Saya jawab dengan anyel "Nggih pak, susuk 20ewu" sambil mbatin nek njenengan jujur sakjane mbotensah susuk pak.
Sampe rumah saya pake sapu yang katanya sae itu buat nyapu daaan taraaaaa..... mbrodooool semua itu ijuknya.
Paak, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat... (bacanya sambil bayangin yang ngomong itu cinta ke rangga yaah... 😗 )
---the end----
Pasti deh pastiiii adaaa aja yang bakal komen nyolot "Udah iklasin aja, gak seberapa 30ribu ini, idep-idep nolongin bapaknya sapa tau bapaknya bla bla bla bla......." atau "Kalo emang niat nolong mah nolong ajaa gak usah pamrih, gak iklas malah gak dapet apa-apa." Atau "Jangan suuzon, sapa tau bapaknya lagi kesulitan bla bla bla bla..." Atau "Masih mending jualan, daripada ngemis." De el el, de es be e te ce. Hahahaha.... karepmu.
Menurut saya lho ya, ini bukan tentang besarnya nilai uang. Bukan tentang iklas gak iklas. Ini adalah tentang rasa simpati yang terkhianati, juga apresiasi yang tercederai. Eaaa...uopooh to iki.
Rasanya geloo gitu saat niat baik kita hanya dihargai dengan sejumlah materi yang gak seberapa. Saat kejujuran hanya seharga beberapa puluh ribu.
Rasanya kezel gitu kalo dimodusin atau dimanfaatin.
Mereka memanfaatkan kondisi kemelasan mereka untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dan itu bukan cara yang elegan, bukan cara yang berkah. Yakin gologokin gak akan bertahan lama.
Beda lho ya rasanya ngasih sedekah langsung 20ribu sama beli sapu yang kita tau harganya 10ribu tapi di-marked-up jadi 30ribu. Sekalipun nilainya sama, niatnya sama tapi rasanya beda. Yang satu rasanya bahagia yang satu rasanya nelangsa. Haha. Ya iyalah gimana sih rasanya dibohongi.
Dan hal-hal seperti ini berkali-kali saya alamin (nasib jadi mamah cantik baik hati bak ibu peri yang mudah diboongi). Kalo istilah jowone "wis ditulung malah menthung", dibaikin malah manfaatin. Dari mulai ditipu tukang mesin cuci, ditipu tukang taman, diutangin gak dibayar dan masih banyak yang lain. Dan biasanya orang-orang ini terlihat baik, ramah, bijak, suka menolong dan tidak sombong. Ya begitulah, memang kita gak bisa menilai orang dari tingkat kemelasan nya saja.
Yak jadi apa inti cerita ini? Apalagi kalo bukan curcoooolll. Haha. Bahwa kita tetep harus hati-hati mau semeyakinkan apapun penampakan dan ucapan seseorang . Bahwa niat baik itu tak selalu berbalas manis. Tapi jangan sampe ketakmanisan itu bikin kita kapok buat berniat baik karna katanya bahkan baru niat aja udah diitung pahalanya kan ya? 😇
Ini cerita tentang kemarin malam. Saat kami sedang makan di alun2 kota, datanglah seorang bapak sepuh dengan membawa beberapa biji sapu ijuk dan sulak. Si bapak menawarkan dagangannya ke pengunjung warung. Sepiii....gak ada yang tertarik. Awalnya sempet ragu-ragu, beli gak ya secara lagi gak butuh amat barang-barang itu. Lagian ntar dikira sok baek sama orang-orang (iya saya mah orangnya ge-er an). Tapi akhirnya saya putuskan beli aja deh, kasihan si bapak udah sepuh, jualan malem-malem pula. Lagian bapaknya murah senyum, kayanya ramah ni.
Detik si bapak mau pergi dari warung saya panggil "Paak!" Si bapak gak denger, sekali lagi "Paak!" belom nengok juga (terlalu lembut mungkin suara saya) akhirnya para pengunjung warung berinisiatip membantu manggil si bapak "Paaaakkk... paaakk!!!" kompak bak paduan suara. *Berasa pengen ambil baskom buat ngumpetin muka.
"Pak sapune setunggal, pinten?" tanya saya. Jawab si bapak, "Monggo bu (kenapa gak mbak aja sih, merusak mood ini) 30ribu mawon, niki sae sapune."
Mendadak rasa simpati saya sama si bapak penjual musnah. Oke deh pak, saya tak pura-pura bego gak bisa bedain sapu 10ribuan sama 30ribu. Saya kasih 50ribu ke si bapak dan lanjutin makan. Si bapak lalu nanya "Niki susuk bu?" (belom puas nuthuknya pak??), Saya jawab dengan anyel "Nggih pak, susuk 20ewu" sambil mbatin nek njenengan jujur sakjane mbotensah susuk pak.
Sampe rumah saya pake sapu yang katanya sae itu buat nyapu daaan taraaaaa..... mbrodooool semua itu ijuknya.
Paak, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat... (bacanya sambil bayangin yang ngomong itu cinta ke rangga yaah... 😗 )
---the end----
Pasti deh pastiiii adaaa aja yang bakal komen nyolot "Udah iklasin aja, gak seberapa 30ribu ini, idep-idep nolongin bapaknya sapa tau bapaknya bla bla bla bla......." atau "Kalo emang niat nolong mah nolong ajaa gak usah pamrih, gak iklas malah gak dapet apa-apa." Atau "Jangan suuzon, sapa tau bapaknya lagi kesulitan bla bla bla bla..." Atau "Masih mending jualan, daripada ngemis." De el el, de es be e te ce. Hahahaha.... karepmu.
Menurut saya lho ya, ini bukan tentang besarnya nilai uang. Bukan tentang iklas gak iklas. Ini adalah tentang rasa simpati yang terkhianati, juga apresiasi yang tercederai. Eaaa...uopooh to iki.
Rasanya geloo gitu saat niat baik kita hanya dihargai dengan sejumlah materi yang gak seberapa. Saat kejujuran hanya seharga beberapa puluh ribu.
Rasanya kezel gitu kalo dimodusin atau dimanfaatin.
Mereka memanfaatkan kondisi kemelasan mereka untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dan itu bukan cara yang elegan, bukan cara yang berkah. Yakin gologokin gak akan bertahan lama.
Beda lho ya rasanya ngasih sedekah langsung 20ribu sama beli sapu yang kita tau harganya 10ribu tapi di-marked-up jadi 30ribu. Sekalipun nilainya sama, niatnya sama tapi rasanya beda. Yang satu rasanya bahagia yang satu rasanya nelangsa. Haha. Ya iyalah gimana sih rasanya dibohongi.
Dan hal-hal seperti ini berkali-kali saya alamin (nasib jadi mamah cantik baik hati bak ibu peri yang mudah diboongi). Kalo istilah jowone "wis ditulung malah menthung", dibaikin malah manfaatin. Dari mulai ditipu tukang mesin cuci, ditipu tukang taman, diutangin gak dibayar dan masih banyak yang lain. Dan biasanya orang-orang ini terlihat baik, ramah, bijak, suka menolong dan tidak sombong. Ya begitulah, memang kita gak bisa menilai orang dari tingkat kemelasan nya saja.
Yak jadi apa inti cerita ini? Apalagi kalo bukan curcoooolll. Haha. Bahwa kita tetep harus hati-hati mau semeyakinkan apapun penampakan dan ucapan seseorang . Bahwa niat baik itu tak selalu berbalas manis. Tapi jangan sampe ketakmanisan itu bikin kita kapok buat berniat baik karna katanya bahkan baru niat aja udah diitung pahalanya kan ya? 😇
Langganan:
Postingan (Atom)


