Sabtu, 12 Desember 2015

Sekolah TK Kok Udah Mahal

Cerita berawal dari niatan saya mendaftarkan berry bella sekolah di sebuah tk it sekitaran rumah. Udah nanya2 tentang teknis dan metode pembelajarannya sama bu guru dan ditutup dengan pertanyaan "jadi saya harus bayar berapa totalnya?". Bu guru jawab, sekitar 10 juta buk (2 anak) (ditambah spp 170ribu/bulan/anak). 50% dibayar 2 hari lagi pas ngumpulin berkas pendaftaran. Yang 50%nya dilunasi nanti sebelum ajaran baru mulai. Harus cepet2 buk, nanti keburu kuotanya habis. Oke. Demi menjaga wibawa sebagai mamah yang (sok) cool, tentu saya jawab dengan biasa dan muka antusias. Oh ya ya buk, besok saya ke sini lagi. Padahal eh padahal... ada yang teriak2 di pojokan hati saya. Who's that? Rupanya naluri irit ala emak2 saya yang memberontak. Gilingan 10 jeti se-brugh-an dan kamu iya2in aja?? Hitung dulu sono anggaran mana yang mesti dipangkas. Wkwkwk.
Jadilah saya survey tentang uang masuk TK ke beberapa teman yang punya anak TK (paud). Dan kebanyakan mereka menjawab ya sekitar 4-5juta/anak itu wajar. Malah ada yang lebih dari 8 juta lho. Iih wooow. Ckckck.. emaknya kurang piknik nih, gak gaul, gitu aja takjub. Batin saya,  lha kok mahalan ini daripada uang spp jaman saya kuliah dulu yak. Yaelah, It's so yesterday mak, gak usah dibahas.

Mahal?? Relatif. Tergantung siapa yang jawab. Tapi secara pukulrata bisa dibilang "lumayan", karena banyak juga tk-tk dengan tarif dan spp jauh di bawah itu.  Dan  "tarif mahal" itu seolah dimaklumi dengan dalih apa sih yang mahal kalo buat anak, investasi masa depan, ono rego ono rupo, mau dapat sekolah kanak2 yang bagus? Ya modal dong.
Daan diakui atau tidak, disadari atau belom, pelan-pelan dan sangat halus, mulailah pendidikan kanak2 dijadikan ajang bisnis dan mengeruk keuntungan. Terbukti dengan menjamurnya tpa/daycare/paud/tk yang menawarkan visi misi dan metode pembelajaran dangkik2 yang luar biasa menggiurkan. Ditambah lagi dengan makin berkurangnya peran ibu di rumah karena harus ikut berjibaku di luar rumah untuk membantu suami memenuhi urusan cicilan kpr dan cicilan kartu kredit . Akibatnya banyak ibu yang akan berusaha 'menebus' kesalahannya -karena terpaksa gak bisa 'ngurusin' anaknya- dengan berusaha menyekolahkan anaknya ke sekolah yang "bagus" (berbanding lurus dengan biaya) sebagai kompensasinya. Demi apaa...? Masa depan si kecil. Prinsip mahal tak apalah, yang penting anakku terurus menjadi harga mati. Lama-kelamaan definisi mahal itu jadi sangat relatif, bahkan hilang. Gak ada yang mahal selama itu buat anak. "Semua yang kulakukan akhirnya kan juga buat anak", kata si ibu. Selesai. Si ibu kembali ke dunia kerja dan makin semangat banting tulang untuk masa depan anaknya.
Jadi inget teori ekonomi, di mana ada permintaan di situ ada penawaran. Karena permintaan akan sekolah kanak2 yang seperti ini makin banyak, maka pasar merespon dengan memunculkan sekolah2 yang 'diinginkan' si peminta itu. Fair?? Faiiiirrrr. Ada yang salah?? Gak adaaaa
Gimana dengan orang-orang yang gak mampu membayar jumlah segitu untuk mendapatkan kualitas yang sama -yang sebenarnya juga mereka inginkan- dengan mereka yang mampu bayar? Yaa itu DM (derita mereka). Harus kerja kerja kerja lebih keras lagi dong, kalo perlu jangan tulang doang yang dibanting. Atau disekolahin ke TK biasa aja, gak perlu yang IT2an biar lebih murah. Tapi TK biasa gak terlalu kuat prinsip agamanya. Gimana dong? Ya udah, berati harus mau berkorban lah, utang kek apa gimana. Fyuuhhh....

Kejam? Bisa jadi. Dan kabar buruknya, ini baru secuil wajah kejam kapitalisme yang tampak. Di alam kapitalis, orang miskin dilarang sakit dan dilarang sekolah itu udah biasa. Wait!! Kapitalisme apaan? Googling atuh, buanyaaak yang ngebahas. Alhamdulillah yang masih merasa hidupnya baik2 aja dan gak merasa terdampak dengan kapitalisme. Masih bisa apdet status dan hahahihi tiap hari. Tapi bagi orang-orang yang kurang beruntung, jerat kapitalisme ini makin lama makin mencekik dan mendholimi mereka (sekalipun mungkin mereka belom menyadari kalo makin beratnya hidup di jaman ini adalah akibat diterapkannya kapitalisme). Ah, i don't care sama kapitalisme2an dan politik2an yang penting anak gue aman tentram dan hidup nyaman. Ya terserah situ sih. Itu pilihan. Tapi sebelum memutuskannya, bertanyalah pada hati nurani. Dan bayangkan akan jadi seperti apa kira2 dunia tempat hidup anak-anak kita kelak 20-30 tahun yang akan datang jika kita gak care sama sistem hidup yang kita lakoni saat ini.

Saya gak menyamaratakan atau menyalahkan  semua paud/tk it itu profit oriented ya. Secara ngurusin balita itu emang kerjaan berat dan menguras energi. Apalagi balita2 itu bukan anak kita sendiri. Kecuali orang2 yang bener2 cinta anak, sepertinya males kalo suruh ngurusin anak orang tanpa atau dengan bayaran kecil. Pasti ngurusinnya juga alakadarnya. Babysitter aja gajinya minim sejuta/bulan. Dan paud/tk2 itu ada karena kita yang butuh juga kan.

Panjang euy. Jadi seriusan gini. Haha. Ya udah deh. It's just my opinion. Cerita menjelang tidur. Bosen nulis ldr-an mulu :D

Mendadak Bisa Baca



Rasanya hati saya terharu dan bungah tak terhingga (lebay) saat tiba2 Berry ambil majalah ini dan mulai membacanya selesai dari halaman 1 hingga 24. Beneran ni anak udah bisa mbaca? Meski pas saya tanya "Ceritanya apa Ber?", dia kebingungan dan menjawab "Mama aja baca sendiri". Iya, dia belom bisa mengkoneksikan apa yang dibaca dengan isi bacaan. Fokusnya pada membaca bukan memahami isi cerita. Gapapa wis, namanya juga belajar ya Ber, butuh proses.

Inget kejadian kocak saat dia 4 taun jaman belajar mengeja dulu  i, en o: no, ve a: va, dibaca? a van za atau be er i, dibaca? mandiri   😅 Rupanya saat itu dia hanya ngapalin logo bukan membaca. Mengeja bisa tapi membaca belom.
Pernah melewati masa saat saya ngotot pengen dia bisa baca umur 4taun ini. Terjebak pada membandingkannya dengan anak sepantarannya yang udah bisa lancar membaca. Dan hasilnya.... gatot. Dia tidak menikmati proses, dan saya jadi lebih stress. Ya sudah, sabar itu selalu lebih baik. Dan alhamdulillah saya hanya harus menunggu setahun untuk itu.

Iya iya, untuk ukuran anak jaman sekarang, 5tahun bisa baca itu biasa aja. Tapi biasa buat seorang ibu bisa jadi istimewa buat ibu yang lain. Buat saya, bisa menjadi yang pertama menyaksikannya mulai membaca itu adalah emejing moment, tsaah 😄 Secara dia hingga sekarang masih cuti (baca:mogok) TK sudah setaun lebih dan saya juga gak pernah masukin dia ke les calistung dan les2 lainnya. Soalnya saya termasuk golongan mama irit yang menganut prinsip "semua akan bisa pada waktunya". Jadi saat berry si 5 tahun blas belom bisa gambar bentuk atau bella si 3 tahun masih kacau toilet trainingnya yaa udah "berati durung wayahe"😜 Prinsip ini sangat efektif lho untuk menghibur diri-sendiri di tengah maraknya perlombaan ibu2 yang ingin menjadikan anaknya super di usia sedini mungkin.

Jadi moms, tetap bersabarlah karena semua akan bisa pada waktunya. Cemungudh!!!😉

Sabtu, 05 Desember 2015

Resensi Novel "Pulang"



"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...."

Sekali lagi Tere Liye berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai kata, mengolah rasa di novel terbarunya yang diberi judul "Pulang". Diterbitkan oleh Republika Penerbit, September 2015, novel setebal 400 halaman ini menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Bujang yang kelak kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Si Babi Hutan. Julukan yang diperoleh karena keberhasilannya mengalahkan seekor babi hutan raksasa seorang diri di jantung rimba Sumatra dan menyelamatkan nyawa Tauke Muda, sahabat bapaknya.

Cerita selanjutnya adalah tentang kisah hidup Bujang muda di perantauan setelah diangkat anak oleh Tauke Muda, pemimpin tertinggi keluarga Tong, salah satu penguasa ekonomi hitam di negeri ini. Proses dia bertransformasi dari anak rimba dengan kaki licak oleh lumpur tanpa alas kaki hingga menjadi pemuda jenius pemegang dua titel master dari luar negeri diceritakan dengan menarik. Keinginan kuatnya menjadi tukang pukul di keluarga Tong membawanya bertemu dengan orang-orang pilihan yang kemudian menjadi guru sekaligus sahabatnya dalam menempa mental dan fisiknya. Seperti tokoh Kopong si tukang pukul jagoan yang sangat menyayangi Bujang, Frans si Amerika yang menjadi guru Bujang di bidang akademis, Guru Bushi sang master samurai nan bijak dari Jepang, Salonga si penembak jitu yang temperamental, serta tentu saja Tauke Muda si pemimpin utama keluarga Tong.
Satu hal yang dipegang teguh oleh Bujang, yaitu janjinya kepada mamaknya sebelum merantau, untuk selalu menjaga perutnya bersih dari makanan dan minuman haram dan kotor.

"Beberapa pakar ekonomi menaksir nilai shadow economy antara 18-20% GDP dunia. Angka sebenarnya, dua kali lipat dari itu. Di negeri ini saja, dengan total produk domestik bruto per tahun 800 miliar dolar, maka nilai transaksi shadow economy lebih dari 320 miliar dolar. Setara dengan 4.000 triliun rupiah, 40% GDP."

Dengan berlatarkan masalah shadow economy (ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja), Tere Liye dengan cukup detail menguraikan seperti apa intrik-intrik yang dilakukan tangan-tangan penguasa ekonomi pasar gelap ini dalam melakukan bisnisnya. Negosiasi tingkat tinggi, penyuapan, permainan media hingga pembunuhan yang dilakukan dalam senyap menjadi bumbu penyedap dalam cerita. Seolah menghentak pikiran kita bahwa konspirasi itu memang nyata adanya. Bahwa mafia itu ada. Bahwa ada tangan-tangan berkuasa yang mengendalikan  kasus-kasus besar yang terjadi di indonesia. Nama-nama yang tak terekspos media namun sebenarnya dialah yang berada di balik nama-nama besar konglomerat kelas kakap di negeri ini. Menjadi penguasa yang sesungguhnya dari banyak bisnis besar di Indonesia. Dan kesemuanya itu diatur dengan sangat rapi oleh organisasi shadow economy yang ruang gerak serta kekuasaannya ternyata mendunia.

Di novel ini pula kita akan diajak berkeliling menikmati suasana beberapa kota di dunia, mulai dari mencekamnya pedalaman rimba Sumatra, padatnya kota Jakarta, gemerlapnya Hongkong, pengapnya sebuah sudut kawasan miskin di Tondo Manila, hingga kedamaian salah satu pedesaan di Tokyo, Jepang. Seolah kita bisa ikut merasakan apa yang sedang dialami si tokoh utama.
Cerita ditutup dengan adegan-adegan heroik saat Si Babi Hutan harus memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh "orang dalam", sahabat dekatnya sendiri. Adegan-adegan laga yang diceritakan dengan detail membuat kita ikut berimajinasi tentang serunya pertempuran itu.

Gaya bercerita novel ini mengingatkan Saya pada gaya penceritaan dua novel sebelumnya yang berjudul "Negeri Para Bedebah" dan "Negeri di Ujung Tanduk". Cepat, bernas, dan tidak membosankan. Meloncat dari satu cerita ke cerita yang lain secara berkesinambungan dengan beberapa alur flashback.  Dengan jalinan konflik yang rapat kita dibuat enggan beranjak hingga tiba di halaman terakhir. Tanpa sadar kita akan dibuat terpukau dengan sosok Bujang seperti halnya mendadak kita merasa kagum pada sosok Thomas di dua novel tersebut. Bujang yang tak punya rasa takut, jenius, negosiator handal, kokoh dalam memegang prinsip serta tentu saja jago berkelahi dan menembak.

Membaca novel ini seolah kita ikut terhanyut di dalamnya. Mereka-reka benarkah hal-hal di dalam cerita itu sungguh nyata terjadi di negeri ini. Bahkan saya dibuat penasaran, apakah benar, bahkan hingga "siapa yang jadi presidennya" bisa diatur oleh segelintir penguasa ekonomi bayangan ini? Apa benar rumah-rumah mewah di ibu kota itu hanyalah kamuflase untuk menutupi benteng-benteng kokoh yang dibangun di baliknya oleh si penguasa ekonomi hitam untuk menjalankan aktifitas bisnisnya? Di sini Tere Liye terlihat begitu menguasai tema cerita, ditambah lagi dengan data-data pendukung berbasis riset yang disajikannya di awal cerita.

"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran."

Bukan Tere Liye jika tak punya "pesan" dalam setiap ceritanya. Seperti biasa, dia selalu bisa menyuguhkan pesan moral, pemahaman baru, prinsip hidup, serta keteladanan dengan sangat mengalir, tanpa menggurui dan mengena di hati.

Bahwa seburuk atau sekelam apapun masa lalu kita, kita berhak menafsirkan ulang seluruh pemahaman hidup kita. Kita berhak mendefinisikan kembali mau menjadi seperti apa diri kita saat ini. Sekuat apapun kita berusaha, kita tidak akan mampu melawan kenangan masa lalu yang menyesakkan atau hari-hari menyakitkan yang pernah kita lewati. Justru peluklah segenap kenangan-kenangan buruk itu. Dekap erat segala keresahan, kebencian, keraguan dan kecemasan, karena hanya dengan itulah kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri.  Ingatlah bahwa kita akan selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari terburuk sekalipun. Seperti matahari yang tak pernah alpa untuk terbit tak peduli seburuk apapun hari itu.
Ingatlah bahwa Tuhan tak pernah menutup pintu pengampunan-Nya. Bahkan Dia selalu memanggil semua hamba-Nya untuk selalu "pulang" kembali kepada-Nya. Dan kita berhak untuk menempuh jalan itu.


Kamis, 03 Desember 2015

Awas!Lele Ikan Paling Kotor Sedunia...

Awas! Lele ikan paling kotor, satu suap mengandung 3ribu sel kanker..... ditambah ilustrasi gambar masakan lele dijejerkan dengan satu kolam/genangan air yang full sampah dan satu genangan berisi bangkai tikus ngambang (saya gak sertakan gambarnya, soalnya jorok, gak ilang2 dari otak). Ya iyalah  yang nonton judul sama gambarnya doang langsung deh muntah2  gak mau makan lele lagi. Yang gak doyan lele tambah sumringah 'untung gue gak doyan lele'. Fiuuhhh

Langkah pertama yang seharusnya dilakukan ketika baca judul yang woow itu adalah baca isi artikelnya dulu lalu pikirkan kira2 artikel itu valid gak. Oohh ternyata kejadiannya di cina toh. Tigaribu sel kanker di judul itu darimana asalnya, gak disinggung blas di dalam isi artikel. Itu ciri2 artikel yang gak mutu. Trus gambar2 di ilustrasi itu bener gak gambar2 dari peternakan lele yang diceritakan itu? Atau hanya gambar2 yang dicomot sembarang untuk mendramatisir judul yang udah dramatis itu?

Baru deh bahas isinya. Di artikel itu diceritakan ada 7 kolam lele yang di sekitarnya dikelilingi kandang babi dan kandang ayam. Tumpukan sampah mengapung di tengah kolam dengan bau menyengat. Kotoran dari kandang babi, ayam dan wc peternak dibuang semua ke kolam lele. Dan itu udah berlangsung bertahun2. Hoek dong muntah2. Fiuuhhh lagii

Saya bukan orang peternakan sih, tapi kalo kondisinya sehoror itu apa iya lelenya gak penyakitan trus mati? Apa yang mau dipanen dong? Iya sih, lele itu emang lebih tahan banting terhadap kondisi lingkungan yang kurang bagus jika dibandingkan ikan2 lain. Makanya ada yang miara lele emang ditujukan untuk menjaga kualitas perairan bukan untuk dibudidayakan dan selanjutnya dikonsumsi.Tapi segak bagusnya kondisi lingkungan tempat hidupnya, ada syarat minimal si lele itu bisa tumbuh dengan baik (kalo ditujukan untuk budidaya ya). Kalo diekspos pake segala macem kotoran dan sampah itu tiap hari yakin deh si lele bakal cepet penyakitan diserang bakteri sama jamur trus mati. (Coba tanya peternak2 lele di Indonesia ya, bukan yang di cina). Lagian jaman sekarang budidaya lele di indonesia udah modern juga kali. Kalopun ada satu dua peternak yang masih suka ngasih tambahan makan kotoran ke lelenya ya gak bisa digebyah uyah juga semua pembudidaya lele itu pasti ngasih makan kotoran ke lelenya. Pembudidaya2 lele modern pasti berang kalo baca isi artikel itu. Susah2 miara lele, dikasih pelet, probiotik, diganti airnya dengan teratur, diobatin kalo penyakitan, dikasih vaksin. Trus tiba2 ada yang semena2 bilang makan lele bikin kanker.

Kalo model beternaknya kaya di artikel itu, ya iyalah lele bisa membahayakan kesehatan. Potensi cemaran logam berat dan cemaran bakteri patogen mengancam para penggemar lele. Makanya untuk menyimpulkan sesuatu harus dilihat fakta di lapangannya gimana. Karena kita di indonesia yang liat peternak2 lele di indonesia. Ambil samplingnya menyeluruh. Jangan cuma karena liat satu peternakan lele yang jorok trus di judge semua peternakan lele juga kaya gitu. Yang setres nantinya kita sendiri lho. Makan ini takut itu takut. Makan ini bahayaitu bahaya. Makan ini bikin kanker itu bikin kanker. Eerrr...

Terlepas dari bener gaknya berita itu, di islam ada konsep hewan jalalah. Hewan jalalah adalah hewan yang secara sengaja/tidak makan pakan najis/kotoran. Untuk bisa mengkonsumsinya biasanya hewan2 ini harus dikarantina beberapa hari dengan tidak diberikan pakan kotoran itu. Gak tau deh kalo lele yang dikasih tambahan pakan kotoran itu dilakukan apa enggak. Kayanya ada istilah berok pada budidaya lele. Biasanya lele yang dipiara di tempat2 'kotor' sebelum dipanen dipelihara di air yang mengalir dulu selama beberapa hari sebelum bisa dikonsumsi.

Sayangnya kita gak bisa mengetahui lele yang kita beli itu dibudidayakan seperti apa, dikasih pakan apa dll. Sebenarnya dalam dunia pangan ada yang namanya konsep traceability/keterlacakan yang terkait dengan keamanan pangan. Sederhananya gini, kita bisa melacak riwayat/asal usul dari makanan yang kita makan. Misalnya diproduksi siapa, kapan, batch berapa, komposisinya apa aja, siapa distributornya, siapa retailernya dst dst hingga sampe ke tangan kita. Berlaku juga untuk produk2 perikanan. Kita bisa menelusuri riwayat sepotong ikan sarden yang kita makan. Ditangkap dimana, kapan, dikalengkan di pabrik mana, ditambah bumbu apa, dijual ke sispa dst2 hingga sampe di piring kita.Tapi konsep ini sepertinya masih sulit diterapkan pada industri2 kecil. Rempong dan rumit. Lagian kita sebagai konsumen juga gak peduli sama riwayat makanan2 yang kita makan. Makan ya makan. Slese. Yang penting doa sebelum makan dan makan pake tangan kanan. Haha.

Jadi kesimpulannya ya gitu deh. Silakan disimpulkan sendiri2. Yang jelas lele itu salah satu sumber protein hewani yang murah meriah. Sayang kalo karena berita2 yang hiperbola orang2 jadi takut mengkonsumsi lele. Bisa bangkrut itu pecel lele lamongan yang menjamur di indonesia. Kalo masalah suka gak suka itu sih preferensi masing2, silakan aja.

Kode E Kode Babi??

Jadi kode E pada komposisi makanan itu bukan kode rahasia bahwa makanan itu mengandung babi (konstipasi wahyudi amat). Kode E itu hanya salah satu kode untuk menunjukkan bahan tambahan pangan di produk itu. Ada kode E untuk pewarna makanan, E1xx (mis. E 100 untuk kurkumin, gak mungkin dong kunyit ada babinya), kode E2xx untuk pengawet, E3xx untuk antioksidan dan pengatur keasaman, E4xx untuk pengembang, penstabil, emulsifier dkk dll etc. Iya memang ada beberapa kode E yang bisa dibuat dari bahan nabati maupun bahan hewani (sapi, telur, susu, babi), seperti emulsifier yg biasanya berkode E471-476. Nah di sini titik kritis nya yg kita harus hati2. Kalo sumber hewani yang digunakan statusnya halal (mis:daging sapi, telur, susu) ya gak ada masalah. Tapi kalo sumber hewani yang digunakan haram (mis: dari babi atau zat haram yang lain), ya jelas statusnya jadi haram. Sebagai konsumen, kita kan gak mudeng tuh kode2 mana yang halal atau haram,itulah gunanya logo halal MUI pada satu produk. Jadi kita tidak bisa serta merta menyimpulkan jika suatu produk ada kode E 471-476 di komposisinya wis mesti haram (mengandung babi). Liat ada logo halal mui nya gak! Kalo gak ada ya sebaiknya dihindari demi prinsip kehati-hatian. Meskipun gak semua produk yang gak ada logo halal mui nya itu juga otomatis haram.
Lembaga sekelas MUI atau bpom gak dipercaya? Persekongkolan? Konspirasi? Disusupi? Disogok? Dibayar? Ke laut aje sono. Cuci isi kepala biar agak bersih.

Kasus pringles rasa smokey bacon gimana? Mmm... itu emang ide yg kurang good aja sih kalo menurut saya. Sekalipun produk itu tidak mengandung babi (hanya memakai flavoring babi artifisial/buatan, diliat dari komposisi), tapi kan tetep berasa gak etis menyajikan sesuatu yg status aslinya jelas haram bagi muslim di bulan suci umat muslim (secara ada tulisan ramadan mubarak). Wagu kan menyandingkan antara rasa babi sama ramadan mubarak. Mungkin produk itu ditujukan buat vegetarian yg pengen nyobain rasa daging babi atau muslim yg ingin tau rasa daging babi? Uuummhh, i don't think so. Secara saya blas gak penasaran atau pengen tau babi itu rasanya gimana. Dan pringles itu emang belom ada halal mui nya kan ya? Dan menurut saya juga masih enakan chitato daripada pringles. Jelas ada logo mui nya dan lebih murah pulak. *bukan iklan, halah.

Jadiiiiii pikir berkali2 untuk menshare berita2 yg sifatnya itu memang share-able, wow dan bombastis. Soalnya kedalaman pola pikir kita bisa dilihat salah satunya dari artikel2 yg sering kita share. Pengennya keliatan keren tapi orang2 malah ngeliatnya dangkal dan gak mutu.

http://miumipusat.org/wp/hoax-e-number-lemak-babi-kasus-white-koffie-es-krim-magnum-lays/

Capek Tau Jadi Haters

Jadi pembenci itu beneran menguras banyak emosi dan energi loohh. Ciyuus. Bisa ngomong gini soalnya saya udah pernah ngerasain di posisi itu. Iya jadi pembenci. Rasanya keseeeeelll banget melihat tingkah laku, status, postingan dan lain2 dari yang saya benci ini (sebut saja si x). Kayanya gak ada gitu yang baik dari dia. Lebay lah, sok tau lah, gak tulus lah, pamer lah, apanya yang bagus ginian doang, gw juga bisa etc etc etc. Padahal dia gak pernah punya salah lho sama saya. Entah kenapa saya gak suka aja. Pokoknya gak suka, titik. Gak perlu pake alasan. Ish...ish...ish...Item banget hatikuh. Rinso mana rinso?

Padahal sebenernya kalo saya mau jujur sama diri sendiri, mmm.... baiklah , dia lumayan charming sih,  iyaa inspiratif juga, oke, bersemangat boleh lah . Dan yang jelas dia bisa melakukan banyak hal yang saya gak bisa lakukan. Di situ kadang saya merasa... hambuh.

Sayangnya pengakuan saya terhadap 'kelebihannya' itu lagi mati suri. Teronggok tak berdaya di pojokan hati. Ketumpuk2 sama rasa yang didefinisikan sebagai iri dan dengki. Perasaan2 negatif yang tanpa saya sadari berhasil menyusup haluuuusss banget ke hati. Gak terdeteksi. Dari awalnya hanya setitik, selapis hingga menjadi ratusaan lapis, bertumpuk2, bergumpal2 dan menghalangi objektivitas diri. Mengacaukan mood dan hari2 saya yang seharusnya berseri2. Hhhhhh knapa jadi berpuisi?

Setelah berkontemplasi cukup lama (atau karena mungkin saya udah mulai lelah ya), akhirnya saya putuskan untuk mulai move on dari posisi pembenci itu. Langkah pertama yang saya lakukan adalah me-like postingan dia. Haha. Jangan salah, itu susah lho. Kaya ada angel vs demon dalam kepala yang saling mengojok2i saya untuk jangan begini vs begitu aja. Awalnya rasanya gak rela gitu mengakui kelebihannya, terinjak2 harga diri saya. Halah. Namun sebagai manusia yang dikaruniai akal sehat,  saya harus bisa merawat dan menggunakan akal itu dengan sebaik2nya agar karunia itu gak dicabut dari saya.

Satu langkah ke depan, lanjut ke langkah berikut: eksekusi keputusan yang telah dibuat, tunggu hasilnya. Dan ternyata hasilnya tuh.......legaaa...... legaaaaaa banget.  Ibarat bisa BAB lagi setelah 3 hari sembelit. Yess, saya berhasil menghapus satu titik hitam di hati saya. Masih menunggu banyak titik2 hitam lain yang pasti akan saya hapus. Tunggu aja tanggal mainnya. Dan langkah berikutnya menjadi lebih mudah, saya mulai berinteraksi dengan si x, eh ternyata anaknya seru euy, kocak. Saya mulai benar2 menyukai karya2nya. Mulai melihat apa yang dilakukannya dari sudut pandang lain. Dan ituuu menyenangkan. 

Lagi2 buat saya, mengalahkan ego diri sendiri itu jauh lebih berat dibandingkan mengalahkan seekor tikus yang ngumpet di balik galon dalam dispenser *apa seeh. Butuh banyak usaha dan air mata untuk melakukannya. Tapi itu worth it untuk dilakukan. Asli, berdamai dengan diri sendiri itu membahagiakan.

Nah, kemarin pernah baca juga kalo kita butuh 43 otot untuk cemberut namun untuk tersenyum hanya dibutuhkan 17 otot saja (gak tau ilmiah apa kagak dan gak tau gimana kalo senyumnya dipaksain hihi). Hubungannya apa sama tulisan ini? Yaa kan pembenci itu pasti banyakan cemberutnya daripada senyum *maksa. Artinya jadi pembenci itu butuh energi yang jauh lebih besar daripada jadi....  (apa sih lawan kata pembenci itu?) Ya gitu deh intinya. Dan ingat pula peribahasa yang bilang kalo punya 1000 temen itu masih kurang tapi punya 1 musuh udah kebanyakan. 

Jadi kesimpulannya, jadi pembenci itu sungguh tak berguna dan menyesakkan diri sendiri. Dan pada akhirnya kita sendirilah yang harus menentukan mau di posisi mana kita berada. 

Tentang Aspartam

*Catatan untuk diri sendiri

Masih ada gak yang merasa serem mendengar kata aspartam? Kanker otak, pengerasan sumsum tulang belakang, diabetes dan lupus....
Lha kalo denger kata tropicana slim serem juga gak? Mmm... bagus buat pengidap diabetes,  bagus buat yg mau langsing dan lebih sehat. Gitu kan ya?
Tapi ngomong2 tau gak sih kalo beberapa gula merk tropicana slim itu adalah aspartam? Eng ing eng....

Sebenarnya aspartam itu apaan si?
Aspartam yang berkode E951 (haram ada babi nya 😝) adalah pemanis buatan pengganti gula yang tersusun dari asam amino aspartat dan fenilalanin. Tingkat manisnya 200x lipat  dari tingkat kemanisan gula pasir (sukrosa). 1 sachet kecil gula tropicanaslim isi 2.5g kira2 setara dengan 2 sendok teh gula pasir (bener kan ya?). Pemanis buatan ini andalannya penderita diabetes karena kalorinya yang sangat rendah dibandingkan gula pasir.  Mulai banyak dikonsumsi juga sama mbak2 kekinian yang takut gendut karena gula tapi gak bisa memulai hari tanpa secangkir kopi atau teh manis.

Lha terus aspartam itu aman tak? Mmm.... kalo misalnya bpom bilang aman, percaya gak? (nanya balik). Soalnya kalo udah gak percaya duluan yowis bye2. Tapi kalo masih percaya ya silakan dilanjutken.
Jadiii bpom sudah membolehkan penggunaan  aspartam ini sebagai pemanis buatan dalam produk pangan. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku, selama penggunaannya sesuai dengan batas maksimum yang ditentukan.
Selalu dan lagi2 adalah tentang dosis. Aspartam punya nilai ADI (Acceptable Daily Intake= batasan seberapa banyak bahan tambahan pangan boleh dikonsumsi tiap hari dengan aman ) 40mg/kg berat badan.

Jadi kalo pake aspartam dalam jumlah sewajarnya sepertinya aman2 aja sih (menurut saya 😆), kecuali kalo makenya lebay yaa gak usah dibahas itu mah. Nah, bpom ini ngasih aturan khusus tentang pemanis buatan. Untuk produk2 makanan yang mengandung pemanis buatan, harus mencantumkan tulisan "tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh anak di bawah 5 tahun, ibu hamil dan ibu menyusui". Karena memang pemanis buatan ini dilarang digunakan pada produk pangan yang diperuntukkan untuk konsumen kelompok di atas (bayi, batita, bumil, busui) dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Khusus untuk aspartam, harus dicantumkan peringatan "mengandung fenilalanin"  "tidak cocok untuk penderita fenilketonurik". Fenilketonurik adalah sejenis gangguan kesehatan di mana si penderita punya masalah terhadap metabolisme fenilalanin dalam tubuhnya. Seharusnya fenilalanin ini akan diubah menjadi tirosin yang selanjutnya dibuang tubuh, namun penderita fenilketonurik ini tidak punya enzim untuk mengolah fenilalanin tersebut. Akibatnya fenilalanin ini akan menumpuk di dalam darah dan lama kelamaan akan meracuni otak.

Naah.... pernah liat kan peringatan2 seperti itu di kemasan2 produk makanan atau minuman ringan seperti kacang atom garuda, okky jelly drink, gery coklat, diabetasol dll dsb? Peringatan itu dituliskan untuk memenuhi syarat dari bpom. Iya ada, tapi tulisannya kecil2. Lha iyalah wong kemasannya juga cuman segitu, mau ditulis segede ape? Kebak peringatan mengko kemasane, jadi gak menarik dong.

Sebagai konsumen sudah saatnya kita juga harus peduli dengan segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita. Teliti sebelum membeli. Itulah pentingnya menilik komposisi dari produk2 pangan yang hendak kita beli (walo kadang saya juga males melakukannya, asal ada logo halal mui sama ijin bpom cukup deh, hehe).

Sudah itu ajah ah....(itu ajah kok dowiiii).

Dear Mamah LDR-ers, You'll Never Walk Alone


Masih selalu dan selalu merasaan perasaan seperti ini di setiap hari-hari keberangkatan si bapak suami kembali ke perantauannya. Rasa seperti separuh hati kita diambil paksa dari tempatnya, bolong, seperti akar yang tercerabut dari tanah, tak berenergi, awang-awangen membayangkan pertempuran 30 hari ke depan yang akan saya hadapi seorang diri, lemah, letih, lesu, mbrambang, mata berkunang-kunang... *Anda anemia? Minum sabongion

Dan masih selalu dan selalu saja baper setiap kali membaca-baca tulisan bertemakan "makan gak makan asal ngumpul" alias LDR-an. Keluarga adalah harta paling berharga. Kesempatan membersamai dan melihat tumbuh kembang anak-anak adalah emas, priceless, tak terganti dengan materi. Ayok segera tinggalkan kehidupan gak sehat semacam itu. Duuuhhh... rasanya langsung ingin telepon si bapak di seberang dan bilang "Wis Yah, resign sekarang juga, tanpa tapi dan nanti! Pilih mana, kerjaan atau keluarga? Aku siap kok makan lauk garam." Pret! (Dan ini yang berkali-kali saya lakukan tanpa hasil. Haha)

Untunglah bapak-bapak dikaruniai Tuhan akal sehat dan logika yang lebih panjaaang dibandingkan ibu-ibu. Alhasil dorongan emosi ingin resign yang meledak-ledak sesaat itu agak bisa teredam. Apa jadinya jika si bapak juga menurutkan emosinya? Bakar kapal tanpa persiapan apapun? Bubrah dunia persilatan. Beneran siap makan berlaukkan ndog uyah? Darah tinggi iya.

Salah satu yang terberat dalam menjalani LDR menurut saya adalah ketiadaan teman bisik-bisik, glenik-glenik, kasak-kusuk dan sebangsanya. Rekan curcol yang akan berusaha menyabar-nyabarkan diri mendengar celoteh tak penting kita, seremeh apapun temanya. Misal sekedar ngomongin "Kenapa sih guguk sebelah itu namanya Zaki? Gak ada nama lain apa?" Atau "Coba buah kersen itu segede apel, kan marem makannya." Atau  "Tadi aku nemu ciplukan di tukang sayur, ya ampun hari gini masih ada ya yang jualan itu."
Bisa sih percakapan-percakapan itu dilakukan via whatsap atau bbm, cuma kok rasanya kurang rumpik gitu. Kalau via tulisan, kita kan gak bisa menunjukkan ekspresi muka yang ala-ala tante feni rose itu, beda dengan ngobrol face to face. Lebih ekspresif dan powerfull. Haha. Penting ya? Wooo ya penting sekali. Ingat!! wanita itu butuh mengeluarkan 20 ribu kata per harinya untuk bisa bahagia. Jadi kalau ada ibu-ibu doyan curcol, biasa aja say, gak perlu dinyinyiri. Semoga dapat pahala karena telah berusaha menahan sebal sepenuh jiwa raga demi kebahagiaan mereka, eh... kita.

Udah tau LDR itu gak asyik, kenapa juga masih ada mamah-mamah yang mau saja LDR-an. Egois! Mentingin materi! Duit melulu dipikirin! Gak eman sama anak-anak!
Oke. Coba sekarang pejamkan mata anda dan bayangkan apa jadinya jika mama-mama bersuamikan tentara, pelaut, penambang dan yang seprofesi itu menuntut untuk tidak mau dimadu eh... di LDR-i maksudnya. "Udah Pak, resign aja, jual-jual bakso atau nasi kucing kan bisa. Biar gak perlu pisah-pisah lagi kita." Berbondong-bondonglah para bapak itu resign dari tempat mereka bekerja puluhan tahun. Alih profesi menjadi dosen, enterpreuner, motivator, pedagang. Pokoknya asal bukan profesi yang harus jauh-jauh dari keluarga. Mungkin ada beberapa yang kemudian menjadi pengangguran, stress, depresi karena tak jua memperoleh pekerjaan sesuai keinginannya. Dan lama-kelamaan musnahlah profesi-profesi pemicu LDR dari muka bumi. Tak ada yang mau susah-susah keluar masuk pedalaman mengeksplorasi kekayaan tambang bangsa ini. Tak ada yang sudi menjadi tentara menjaga batas negara di perbatasan dan sebagainya. Lebay ya saya? Haha biariin. Menghibur diri sendiri. Itulah kenapa kondisi LDR itu adalah suatu keniscayaan, bukan pilihan.

Kenapa tidak kita dukung saja mamah-mamah LDR-ers itu untuk tetap survive, semangat dan tetap riang gembira dalan menjalankan battle mereka, alih-alih dipameri nikmatnya hidup "normal", bahagianya ketunggon suami, idealnya mengasuh anak bersama-sama dan sebagainya.
Ah sudahlah, bawaan baper ini...

Sebagai mamah-mamah yang hampir 6 tahun menjalani LDR-an dengan penuh drama dan linangan air mata, Saya punya beberapa tips amatiran yang bisa diterapkan di dunia per-LDR-an ini yang mungkin bisa dicoba

1. Mandiri. Kuasailah ilmu-ilmu dasar LDR untuk kaum ibu seperti menyetir sambil mangku bayi plus menyusui, masang tabung gas ijo tanpa rasa horor, berburu tikus yang kadang suka ngumpet di bawah kompor gas, mompa ban sepeda sekalian benerin rantai sepeda bocah yang sering copot, main gitar buat gegalauan, ngecat tembok rumah yang penuh coretan, benerin genteng bocor, menanam padi di sawah dan sebagainya.

2. Kurangi hobi mendengarkan  lagu-lagu melow, baca novel bergenre melankolis-romantis atau nonton drama korea wa india yang ceritanya tentang suami-suami idaman dan pernikahan bahagia macam Fitri dan Farel (woy ambil contohnya jadul amat Buk).

3. Simpan nomor-nomor penting yang sekiranya bakal kita butuhkan saat hidup sendiri seperti rumah sakit, satpam kompleks, taksi online, delivery makanan, tukang galon, tukang ledeng hingga tukang sedot wc. Jangan lupa, jalin keakraban dengan tetangga dekat. Karena merekalah tempat meminta pertolongan pertama kali.

4. Ajari anak-anak untuk menghadapi situasi darurat saat tak ada orang dewasa lain di rumah. Siapa yang harus dihubungi pertama kali, apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya dsb.

5. Jangan panikan. Berusahalah berpikir dengan logis sekalipun kita ini makhluk yang katanya hobi menangis.

6. Komunikasi. Usahakan tiap hari ada beberapa jam sesi telpon dan curhat tentang apa saja yang terjadi hari ini. Pastikan saat kita meluapkan emosi via telpon, si bapak di sana gak ketiduran. Terimakasih banyak kepada penemu-penemu teknologi video call, facetime, skype dkk yang sangat memudahkan hidup kaum ldr-ers. Hamdalah kita LDR an di masa ini. Bayangkan kalau kita hidup LDR di jaman Rhoma dan Ani berjaya, "Cukup Ani! Semua ini sudah t e r   l a   l u...

7. Dukung suami dalam menjalani pekerjaannya. Jangan dirongrong dengan berondongan keluh kesah dan suruhan pulang-pulang melulu. Saat istri rusuh dan uring-uringan, bapak yang di sana juga jadi gak tenang dengan pekerjaan. Alhasil waktu pulang tertunda gegara deadline gak tercapai. (Nulis tips emang gampang, prakteknya yang susyah).

8. Selalu libatkan bapak dalam apapun pengambilan keputusan karena bapak tetaplah kepala keluarga yang harus kita hargai dan junjung tinggi.

9. Diskusikan tentang cara mengasuh anak yang cocok untuk keluarga kita sekalipun si bapak gak tiap hari mendampingi, agar anak tetap tak kehilangan sosok bapaknya.

10. Pasrah.
Kadang para mama LDR butuh meluapkan emosi dengan menangis. It's oke mam. mewek itu hanyalah salah satu cara meluapkan emosi sesaat selain jajan cilok. Tapi setelah tangismu reda, bangkitlah dan carilah hikmah di balik situasi ini

Dan terakhir, sesungguhnya mamah-mamah itu tak pernah butuh nasihat, solusi atau ceramah panjang lebar tentang pertempurannya. Mereka lebih butuh waktu, kuping, dan empati dari lingkungannya. Hal yang saat ini cukup sulit didapatkan karena entah kenapa banyak orang saat ini yang lebih suka menjudge, menilai dari luar dan merasa dirinya lebih menderita. Efek sosmed, kebanyakan nonton drama turki atau semua ini salah jokowi? Entahlah...

Sebagai penutup, ada quote yang sepertinya  cukup  menenangkan. "Jangan minta Allah untuk memudahkan hidupmu. Tapi mintalah Dia untuk membuatmu jadi orang yang lebih kuat."
 Mintalah Dia untuk menguatkan bahumu lebih daripada meringankan bebanmu. Mintalah Dia untuk menguatkan kakimu dalam melangkah, lebih daripada memudahkan langkahmu.
Semangat dear mama!! You'll never walk alone!!


Hanya Soal Waktu

Hanya Soal Waktu

Hanya soal waktu...
Saat rumahmu akan sebersih dan serapih rumah2 dalam majalah2 yang sering kau irikan itu
Maka... nikmatilah setiap detik letihmu yang harus berpuluh kali membereskan kekacauan yang mereka buat

Hanya soal waktu...
Saat mereka tak mau lagi kau gandeng, peluk atau sekedar kau cium rambutnya
Maka... berbahagialah ketika mereka selalu membuntutimu kemanapun kakimu melangkah, meski kadang hal itu mengesalkanmu,
bagi mereka tak ada selainmu

Hanya soal waktu...
Saat kau tak lagi jadi si serba tahu dan tempat mengadu
Maka... bersabarlah dengan rentetan pertanyaan juga celoteh riang dari mulut mungil mereka yang kadang membuat dahimu mengernyit atau keasyikanmu terhenti

Hanya soal waktu...
Saat mereka mulai meminta kamarnya masing2 dan melarangmu mengutak atik segala rupa apa yang di dalamnya
Maka... tahan emosimu dari rengekan manja mereka saat minta kelon atau dongeng sebelum tidur ketika mata 5 wattmu juga meminta  haknya

Hanya soal waktu...
Saat mereka menemukan separo hatinya untuk selanjutnya membangun sarangnya sendiri...
Mungkin saat itu posisimu tak lagi sepenting hari ini
Maka... resapilah setiap mili kebersamaanmu dengan mereka selagi bisa

Karena tak butuh waktu lama menunggu kaki kecil mereka tumbuh menjadi sayap yang kan membawanya pergi menggapai asa dan cita

Kelak kau hanya bisa menengok kamar kosong yang hanya sekali dua akan ditempati penghuninya saat pulang...
Termangu menghirup aroma kenangan di dalamnya dan lalu tercenung "dulu kamar ini pernah begitu riuh dan ceria"
Dan kau begitu merindukannya

Kelak kau akan sering menunggu dering telepon mereka untuk sekedar menanyakan "apa kabarmu ibu"?
Dan kau akan begitu bersemangat menjawabnya dengan cerita-cerita tak penting hari ini

Kelak kau akan merindukan acara memasak makanan kegemaran mereka dan merasa sangat puas saat melihat hasil masakanmu tandas di piring mereka

Janganlah keegoisanmu hari ini akan membawa sesal di kelak kemudian hari
Kau takkan pernah bisa memundurkannya sekalipun sedetik untuk sekedar sedikit memperbaikinya

Karena waktu berjalan...
Ya... ia berlari...
Tidak.... ia terbang...
Dan dia tak pernah mundur kembali...



*ditulis untuk mengingatkan diri sendiri saat marah2 mulai tak terkendali
Emang ya ibu2 selalu butuh orang lain buat selalu bilang "sabaaarrr ben atine jembaaar"

Saat "Terserah Kamu" menjadi Blunder


Kisah di suatu pagi yang rempong
"Mama... bella mau sakit perut."Menengoklah si mama dari rajangan brambangnya dan melihat apa yang menyebabkan anak 3 taun itu ngomong seperti itu. Ternyata dia menemukan sebungkus permen dan ingin memakannya saat itu. Saking terbiasanya dia minta permen dan hafal akan jawaban  yang bakal diberikan mamanya semisal, nanti giginya bolong, nanti batuk, nanti sakit perut, nanti muntah2 dan jawaban2 senada, tanpa saya sadari terbentuk logika wagu di otaknya. 'Kalo dia siap menerima konsekuensi atas alasan2 yang mamanya berikan, pasti si mama akan mengijinkannya memakan permen itu.'  Mmm.... gak salah sih Bel, tapi maksud mama kan ya gak gitu2 amaat...
Hal ini berhasil membuat mama jadi kagok, antara harus marah atau nyengir atau marah sambil nyengir? *Bisa turun wibawa mama.

Dan seperti biasa di pagi yang selalu berhawa kemrungsung itu akhirnya si mama hanya bisa merepet gak jelas "Gak boleh Bella bla bla bla bla nanti bla bla bla bla bla." Makin si mama ngamuk, makin dia kekeuh memegang teguh keinginan makan permennya. Si mamah yang inget tempe di wajan belom dibalik pun jadi hectic dan hanya bisa mengeluarkan tatapan -yang menurutnya sih udah- setajam silet dan kata pamungkas "Terserah kamu, ntar kalo sakit perut gak usah mewek2," sembari bersungut2 membalik tempe gorengnya yang mulai kelebihan pigmen coklat. Namun sayang sekali, reaksi yang terjadi bukanlah  seperti yang diharapkan si mama, bocah itu  justru girang gumirang  dengan senjata andalan 'terserah kamu' mamanya itu. "Terserah kamu ya mah?" tanyanya polos dengan wajah cerah ceria berlari2 nyari gunting item buat buka bungkus permen. Waaks, tinggallah si mamah deleg2 mati gaya. Kalah satu kosong ini sama bayi.
Baginya terserah kamu itu selevel dengan kata "ya", "boleh", atau "silakan". Tak terbersit sedikitpun di benaknya bahwa dibalik "terserah kamu" itu ada sesuatu yang rumit dan tak sesederhana itu. (Yaiyalah, apa yang kau harapkan dari anak umur 3 taun sih mom?)

Oke. Dan si mamah pun belajar satu hal lagi, bahwa frase "terserah" atau "terserah kamu" itu gak ngefek blas dipake buat menghadapi balita,  sama gak ngefeknya diterapkan  untuk menghadapi makhluk lempeng dan gak mudengan bernama bapak2 wkwkwk, maap paak...

Trus knapa gambarnya gak nyambung sama cerita? Yaa judulnya aja terserah kamu, berati terserah pemilik cerita  to ya mau nyambung apa enggak

Kamis, 07 Mei 2015

Darurat Keamanan Pangan di Indonesia

Beberapa hari ini bersliweran di timeline fb foto-foto yang memiriskan hati saya sebagai mantan orang pangan seperti foto pabrik pembuatan bakso yang udah mirip tempat pembuangan sampah, foto mie ayam yang masih ada ekor tikus di dalamnya, foto kikil dengan tekstur 3 dot alias kikil babi dan semacamnya. 

 
Mie ayam ekor tikus (gambar diambil dari chirpstory.com)

Kikil babi dengan tekstur 3 titik (gambar diambil dari suaranews.com)

Pabrik basreng di salah satu kota di indonesia (gambar dikolase dari foto-foto di fb endy sulistyawan

Belom lagi berita-berita di tipi tentang mie berformalin, bakso berboraks, biskuit berganja, pemanfaatan makanan kadaluarsa untuk dibikin jajan anak2, es batu berbakteri e.coli, keracunan pangan dkk dkk.
Sedemikian hororkah dunia perpanganan kita? Udah kaya kondisi darurat aja. Darurat keamanan pangan di negeri gemah ripah loh jinawi.

Sebagai ibu rumah tangga yang lagi bosan 24 jam ngobrolin tema-tema seperti "rumput itu dibikin dari apa ma?" atau "magnet itu gimana cara buatnya?", iseng-isenglah saya nulis ini. Lumayan buat olahraga otak biar gak manja. Serem kan kalo ntar otak saya ditawar dengan harga super mahal karena masih mulus gak pernah dipake mikir.
Oke kembali ke leptop. Jadi menurut saya ada beberapa hal yang jadi kendala sulitnya penerapan keamanan pangan di indonesia

1. Kurangnya pengetahuan dari produsen/pelaku industri
Ini ngomongin industri kecil, industri rumah tangga, ukm-ukm kecil bukan pabrik-pabrik gede skala nasional yang untungnya ratusan juta itu. Padahal justru industri-industri kecil inilah yang secara langsung bersentuhan dengan konsumen dalam melayani kebutuhan pangan mereka. Untuk produsen-produsen kecil ini, yang namanya sanitasi dan keamanan pangan, haccp, gmp, qc atau manajemen mutu itu hanya ngawang-ngawang. Punyanya orang-orang kuliahan. Bahasanya terlalu sundul langit tak terjangkau. Dan pada kenyataannya tema-tema ini kadang sulit diterapkan di lapangan karena keterbatasan ilmu, keterbatasan dana, keterbatasan sarana prasarana atau pelaksanaan teknisnya. Mereka gak mudeng urgensinya sanitasi, higienitas atau keamanan selama proses produksi. Yang penting bikin produk, jadi, laku, banyak yang beli, dapat untung. Selesai.

2. Himpitan ekonomi
Semua orang butuh makan dan hidup makin keras bung. BBM naik, listrik naik, sembako naik, bayar sekolah makin mahal, bayar rumah sakit juga mahal, semuanya makin mencekik leher. Oiya, saya ngomongin orang-orang yang hidup di dunia nyata ya. Bukan orang-orang yang ngeliat dunia nyata dari layar gadgetnya. Mbak-mbak tukang sayur, mbah-mbah penjual pisang, mas-mas asongan dkk. Dengan tekanan yang makin berat mereka dituntut untuk lebih kreatif mencari celah meloloskan diri dari himpitan ekonomi untuk bertahan hidup. Boro-boro mikirin keamanan pangan, mereka udah pusing mikirin gimana cara mengatasi kenaikan harga bahan baku agar tak menurunkan daya beli konsumen terhadap produknya.
Namun demikian tak dipungkiri banyak juga oknum-oknum yang emang udah "jahat" dari sononya yang hanya ingin profit besar dengan menghalalkan segala cara. Modal minimalis dapat untung maksimalis. Daging sapi mahal bolehlah ganti daging babi, biar gak ketahuan itu daging babinya direndem dulu pake darah sapi. Daging ayam mahal, ganti aja pake daging tikus. Ada teknik motongnya biar keliatan kaya daging ayam. Lumayan kan gratisan tinggal pasang jebakan di loteng rumah. Mengurangi ongkos produksi. Haram? Nyari yang haram aja susah apalagi yang halal. Daripada nyari pewarna foodgrade lebih mahal boleh lah pakai pewarna tekstil yang lebih cetar dan murah.

3. Regulasi yang tidak ketat
Ngomongin aturan mah sebenernya udah ada itu undang undang tentang keamanan pangan. Bagus, detail, jentrek-jentrek. Tapi entah kenapa sering bubar jalan saat pelaksanaannya. Sama lah kaya undang undang tentang korupsi yang dangkik-dangkik tapi tidak mampu mengurangi jumlah koruptor di indonesia raya. Apa pengawasannya kurang maksimal atau hukuman atas pelanggaran yang tidak diterapkan atau karena prinsip orang-orang indonesia bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar? Atau karena uang memang bisa membeli segalanya, menyumpal mulut pihak-pihak yang berkepentingan? Tau deh. Saya mah gak ahli yang kaya ginian.
Coba bayangin kalo deptan, depkes, bpom, mui, pemda, ylki saling bergandengan tangan bahu membahu untuk melindungi keselamatan seluruh rakyat indonesia dalam urusan pangan..... aah indahnya dunia. Bisa sering jajan tanpa perlu was2 dengan keamanan makanan yang kita beli :D

4. Ketidakpedulian konsumen
Masih banyak konsumen yang kurang paham pentingnya keamanan pangan dalam menjamin kehidupan yang lebih sehat dan bermutu. Yang penting harga murah aja, terserah bikinnya gimana. Kadang kita (saya ding) lalai cek tanggal kadaluarsa suatu produk. Kadang juga males baca komposisi bahan yang digunakan. Adakalanya juga terlalu berbaiksangka ah masa sih ada produsen yang setega itu nambahin racun ke makanan yang dibuatnya. Tapi realitasnya memang ada. Sering nonton investigasi-investigasi makanan di tipi itu kan? Dengan narasumber yang wajahnya ditutupin kresek dan suara disamarkan memaparkan dengan detail bagaimana cara dia melakukan kejahatannya. Tanpa rasa bersalah apalagi berdosa bahwa apa yang dilakukannya itu bisa membahayakan orang lain.

Dari 4 poin di atas, kita (sebagai pribadi) hanya bisa mengendalikan poin ke 4 dengan cara meningkatkan self awareness terhadap makanan-makanan yang masuk ke mulut kita. You are what you eat. Yang di eat sampah ya keluarnya sampah juga. Sekarang kalo mau jajan minimal nyari yang ada logo halalnya. Yang gak ada logo halalnya ya ditanya dulu "pake daging selain sapi gak mas" ke mamang tukang bakso. Pilih tahu atau ikan yang  dilaletin. Jangan segan untuk ceriwis atau kepo terhadap bahan-bahan makanan yang kira-kira berpotensi untuk diutak-atik. Dan yang jelas kurangi keinginan jajan di luar. Pilih-pilih tempat makan. Mulailah belajar memasak makanan sendiri di rumah (nasihat untuk diti sendiri)
Fiuuuhh rempong ya jadi konsumen? Mau jajan aja mesti mikir. Haha

Nah adapun poin 1,2,3 adalah hal-hal yang seharusnya bisa dikendalikan oleh pemerintah dan pihak yang terkait. Masalah-masalah semacam ini akan lebih efektif diselesaikan dengan strategi top down bukan bottom up (suka banget sama istilah ini haha *inget tidar temen kkn). Maksudnya dalam menyelesaikan masalah-masalah semacam ini adalah dari atas ke bawah. Dari yang punya kuasa ke rakyat jelata.  Sama kaya nyelesaiin korupsi, mustahil kalo penyelesaiannya dari bawah ke atas. Pemerintah yang punya kewenangan membuat aturan dan mengawasi. Ya bikinlah aturan, bikin pengawasan, kasih hukuman buat yang melanggar, bikin edukasi ke ukm-ukm kecil sama industri-industri rumahan tentang pentingnya keamanan pangan bagi masa depan bangsa, bikin juga edukasi buat konsumen agar lebih aware dengan keamanan makanan yang dikonsumsinya dsb. Dan ini yang paling penting. Aturan-aturan yang telah dibuat itu benar2 dilakukan, bukan hanya sekedar formalitas atau pencitraan untuk ngeyem-yem-i masyarakat saja.

Lu kate gampang? Eh, sapa juga yang bilang gampang. Susah keleus menyatukan 3 komponen (produsen, pemerintah, konsumen) untuk bersama-sama menjaga kedamaian dunia pangan di indonesia. Secara ada banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Apalagi di era neolib ini. Beeeuuhh gemes sendiri ngelihat tingkah laku para pemimpin yang makin tak tau malu. Kayanya udah susaaaahh gitu memperbaiki negeri ini. Darurat pornografi, darurat korupsi, darurat pendidikan, darurat keamanan pangan, dan darurat di hampir semua aspek. Sedih tauk. Sebagai ibu rumahtangga, tugas saya jadi berlipat-lipat makin berat dalam menjaga, melindungi dan mempersiapkan anak-anak saya menuju dunia mereka kelak yang entah akan sekeras apa.

Iyaaa saya emang baru bisa nulis-nulis doang dan lagi bisa berusaha mengendalikan poin 4 di atas. Tapi mungkin ini lebih baik daripada sekedar sebodo teuing yang penting keluargaku sejahtera aman sentosa. Dunia makin rusak,  i don't care lah. Itu kan mereka bukan aku. Egois pisan. Apalagi yang dipunyai endonesia saat peduli sesama pun udah ilang dari hati kita? Apa?? Apaaa??? *dramaaa
Hhhhh *hela nafas.

Ah sudahlah, ini cuma sekedar tjurhatan seorang emak yang gak hobi masak namun sekarang ini jadi mikir 2x saat mau jajan keluar gegara berita-berita horor yang membombardir kuping dan mata saya setiap saat. Dan saya akan tetap berusaha bersikap optimis bahwa semuanya akan selalu bisa diperbaiki jika kita punya niat baik untuk mengubahnya.....

Selasa, 05 Mei 2015

Bahayakah Minum Es Teh Manis Setelah Makan?

Masih inget dong tagline salah satu minuman teh dalam botol yang pernah ngehits itu, "apapun makanannya, minumnya teh botol *os*o". Branding yang keren menurut saya, karena nancep banget di pikiran konsumen. Kaya udah identik kalo yang namanya teh dalam botol itu ya s**r*, bukan yang lain.

Es teh manis (gambar diambil dari kaskus.co.id)

Tapi tulisan ini gak akan ngomongin lebih lanjut tentang branding-brandingan dan semacamnya soalnya saya bukan orang iklan dan gak ngerti dunia iklan.
Saya cuma pengen ngomentarin kebiasaan orang-orang yang terkait dengan tagline iklan ini. Apa itu?? Yap, kebiasaan minum teh anget/es teh setelah makan. "Mas, bakso satu sama es teh manis satu ya" atau pahe fried chicken gratis teh botol dingin. Hmmmm.... semangkok bakso panas pedes disandingkan dengan segelas es teh manis ituuu.... surga dunia. Haha lebay. Cucok banget. Pasangan serasi yang tak terpisahkan.

Naaahhh mulai timbul masalah nih di sini. Menurut sedikit buku-buku gizi yang dulu pernah saya baca, di dalam teh itu ada yang namanya zat antigizi yang disebut tanin. Dibilang antigizi karena dia punya kemampuan mengikat mineral-mineral penting membentuk kompleks yang sulit dicerna tubuh. Akibatnya ketersediaan/availabilitas senyawa-senyawa penting itu menjadi berkurang. Jika hal seperti ini terjadi terus-menerus, lama-kelamaan tubuh akan mengalami defisiensi senyawa-senyawa tersebut. Nah, tanin dalam teh itu punya kemampuan mengikat zat besi, Ca, dan mineral2 lain yang dibutuhkan tubuh. Dia juga bisa berinteraksi dengan protein membentuk senyawa yang sulit dicerna.

Jadi bahayakah minum es teh manis pas atau setelah makan?
Bahaya sih enggak, cuma yaaa jadi mubadzir aja sih kesannya. Sia-sia gitu. Mineral-mineral dan protein dari makanan yang seharusnya bisa diserap tubuh menjadi tidak available lagi gegara diikat oleh tanin dalam teh tadi.

Jadi sebaiknya kalo lagi makan di warung, pesennya es jeruk aja jangan es teh. Bukannya bermaksud mendiskreditkan es teh, tetapi secara teori, tanin dalam teh itu mengganggu penyerapan zat besi dan protein dalam tubuh. Adapun vitamin C, nah itu justru membantu penyerapan mineral2 tadi ke dalam tubuh. Gitu ceritanya.

Kalo pengen minum teh, sebaiknya diberi jeda 1 atau 2 jam sebelum dan sesudah makan, biar optimal dapat gizi dari makanan maupun tehnya itu sendiri. Keburu seret buk nunggu 2 jam abis makan. Itu makannya dikunyah 33x gak sampe seret gituh? Haha. Kan ada air putih cin.

Oiya, kalo minum tehnya itu dimaksudkan untuk memperoleh manfaat/khasiat dari teh itu (gak cuma sekedar minum), sebaiknya minum tehnya gak usah dipakein gula. Critanya mau diet pake teh hijau. Tapi minum teh nya dikasih 3sdt gula. Itu mah sama juga boong. Gak berguna. Kenapa gak boleh pake gula? Alasannya boleh baca di sini. sama juga kasusnya dengan pesen bakso tanpa vetsin, tapi naroh kecap, sausnya gak kira-kira. Alamaaakkk, plis be a smart consumen dong ah. Ada hubungan apa emang vetsin sama kecap? Cekidot sini duluk ya

Oiya satu lagi, teh sama susu itu secara gizi sebenernya gak matching lho. Kenapa? Karena protein dan mineral dalam susu itu bisa diikat oleh tanin dalam teh menjadi senyawa yang sulit dicerna tubuh. Jadi kalo minum teh susu yaa dapetnya bener-bener air teh dan air susu doang, gak ada mineral sama protein dari susu itu. Yaahh padahal teh susu itu enyaak banget lho, gimana dong? Haha. Ya sutralah. The choice is all yours. Gakpapa juga sih sekali-sekali nyicipin rasa-rasa unik. Itung-itung rekreasi lidah :D
*Ini yang nulis sebenernya fans berat es teh manis jadi gak iklas gini tulisannya. Haha

Selasa, 21 April 2015

Ibu Mertuaku (Bukan) Rivalku

Saya sering  bayangin bagaimana perasaan saya jika kelak Berry (si sulung) dewasa dan tiba saatnya jatuh cinta trus menikah dengan seorang wanita. Siklus hidup yang wajar dan pasti akan terjadi. Tapi entah kenapa saya suka mendadak melow kalo bayangin saat itu tiba*yaelah baru juga 5 tahun mak, udah jauh bener bayanginnya.

Gimana kalo wanita yang dipilihnya bukan tipe mamahnya? Gimana kalo wanita itu gak bisa merawat anak saya sebaik yang saya lakukan? Gimana kalo mantu saya itu gak sayang dan jahat sama saya? Gimana kalo dia hanya peduli sama anak saya dan cuek bebek dengan ibu mertuanya? Aaahhh.... kayanya eike kebanyakan nonton sinetron mantu durhaka ini.

Wait!!! Saya ngerasa ada kondisi yang identik dengan cerita di atas. Hmmm....
Kira-kira ibu mertua saya pernah merasakan hal yang sama kah dengan yang saya rasakan? Apakah saya adalah wanita yang diidamkannya untuk mendampingi anak lelakinya? Apakah beliau merasa ikhlas menyerahkan "perawatan" anak lelakinya ke tangan saya? Apakah beliau merasa saya hanya peduli pada anak lelakinya dan tidak dengannya? Hiks. Ambil cermin, ngaca daann "Nyuwun ngapunten ibuk, dereng saged dados mantune ibuk ingkang sae lan salihah"

Hubungan antara menantu perempuan dan ibu mertuanya memang rawan konflik. Kenapa? Ya karena wanita adalah makhluk rumit. Rumit ketemu rumit jadi rumit kuadrat. Tak dipungkiri banyak kasus pertengkaran atau cekcok berkepanjangan antara ibu mertua-menantu perempuannya. Mulai dari beda prinsip dalam mengurus rumah tangga hingga intervensi yang terlalu besar dari si ibu dalam hidup rumah tangga anaknya. Ujung-ujungnya dua wanita ini akan saling berebut perhatian dari si anak lelaki. Tinggallah si anak deleg-deleg karena harus memilih antara istri atau ibunya. Runyam.

Beda prinsip itu pasti, secara hidupnya aja udah beda jaman. Contoh kecil yang bisa memicu perang dunia dengan mertua:  ibu mertua wanti-wanti kalo lagi panas meriang jangan dimandiin, jangan kena air. Trus tanya dokter jaman sekarang dan dijawab wah mandi air anget itu justru bisa berfungsi sebagai kompres dan membersihkan kuman-kuman di badan. Beruntunglah kalo tinggal terpisah dengan mertua, bisa memilih pendapat yang sesuai dengan yang kita yakini. Tapi kalo serumah? Dan tiap hari kita nitipin anak kita ke beliau? Bisa jadi perang besar jika kita berani membangkang perintahnya. (iya, gak semua ibu mertua sifatnya gitu sih tapi kebanyakan seperti itu).

Mau selesai perangnya? Mantunya yang harus mengalah atau carilah win win solution. Kenapa? Karena kita yang lebih muda. Se-well educated apapun kita, pengalaman ibu jauh lebih banyak dibandingkan kita yang baru jadi ibu seumur jagung. Dan ingat, pada saat menikah, posisi ibu mertua adalah sama dengan ibu kandung. Wajib dihormati dan diberi bakti. Susah?? Siapa bilang gampang. Mengalahkan diri sendiri adalah salah satu hal berat dalam hidup.

Coba bayangkan bagaimana kita merawat anak lelaki kita. Di-nik-nik penuh kasih sayang. Dari mandiin, nyebokin, bersihin pup, nyuapin, gendong, ngajak main. Dari bayi hingga gede. Tulus dan tanpa lelah. Ibarat merawat bibit kecil hingga menjadi pohon yang berbuah lebat. Dan ketika buah itu sudah matang, seseorang datang dan memetik buahnya tanpa perlu repot-repot ngrumat si pohon. Demikian yang dilakukan ibu mertua kita. Beliau merawat anak laki-lakinya dari bayi hingga siap berumahtangga. Dan kita datang udah langsung dapat hasil manis perjuangan beliau yaitu suami kita. Mantu macam apa kita jika gak bisa membalas semua kebaikan yang dilakukan ibu mertua? Ingat, tanpa pengorbanan ibu mertua tak akan ada suami "sempurna" yang bisa kita pilih sebagai teman hidup.

Jadi saya selalu berusaha memposisikan ibu mertua bukan sebagai rival yang harus dicemburui. Namun sebagai orangtua tempat saya bertanya banyak hal tentang hidup. Satu lagi, lebih banyaklah mendengar daripada berbicara. Iyaaa mungkin memang ilmu kita lebih aptudet tapi kebijaksanaan seorang ibu itu kadang mengalahkan ilmu yang kita miliki. Jadi mengalahlah. Berusahalah untuk memahaminya meski itu sulit karena akan datang suatu hari dimana kita akan berada di posisi itu. Bisa jadi kita melakukan hal yang sama yang dilakukan ibu mertua kita saat ini.

Istri dan ibu mertua adalah sepasang malaikat yang keberadaannya seharusnya saling menguatkan, bukan melemahkan


Senin, 20 April 2015

Berani Lebih Ndableg? Kenapa Tidak!!

Ndableg adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa jawa dan bisa diterjemahkan secara bebas sebagai "cuek", "gak terlalu mikirin omongan orang", "keras kepala", "suka melanggar aturan", "muka tembok" dan beberapa arti sejenis.

Sikap ndableg identik dengan sesuatu yang negatif. Sering dong lihat orang yang tetap cuek merokok di suatu tempat yang jelas-jelas udah dipasang tanda "dilarang merokok". Atau supir angkot yang dengan santainya ngetem tepat di depan rambu P dicoret. Atau seorang anak yang tetap asyik berkutat dengan mainannya meski telah berkali-kali dipanggil oleh ibunya. Etc, etc.
Namun apakah benar ndableg itu melulu terkait dengan sesuatu yang negatif? Let's check it out.

Sebagai seorang wanita yang dianugerahi sifat yang lumayan altruistik (lebih mementingkan orang lain dan cenderung mengorbankan diri-sendiri) *tsaelah, saya selalu ingin berusaha menjaga perasaan orang lain, menghindari  konfrontasi (konflik) dengan orang dan enggan menjadi antimainstream (kontroversial). Saya juga punya sifat gak enakan dan takut menyinggung perasaan orang. Selama ini saya ngerasa baik-baik saja dengan "ke-altruistik-an" saya, hingga tibalah suatu hari dimana saya merasa begitu lelah untuk bersikap seperti biasanya. Ternyata ada banyak hal yang kadang tak sejalan dengan hati nurani namun terpaksa tak saya ungkapkan hanya karena "takut" pendapat itu akan menyinggung beberapa orang. Saya berusaha mengiyakan sesuatu yang sebenarnya saya kurang setuju atau menolak sesuatu yang sebenarnya saya sangat sepakat dengannya. Demi apaaa?? Yup! kepuasan dan kebahagiaan mereka. Demi tidak mengusik eksistensi mereka. Lalu bagaimana dengan kepuasan dan kebahagiaan saya sendiri? Itu mah kagak penting!

Namun setelah saya renungkan, sepertinya cara hidup seperti itu bukanlah pilihan yang tepat dan sehat. Jadi saya putuskan untuk move on dari keadaan menyedihkan tadi. Kenapa? Karena saya berhak bahagia. Saya berhak menyatakan pendapat tanpa perlu merasa bersalah. Saya berhak menjadi diri saya sendiri. Dan yang terpenting, saya berhak untuk berdamai dengan diri sendiri. Uyeee!!
Beruntunglah ada cara praktis untuk move on dari sana. Cukup dengan memunculkan keinginan kuat dari hati untuk bersikap berani lebih NDABLEG!
Adakalanya kita perlu menulikan kuping sejenak, abaikan semua omongan orang dan jadilah diri kita sendiri. Adakalanya kita tak harus selalu setuju dengan sesuatu yang kita tidak sepakat terhadapnya.  Dan adakalanya kita perlu sedikit ngotot untuk mempertahankan apa yang kita yakini benar. Bukankah para pahlawan itu juga adalah orang-orang yang ndableg dengan tidak mau berkompromi sedikitpun terhadap penjajah? -ndableg secara positif tentu saja-.
Jadi nikmatilah ndablegmu dan yakinlah everything's gonna be okay. So #BeraniLebih ndableg? Kenapa tidak!!

FB: yoanita astrid
Twiter: @yoanitaastrid





Senin, 06 April 2015

Tips Jalan-Jalan ke Museum Kereta Api Thomas

They're two, they're four, they're six, they're eight
Shunting trucks and hauling freight
Red and green and brown and blue
They're the really useful crew
...................
Thomas and his friends.....
-------------------------------------------------------------------

Yak siapa sih yang gak familiar sama soundtrack film seri thomas yang sering diputer di tv ini. Hampir semua anak mengenal dan menggemari kereta api uap biru yang suka jail tapi baik hati ini, termasuk Berry (mbarep saya).

Berawal dari kenge-fans-nan (bahasa apa inih) Berry sama thomas, hari minggu kemarin saya pengen nyenengin dia dengan mengajaknya ke museum kereta api yang berada di kota Ambarawa. "Ke museum thomas yuk Ber", langsung deh dengan semangat 45 dia jawab "mau mau mau".

Berjarak 2 jam-an dari jogja dengan mobil dan pas gak macet (secara saya gak tau berapa jarak jogja-ambarawa. Haha), museum ini menyuguhkan kereta-kereta api uap yang dibikin tahun 1700-1900an alias tempoe doloe. Dengan tiket masuk 10ribu/orang, kita bisa menikmati pemandangan lokomotif-lokomotif uap beserta gerbong-gerbong jadulnya yang unik. Hampir semua lokomotif keretanya berwarna hitam dan saya gak bisa bedain antara satu dengan yang lainnya. Kereta-kereta kuno itu cukup terawat, meski kadang ada sedikit bungkus-bungkus makanan dan sampah di dalamnya.

Deretan lokomotif kereta api uap

Bertempat di bekas stasiun ambarawa, museum ini menampilkan suasana yang klasik. Dengan jendela-jendela lebar dan pintu berkusen kayu, nampaknya stasiun ini dipertahankan ke-otentikannya. Tidak banyak sentuhan-sentuhan modern yang ditambahkan.

Stasiun ambarawa yang sekarang jadi museum KA

Karena tempatnya yang lapang dan bebas hambatan, kesan luas dan lega langsung tertangkap saat menginjakkan kaki ke stasiun itu. Bangku-bangku kayu banyak diletakkan di pinggir-pinggir stasiun untuk mengakomodir pengunjung yang ingin duduk-duduk santai menikmati suasana.

Anak-anak tentu saja kegirangan nemu tempat luas gitu.  Langsung deh mereka lari-larian ke sana kemari naik turun gerbong sampe puaaass. Emaknya ngapain? Selfie tentunya dan yang paling penting maen candy crush saga is a must dong zzzz.....

Nongsis bareng kung uti 

Nah di museum ini juga disediakan kereta api wisata yang bisa dinaiki dengan rute stasiun ambarawa-stasiun tuntang pp. Sayaaang, harga tiketnya mehong binggo bo', 50ribu/orang. Tadinya kirain 10ribuan *lu pikir naek odong2, haha. Yaa secara naek prameks jogja-solo aja cuman 10ribu. Hiks. Tapi ya sutralah, udah kadung niat ke museum itu, jauh2 pulak dari jogja masa iya gak nyobain naik kereta djadoel itu.

Penampakan kereta djadoel itu

Penampakan dalam gerbong

Etapi yang jalan itu bukan kereta yang uap ya, kereta diesel juga cuma dalemnya masih jadul gitu. Bangku-bangku, pintu dan jendelanya terbuat dari kayu.
Sayang kereta itu dijalankan hanya pada hari minggu atau saat liburan aja. Dan jadwal keberangkatannya hanya 2x, jam 11.00 sama 14.00.

Dengan lama perjalanan 1 jam pulang pergi, pemandangan yang disuguhkan tour ini lumayan keren menurut saya. Kereta menyusuri tepi rawa pening yang tenar itu. bener-bener deket banget sama rawa nya. Dan ternyata rawa pening itu luaaas banget yak *koment orang kurang piknik. Banyak nelayan dengan sampan-sampan kecil mancing ikan di situ. Bertebaran juga warung-warung apung dan beberapa rumah penduduk yang didirikan di atas rawa

Pemandangan rawa pening dari atas kereta

Bagus ya? Lumayan deh, 50ribu dapat pemandangan nyegerin kek gini.

Sawah menghijau dan nelayan mencari ikan

Secara overall lumayan menghibur sih berkunjung ke museum ini. Meskipun kalo dikelola dengan lebih niat lagi pasti akan bisa mendatangkan pengunjung yang jauh lebih banyak. Eh bisa juga ya buat poto-poto postwed (maapkeun saya gak menganut paham prewed poto sesion. Halah)

Dari pengalaman saya kemarin piknik ke sana, ada beberapa saran yang  ingin saya tulis untuk calon-calon pengunjung yang pengen berwisata ke sana.

1. Datanglah di hari minggu
Kalo pengen nyobain naik kereta wisata, silakan datang di hari minggu atau hari libur besar lainnya, soalnya kalo hari-hari kerja keretanya gak jalan, gak ada penumpangnya ciin, rugi bandar. Tapi kalo sekedar melihat kereta-kereta kuno sih bisa datang kapan aja.

2. Bawa bekal makanan dan minuman yang buanyaakk
Di dalam museum soalnya gak ada yang jual makanan atau minuman. Apalagi foodcourt atau pujasera. Kalo perlu bawa bekal nasi kotak biar gak kelaperan nunggu kereta. Haha. Pengalaman kemaren mau nyari minum harus keluar stasiun yang jaraknya cukup bikin keringetan dan males.

3. Di dalam kereta pilihlah tempat duduk sisi kanan
Nyesel banget kemarin pindah posisi ke sisi kiri. Ternyata view dari sisi kanan itu lebih emejing, dilatari sama gunung dan rawa pening yang maha luas ituh *lebay

4. Siapin budget buat beli tiket yang "lumayan" itu.
Sampe sana kalo bisa langsung beli tiket dulu buat yang jam 11, selfie nya ntar-ntaran ajah. Secara peminat kereta wisata itu buanyak dan tiket biasanya udah abis setengah sampe satu jam sebelumnya. Biar gak kelamaan nunggu jadwal keberangkatan yang berikutnya. Oiya anak-anak di atas 2 tahun juga udah dihitung full tiket, jadi kalo 5 orang aja udah ngeluarin 250rebong, lumayan juga buat emak2 irit macam saya ini *elus dompet.

5. Siap-siap rempong cari tempat parkir
Museum ini tidak menyediakan tempat parkir. Jadi silakan cari tempat parkir sendiri-sendiri. Lumayan ngrempongin ini. Saya kemarin dapet parkir deket pasar. Tapi entah ya setelah direhab, mungkin akan disediakan fasilitas itu (secara kemarin lagi direhab-rehab entah apanya)

Oke, sekian cerita saya tentang museum kereta api thomas (baca:kereta api uap) yang femeus itu. Semoga bisa menambah informasi dan bermanfaat.

Sabtu, 04 April 2015

Teknologi Pintar Honda, Mengerti Kebutuhan Kaum Hawa

Cerita berawal dari keinginan saya membeli motor baru sekedar untuk wira-wiri beli sayur di warung. Suami saya nanya "Mau motor apa mah?", serta merta saya jawab "Ya Honda lah, apalagi?".

Mungkin karena udah sejak jaman sekolah dulu selalu pakai sepeda motor honda, jadi kebawa-bawa hingga beranak-pinak gini teteup gak bisa pindah ke lain hati alias gagal move on dari honda. *eaaaa.
Akhirnya terbelilah itu motor matic all new honda beat eSP. Pertamanya saya gak begitu peduli sama fitur-fitur sepeda motor itu, secara emak-emak gituh, males mikirin urusan teknologi kendaraan. Yang penting honda ajah dan bisa jalan. Nyahaha, parah.

Penampakan motor baru saya

Sepeda motor itu saya kasih nama Bebibob, terinspirasi dari film kartun yang sering ditonton anak-anak saya. Langsung aja deh saya ajak si Bebibob reyen muter-muter kompleks perumahan daann... kesan pertamanya...... "saya suka saya suka" *memey mode on.
Keren beneran lho. Teknologi pintar honda yang sering saya lihat di iklan-iklan tv itu gak bohong berati. Haha.

Ada empat hal utama yang bikin saya jatuh hati pada tunggangan pertama (tunggangan?? Kuda kalee)

1. Starter
Gilak starternya alus binggooo. Gak kedengeran suara "cekikikik" kaya sepeda motor umumnya kalo pas di-starter. Berguna untuk "nyimpekke" anak-anak kalo pas saya mau ke warung tanpa ngajakin mereka. Jadi mereka gak denger waktu emaknya nyalain motor. Haha. *emak jahat. Inilah salah satu keunggulan teknologi eSP Honda dengan ACG starternya



2. Idling Stop
Ada menu baru yang saya temukan di sepeda motor saya, yaitu tombol idling stop di deket setang kanan.
Kebiasaan saya saat berkendara adalah suka matiin motor pas sampai lampu merah. Apalagi kalau lampu merahnya nyampe ratusan detik. Biar ngirit bo' *emakpelit. Nanti kalo lampu udah hijau, baru saya nyalakan lagi mesin motor. Naah rupanya kebiasaan ini diadopsi oleh honda melalui teknologi pintarnya yaitu idling stop systen. Sepeda motor akan otomatis mati saat pengendara tidak memutar gas selama 3 detik. Saat mau jalan lagi tinggal putar tuas gas pelan dan taraaa... dia akan nyala lagi dan langsung jalan. Gak usah riweuh on/off-in kunci kontak. Waaaw!! Oke gak seeh? Cucok banget untuk program pengiritan anggaran pengeluaran ibu-ibu. Hihihi.



3. Rem
Remnya euy, pakem pisan. Tau dong gimana emak-emak itu kalo naik motor? Sluman slumun slamet kalo bahasa jawanya. Ngerem mendadak tak pernah ketinggalan. Biasanya kalo ngerem kan harus pakai dua tangan, rem depan dan belakang kan ya biar seimbang. Naah Honda mempemudah urusan pengereman ini dengan teknologi CBS (Combi Break System). Jadi cukup menarik tuas rem kiri, rem depan dan rem belakang dapat berfungsi dengan tepat dan seimbang.


4. Lebih irit dan ramah lingkungan
Belom pernah ngukur beneran sih tingkat keiritan si bebibob. Saya isi bensin 3-4 hari sekali, kadang malah seminggu kalo cuma motoran jarak dekat (Yaiyalah. Haha). Wis gak tau lah, pokoknya saya ngerasa lebih irit yang ini dibandingkan motor-motor saya sebelumnya. Dan secara teori emang lebih irit kaan, secara ada idling stop system itu tadi, jadi bensin gak kebuang sia-sia dan dengan demikian otomatis lebih ramah lingkungan dong, ngurangin polusi udara. Teknologi ini disebut PGM F1 yang intinya si motor honda ini sudah dirancang untuk bisa memasok bahan bakar dan oksigen dengan tepat sesuau kebutuhan mesin di setiap keadaan sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan.



Oke. Secara overall, gak nyesel deh udah milih sepeda motor honda. Teknologi pintarnya itu lho, ngertiiii banget akan kebutuhan emak-emak rempong seperti saya ini. Jatuh hati lagi dan lagi deh sama honda :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Teknologi Pintar Honda"



Jumat, 03 April 2015

Nata De Coco Dioplos Pupuk ZA ??

Masih rame gak sih berita tentang penutupan pabrik nata de coco yang dioplos pupuk ZA ( redaksinya bo'  provokatip binggo)? Sebagai orang food technology berasa kurang afdol kalo gak ikut2an komeng dan meriuhkan suasana biar seru.

Gambar diambil dari regional.kompas.com
Jadi dulu critanya pas kkn, salah satu program grup kami adalah  ngajarin bikin nata de coco buat penduduk setempat. Bukan saya tentunya yang ngajarin karena aku mah apa atuh *halah. Kami mendatangkan pakar pembuat nata de coco dari luar. Pas praktek di depan kita-kita, si bapak memperkenalkan dulu bahan-bahan bakunya antara lain air kelapa, gula, asam sitrat, starter (bibit), dan ZA. Apaa?? ZA?? Yang buat pupuk itu?? Gilak kita suruh makan pupuk, racuuun banget.
Untungnyaaa sebelum kkn itu saya pernah dikasih tugas kuliah kunjungan ke pabrik nata de coco (industri rumah tangga). Jadi komen "gilak, kita suruh makan pupuk"  pas kkn gak sempet terlontar. Malu dong orang pangan komen kaya gitu, mikrobiologinya dapet berapa mbak?

Yak masuk ke konten, prolognya kepanjangan. Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya diketahui dulu gimana bikin nata de coco itu. Intinya gini:  air kelapa yang telah dididihkan ditambahkan gula, ZA dan asam sitrat. Setelah dingin ditambahkan starter (bibit). Starter itu apa? Starter itu isinya bakteri acetobacter xylinum yang bertugas memfermentasi air kelapa. Hasil fermentasi bakteri ini yang nantinya kita kenal sebagai nata de coco. Untuk pertumbuhannya, bakteri ini butuh makanan. Makanannya darimana?  Sukrosa (gula) sebagai sumber karbohidrat dan ZA (amonium sulfat ((NH4)2SO4) -yang oleh awam sering disebut urea-  sebagai sumber nitrogen. Berapa ZA yang ditambahkan dalam proses pembuatan nata de coco? 3gram ZA untuk 1liter air kelapa. Jadi ZAnya siapa yang makan? Ya acetobacter xylinum nya laaahh. Bukan kita dong? Bukan. Kenapa harus ZA sih? Alasan ekonomis: karena lebih murah, mudah larut dan selektif terhadap mikroorganisme lain (dari berbagai sumber), toh ZA itu nantinya tidak ada lagi dalam produk akhir.
Jadi nata de coco yang kita makan itu adalah hasil metabolisme dari si bakteri acetobacter xylinum ituh. Udah gak ada pupuk2annya karena ZA tadi udah dimakan habis sama si bakteri (dengan catatatan ZA nya gak berlebihan). Nata de coco yang udah jadi itu nantinya  dipisahkan dari medianya kemudian dicuci beberapa kali sampai bersih. Setelah itu direbus. Jadi deh. Dengan catatan lagi semua prosesnya harus aseptis (steril), karena kalo enggak nata nya gak bisa jadi. Susah lho bikin nata kalo gak berpengalaman gitu. *Hasil bikin nata pas kkn itu soalnya gatot. Hihi
Jadiiiiiiii media-media yang nulis judul gede-gede "nata yang dioplos pupuk za" itu sebenernya salah kaprah. Dari judulnya terkesan seolah-olah za itu dicampur ke nata-nya trus kita makan. Waduh horor pisan.

Nata de coco itu makanan yang gizinya minimalis tapi seratnya tinggi jadi baik untuk kesehatan pencernaan terutama buat keperluan diet, dengan catatan liat baik2 berapa kadar gula dalam minuman nata yang super manis itu. Gula gula dan gula itu yang sebenernya lebih perlu dikhawatirkan. Misal, nata de coco itu bagus untuk diet buat yang pengen kurus. Trus beli deh minuman nata dalam kemasan yang sudah dikasih gula gak kira2, minumnya bergelas2 sehari.  Huuuffftt capedeh,  sama dengan pesen bakso tanpa vetsin tapi kecapnya 2 sendok. Atau diet teh hijau biar kurus tapi minumnya ditambah 3 sendok gula per cangkir. Tetoot itu mah.

Jadi kalo pak pulisi mau nutup pabrik nata de coco yang di sleman itu, harusnya semua pabrik nata di indonesia juga ditutup semua, karena kebanyakan mereka pake ZA dalam proses pembuatannya. Btw wong coco itu kira2 pake ZA enggak ya? Kalo iya musti ditutup juga dong. Etapi kayanya di kemasannya juga udah ada ijin bpom nya deh. Masa iya kalo penggunaan ZA dalam proses pembuatan nata itu bahaya, bpom akan ngeluarin ijinnya?

Nah, karena buat makanan ada baiknya, lebih etis dan lebih memenuhi prinsip kehati-hatian, za yang digunakan itu hendaklah yang foodgrade (memenuhi syarat-syarat untuk digunakan dalam dunia pangan). Walaupun mungkin pupuk za yang digunakan kebanyakan industri rumah tangga itu juga belom tentu berbahaya. Karena untuk memutuskan pupuk za itu bahaya atau enggak, harus dilakukan pengujian lebih lanjut tentang toksisitas atau residu pupuk di nata itu.

Akhirulkalam, ilmu itu letaknya sebelum amal. Ilmuilah segala sesuatu sebelum melakukan tindakan.

Senin, 05 Januari 2015

5.5 Tahun Bersamanya

Hampir 6 tahun mengarungi bahtera rumah tangga -tsaah bahasanya- mendorong saya menulis catatan kecil kali ini. Belom lama sih kalo baru 6 tahun. Ibu bapak saya sudah ngalamin peringatan kawin emas. 6 tahun mah seujung kuku pengalaman berumah tangga beliau. Tapi gak ada salahnya juga mereview rumah tangga saya yang baru seumuran anak kelas 1 sd ini. Sebagai bahan pembelajaran saya pribadi agar ke depannya bisa lebih oke lagi.

Selama hidup dengan lelaki asing yang tiba2 rela mbeliin bedak dan lipstik buat saya ini, saya merasa 'cukup' nyaman. Baru 'cukup', belom nyampe tahap 'sangat'. Haha. Kata orang, kalo berhasil melewati 5 tahun pertama kehidupan perkawinan, insyaalloh tahun2 selanjutnya akan lebih mudah dilewati. Amiin.

Kehidupan rumah tangga saya itu gak romantis. Jauuh dari dongeng2 romantis ala romeo-juliet, putri tidur dan pangeran tampan, tao ming tse-sancai, barbie dan ken atau mickey dan minnie mouse yang penuh bunga, puisi, nyanyian, dan rayuan gombal. Namun karena sangat biasa itulah, saya menjadi nyaman menjalaninya. Iya. Karena saya gak perlu berpura2, jaim atau pake topeng dalam kehidupan rumahtangga saya. Saya hanya perlu menjadi saya. Dan dia silakan menjadi dirinya.

Saya bisa dengan santai kentut atau ngupil di sampingnya tanpa muka saya harus berubah jadi merah padam. Dan sebaliknya, berlaku juga untuknya. Palingan hanya seloroh "hoeek kamu kentut ya, keluar sana. Heboh buka pintu jendela, nyalain kipas angin.
Atau momen lain yang sering terjadi, pas di tempat makan misalnya,  suami saya dengan santainya bilang "bayarin mah, duitku tinggal sepuluh ribu nih" tanpa dia merasa jadi 'rendah' gegara dibayarin wanita. Atau sebaliknya saya yang bilang, aku gak bawa dompet lho yah, tanpa ngerasa rendah diri karna minta dibayarin. Saya memegang teguh prinsip: duit suami adalah duit saya juga. Dan duit saya adalah duit saya sendiri. :p.

Saya juga sering nyuruh dia, misalnya "bikinin indomie dong yah, males masak nih" sekalian sama es teh manisnya ya. Dan sebaliknya dia sering minta "mah, goreng tempe sana, tepungnya dikit aja, tempenya jangan ketipisan, pake api kecil ya, kalo adonannya sisa jangan maksa ditemplok2in ke tempe lho". Issshhhh rewel. Dan semua itu tidak melibatkan kata 'superioritas'. Saya gak pernah merasa superior karna bisa nyuruh2 dia. sebaliknya juga dia, biasa aja menanggapi suruhan2 saya.

Kalo pas suami saya dapat jatah pulang, biasanya kalo udah senggang saya ambil hpnya. Dimulai dari cek panggilan keluar masuk, inbox sms, obrolan via watsap, bbm sampe fb messenger. Hihi. kepo nama tengah saya. Suami saya cuek aja nanya, ngapain ma? Ngecek aja, sapa tau ada sms dari cewek cantik. Dan dia hanya tertawa. Ada tuh, dari bu ini atau bu itu (rekanan kerjanya). Demikian juga saat suami saya ngepoin hp, ig, fb atau twiter saya (eh, ini gak pernah ding, malah saya yang suka maksa2 dia nge like status2 saya. Atau seringnya saya yang komenin status sendiri pake akun dia. Wkwkwk. Ketauan deh). Saya yakin, suami saya percaya sama kesetiaan saya. Ciyeeh.

Saya gak merasa risih nanya berapa gaji nya sebulan, uang ini asalnya dari mana, dll. Atau bertanya tentang teman2nya, kerjaan kantornya blablabla dan dia dengan senang hati menjawabnya tanpa merasa saya memata2inya. 
Saya gak merasa bego nanya hal remeh temeh semisal, kenapa sih bencong itu hobi mangkal di pengkolan? Atau dulu kenapa kamu mau nikahin aku?Dan dia juga menjawab alakadarnya. Soalnya kalo mangkal di pangkalan namanya tukang ojek. Atau karena gak ada pilihan lain waktu itu. Cuma ada kamu. Yaudah ambil aja. Haaahhh!!! Apaaa??? Jadi bukan karna cinta kamu nikahin aku?? Mata melotot, bibir pleyot2. Tampar aku mas *sinetron alay mode on.

Atau kejadian terbaru kemarin di inul vizta. Dia jalan di depan dan buka pintu kaca. Sayangnya itu pintu gak dia tahan, main lepas aja. Alhasil kejedotlah saya dan bella yang jalan di belakangnya. Sisi batin saya bilang: Oke. Santai, cool, jangan liatin kesakitan dan kemarahanmu, banyak embak2 di sana *jaim say. Sisi batin yang lain bilang: awas ya ntar di dalem. Habiis. *siapin tangan buat cubitan dan tabokan maut. Dan sesampe di ruang karaoke hebohlah saya mencak2 sama suami. Gimana sih, itu namanya gak gentlemen, lelaki apa kaya gitu, harusnya kamu yang bukain pintu buat aku @$fhfd%!@!&*. Dan dia dengan santainya bilang iya, udah dong maaf ya. Tadi kupikir pintunya ditahan berry. Hiiiihhhh. Akhirnya saya mengalah untuk berhenti marah2 saat inget durasi nyanyi yang cuma 1 jam jadi kebuang2 gegara insiden itu. Ya sutralah yuk kita nyanyi sakitnya tuh di sini sambil dongkol.

Itu sekelumit cerita kehidupah keseharian saya sama suami. Biasa aja. Gak ada menyentuh2nya kaya cerita di drama korea. Tapi saya sangat mensyukurinya. Yakin deh Alloh selalu memberikan yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Alloh tahu, saya butuh lelaki yang seperti ini bukan yang seperti itu, yang saya angankan waktu itu. Entah apa yang terjadi kalo lelaki itu bukan dia. Yeeeeyyy aku memujimu suamiku. Haha. Dan saya juga harus belajar untuk gak selalu membandingkan kehidupan rumah tangga si ini atau si itu yang terlihat begitu 'ideal' di mata saya. Setiap rumah tangga itu unik dengan caranya sendiri.

Dan setiap ingat awal perkenalan kami, saya selalu inget guyonan jayus pertamanya.
D:Apa bedanya soto sama coto?
S: *jawab serius, kalo soto itu kuahnya bening, coto agak item
D: Salah. Kalo soto pake daging sapi, kalo coto pake daging capi *muka lempeng tanpa senyum.
S: ih jayus
D: Apa bedanya soto sama sroto?
S: soto pake daging sapi, sroto pake daging srapi
D: salah. Kalo soto sapi, sapinya kakinya empat, kalo sroto, sapinya kakinya emprat
S: ih maksaaaaa. Hahaha (dulu belom musim ketawa pake wkwkwk).