Tampilkan postingan dengan label Opini suka-suka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini suka-suka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2014

Mari Bercermin

Sekali lagi ini bukan tentang siapa presidennya. Toh musim pemilu kemarin saya juga gak milih dua-duanya. Jadi saya bukan termasuk golongan jokowi lover. Noted. Tapi saya juga bukan jokowi hater. Biasa aja. Sekalipun misalnya prabowo yang jadi presiden saat ini, yakin deh kebijakan cabut subsidi bbm ini akan terjadi juga suatu saat. Kaya gak pada belajar dari sejarah. 7x ganti presiden dengan sistem yang sama (baca:demokrasi pancasila), keadaanya tetap sama, lebih buruk malah. Saya cuma ingin belajar mendudukkan sesuatu secara proporsional, pada tempatnya. Sebenernya ingin sih ngikutin nafsu nyalahin ini dan itu -mencari kambing hitam-, soalnya itu kerjaan yang paling gampang dan enak. Tapi saya pikir udah terlalu banyak juga yang melakukannya. Udah mainstream. Terlalu banyak orang-orang yang dengan mudah ngeshare berita 'sampah', hujat sana hujat sini, nyetatus negatif dan provokatif, merasa pendapat dan sikapnya paling benar, merasa lebih ahli dari yang beneran ahli, puas melihat orang lain jatuh, kecewa, sakit hati dan yang semacamnya. Sudah terlalu banyak hal-hal negatif yang terjadi di negeri ini. Miskin prinsip-prinsip hidup mulia dan teladan yang baik. 

Jadi sebelum saya mulai ikut-ikutan nyinyir, bersumpah serapah dan mencaci-maki, saya mau menengok dulu ke diri saya. Egois, gak berfikir panjang -yang penting saat ini saya bisa hidup enak sebodo amat kelak nasib anak cucu-, kurang empati -mau dilayani sebaik-baiknya tanpa mau tahu keriweuhan yang melayani-, maunya yang nyaman-nyaman aja, gak mau susah dikit, pemalas, komentator yang mahir untuk kebijakan pemerintah, kalau membela diri pol-pol an dan kadang gak logis dan masih banyak lagi. Manusia itu adalah hakim yang mashur untuk kesalahan orang lain tapi pengacara yang handal untuk diri sendiri (quote dari tulisan tere liye). Saya jadi merasa malu melihat diri saya sendiri. Dengan kualitas kaya gini sepertinya sangat tidak layak untuk judging siapapun. Saya gak ingin jadi kaya siapa itu namanya, adian napitupulu ya. Yang sebelumnya heboh teriak2 nyinyirin pemerintah tapi giliran kepilih jadi anggota dpr cuma bisa jawab 'pusing kepala gw' waktu ditanya tentang kenaikan bbm. Oohh ternyata gak segampang apa yg gw omongin ya ngurusin 200juta lebih kepala (mungkin gitu batinnya)

Saya gak mengabaikan pentingnya merevolusi sistem ya. I do agree sama gerakan yang mengusung ide mulia penerapan syariah islam secara kaffah. Membawa kembali aturan islam yang begitu lama dicampakkan. Menjadikan islam sebagai ideologi -way of life- ya,  bukan sekedar agama ritual yang hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya.

Tapi tidak bisa dinafikkan juga pentingnya merevolusi mental (minjem istilah pak jokowi gapapa ya :)) orang-orang di dalam sistem itu. Gak tau ya apa karna kelamaan dijajah atau karna kultur sosio budaya atau apa yang bikin orang-orang indonesia itu 'beda' dengan orang-orang luar sana. Susah diatur, ngotot, ngeyelan, terima beres, korup, ogah diajak prihatin dan kawan-kawan.

Jadi apa kesimpulannya? Gak tahu deh. Haha. Silahkan disimpulkan sendiri. Jadi ini ceritanya saya sedang belajar 'menulis' biar gak sekedar jadi ibu rumah tangga yang uplek sama urusan domestik rumah tangga aja. Bosen euy.

Senin, 03 November 2014

Tentang Keteladanan

Saya pikir negeri ini miskin keteladanan. Kekurangan sosok-sosok yang perilakunya bisa digugu dan ditiru. Hal ini dapat dilihat dari hebohnya pemberitaan tentang bu menteri susi beserta segala komentar pro maupun kontra yang menyertainya. Ada yang menganggap yang penting isinya, casing tidak masalah. Yang penting kerjanya, bukan rokok, tato dan bir nya. Yang penting profesional, tidak munafik dan bla bla bla. Hingga sampai pada penarikan kesimpulan yang ga logis, mending tatoan dan ngrokok tapi ga korupsi daripada pake jilbab dan terlihat alim tapi korupsinya segambreng. Emang pilihannya cuma itu ya? Kenapa ga milih yang udah pake jilbab, kerjanya oke, ga ngrokok, ga tatoan, ga nge-bir, ga korupsi pula. Ya itu tadi, karena sosok-sosok yang seperti itu sudah langka di negeri ini. Hampir punah malah. Ini juga akibat maraknya pola pikir 'pilihlah yang terbaik di antara dua keburukan atau pilihlah yang buruknya minimalis'. Saya bukan termasuk yang kontra sama bu susi sih. Malah angkat jempol saat lihat foto beliau gendong simbah-simbah tua dan menaikkannya di pesawatnya. Atau saat beliau mengeluarkan ide-ide segarnya saat rapat dengan para menteri. Saya hanya ingin menitikberatkan tentang pentingnya keteladanan sebagai unsur pembangun kemajuan bangsa.  Untuk orang-orang yang bisa mendudukkan masalah pada tempatnya sih ga akan kesulitan dengan situasi seperti ini. Tapi untuk orang-orang awam, pelajaran moral yang bisa diambil justru bisa sangat keliru. Misal, ngapain repot-repot sekolah tinggi, lulus smp aja bisa jadi menteri dan sukses. Kenapa ga berpikir kalau sekolah tinggi, yang lebih tinggi dari menteri juga bisa didapat. Atau, kalau mau jadi pengusaha berarti ga usah sekolah aja. Kenapa ga berpikir kalau sekolah tinggi dan jadi pengusaha itu lebih keren? Atau standar 'keren' yang dilihat itu juga sudah bergeser? Keren itu sekedar nyentrik, beda dan antimainstream? Entahlah. Banyak orang yang lantas mencari berjuta alasan untuk membenarkan perbuatannya yang sebenarnya tidak tepat. Nanti mungkin akan tiba saatnya ketika ada cerita seorang homo yang pengusaha sukses suka menyantuni orang miskin. Atau seorang perampok yang memberikan hasil rampokannya pada orang-orang miskin ala robinhood. Atau seorang psk yang sukses menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri dan cerita-cerita yang semacamnya. Masihkah kita bisa mengatakan  "yang penting apa yang sudah diberikan untuk masyarakat, bukan homonya, bukan rampoknya, bukan psk nya". Ini mah pemikiran liberal bin sekuler. Errr... rusak dunia.
Di jaman Nabi tidak sulit menemukan keteladanan-keteladanan yang menggetarkan hati baik yang diberikan Nabi maupun sahabat-sahabat beliau. Namun saat ini sulit menemukan pemimpin-pemimpin yang seperti itu. Pemimpin yang menyadari bahwa kelak dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya. Sebagai ibu yang mempunyai dua anak balita, saya terusik untuk ikut menyatakan pendapat, karena saya ingin memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang positif dan penuh teladan baik. Mungkin tidak banyak juga yang bisa saya lakukan. Tapi saya akan upayakan sekuat tenaga memberikan keteladanan-keteladanan kecil untuk anak-anak saya. Seperti kejujuran, hak milik, saling berbagi, saling memuji, saling mengalah, reward punishment dan yang semacamnya. Nilai-nilai hidup yang saat ini sulit dicari keberadaannya. Paling tidak, saya bisa memberikan jawaban yang 'lumayan' ketika kelak ditanya tentang keteladanan apa yang telah saya berikan untuk anak-anak saya. Dimulai dari yang kecil dari diri sendiri, dengan harapan semoga yang kecil ini bisa membesar dan sedikit memperbaiki kondisi bangsa ini yang sedang begitu terpuruk.
Powered By Blogger