Senin, 22 Desember 2014

Bertitel dan IRT, so what??

Saya memang pernah sekolah  s2 dan sekarang jadi ibu rumah tangga, so what? Menurut saya gak ada masalah, meski untuk banyak orang mungkin terlihat sebagai suatu ketidakberhasilan atau antiklimaks. Tapi ya itulah pilihan hidup saya. Kadang orang hanya menilai dari covernya aja, tampak luarnya. Mereka gak tau  tentang bagaimana saya menguburkan mimpi saya yang menggebu2 menjadi dosen dan mengubahnya cukup menjadi dosennya anak2 saya. Mereka gak tau tentang bagaimana saya membesarkan hati saya dan meyakinkan diri terus menerus, yak ini jalan terbaikmu. Mereka gak tau tentang bagaimana saya tutup kuping dengan omongan2 semacam 'sayang sekolah tinggi, cuma jadi irt. Ilmunya gak kepake', dan blablabla atau yang lebih sadis lagi "jadi perempuan kok cuma bisa 'minta' (jawa:nyadong) suami" :( Mereka gak tau gimana saya merasa gak enak saat orangtua saya ditanya, anaknya kerja dimana, dan dijawab dengan alakadarnya, momong anak di rumah. Aahh... mak jleb dan jleb lagi.

Trus sekarang gimana rasanya menjalani pilihan yang dengan sadar saya buat? Puas, bahagia? Banyak bahagianya tapi gak selalu. Bosen, iya. Melakukan hal yang sama setiap hari, gak berkembang dan gak tertantang. Bete, sering. Ketika anak2 begitu bertingkah, mogok sekolah berbulan2, dan sulit diatur. Capek, tiap hari. Pekerjaan yang gak ada jam kerjanya. Dari pagi hingga pagi lagi. Iri, kadang. Iri melihat temen2 lain yang udah 'berhasil' dan sakses dengan karirnya. Galau, jangan ditanya. Berkali2 saya donlod dan print form pendaftaran cpns, tetapi selalu berakhir menjadi uwelan di tempat sampah *kecuali cpnsan pemprov jogja kemarin yg belom ada pengumumannya hingga sekarang. Itu tadi bagian gak hepinya. Bagian hepinya jauh lebih banyak. Menjadi yang pertama dicari anak2 saat mereka membuka mata. Ngeloni dan bacain mereka cerita hingga mereka tidur. Main mobil2an atau cerita boneka dengan mereka. Bikinin mereka susu atau gorengin telor ceplok. Ngajarin baca alif ba ta dan menjadi orang pertama yang bangga saat mereka selesai iqra jilid 1. Dengerin segala cerita mereka beserta segenap imajinasinya dan tertawa bersama. Dan masih banyak sekali cerita2 sederhana yang tak habis ditulis dalam berlembar2 kertas. Momen2 yang menurut saya tak tergantikan dengan materi apapun, apalagi sekedar ketrima jadi cpns :p

Kalo bayangin momen2 berharga itu, tiba2 semua keinginan saya untuk ini itu begini begitu jadi hilang, bubar, musnah. Saya hanya ingin membersamai mereka selama mungkin. Pengen nganterin mereka menuju kebahagiaan mereka, menuju passion mereka, menuju kesuksesan mereka. Agar mereka tak perlu merasakan perasaan hampa yang saya pernah rasakan.
Jadi kuliah s2 saya sia2kah? Saya pikir enggak. Pendidikan tinggi untuk seorang ibu itu menurut saya adalah untuk membentuk pola pikir si ibu, tidak semata untuk mendapatkan pekerjaan atau mencari prestis. Pola pikir yang cemerlang dan tidak dangkal. Tentang kebijaksanaan hidup, prinsip2 hidup dan keteladanan. Pola pikir yang kelak akan diwariskannya kepada anak2nya sebagai generasi penerusnya. Jadi salah banget pernyataan 'ngapain sekolah tinggi kalo pada akhirnya jadi ibu rumah tangga'. Itu pernyataan yang sempit yang tak seharusnya dimiliki orang2 yang 'ngaku' berpendidikan. Hei...hidup bukan sekedar jadi pns keleus. Oiya satu lagi, saya gak merasa hina atau dipandang rendah karena nafkah yang diberikan suami kepada saya. Saya justru memberikan jalan kepada suami saya untuk mendapatkan pahala yang banyak lewat nafkah yang diberikannya pada istrinya. Saya justru memberikan kesempatan kepada suami saya untuk bertanggungjawab terhadap hidup saya dan anak2 tanpa melukai harga dirinya. Jadi harus malu di sebelah mana nya? Lagi2, pemikiran yang dangkal.

Tulisan ini tidak dalam rangka membela ibu rumah tangga ya. Atau memuja2 ibu rumah tangga itu lebih mulia dari ibu bekerja. Enggaaak.... Saya gak sepicik itu. Menurut saya ibu rumah tangga gak bisa diversuskan dengan ibu bekerja. Ibu ya tetep ibu, titik.  Mau dia bekerja atau di rumah saja, selalu ingin mengusahakan yang terbaik. Toh ibu bekerja yang anaknya sukses buanyak dan sebaliknya ibu rumah tangga yang anaknya gak beres juga ada. Jadi ukurannya bukan pada bekerja atau di rumah saja. Tetapi pada bagaimana si ibu berhasil menjalani perannya masing2 sebagai ibu bekerja atau sebagai ibu rumah tangga.

Btw kebayang gak kalo yang bantu ibu2 melahirkan itu pak bidan? Atau pas kita sakit, perawatnya bapak2 atau kalo kita nitipin anak ke daycare yang jagain bukan miss2 tapi mas2?. Ada profesi2 tertentu yang lebih luwes dipegang perempuan. Dan yang jelas gak semua ibu itu berada pada kondisi 'ideal' yang membuatnya bisa dengan tenang tetap tinggal di rumah tanpa harus diriwehkan dengan keharusan memikirkan biaya ini itu yang mungkin belum mencukupi, apalagi di jaman yang gak jelas seperti ini.
Demikian pula jadi ibu rumah tangga. Kebayang gak kacaunya dunia kalo semua wanita itu harus bekerja? Anak2 gak keurus, broken home dimana2,  rumah tangga berantakan dll. Peribahasa 'ibu adalah madrasah pertama dan utama' mungkin gak berlaku lagi.

Jadi kembaliin aja ke hukum asalnya, bekerja bagi kaum wanita itu kan hukumnya mubah/boleh ya bukan wajib atau haram. Selama gak mengabaikan yang wajibnya (mengurus dan mendidik keluarga), gak ada masalah to?
Percaya deh, menjadi ibu rumah tangga itu gak selalu seindah yang sering dibayangkan ibu2 bekerja. Pun menjadi ibu bekerja gak selalu semenyenangkan yang sering diirikan ibu rumah tangga. Berjalan sajalah di track masing2. Rawat dan hijaukan rumput sendiri biar gak selalu merasa kalo rumput tetangga itu lebih hijau.

Hidup bukan melulu soal pilihan. Hidup adalah tentang mewarnai gambar yang telah disediakanNya buat kita. Hidup adalah tentang mengisi ruang2 kosong dalam dimensi ruang dan waktu :D warnai dengan seindah2nya dan isi dengan yang terbaik. *pujangga mode on. Toh nanti yang ditanyakan di akhirat bukan 'kenapa kamu gak jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja?' tetapi 'gimana pertanggungjawabanmu atas pilihanmu menjadi ibu rumahtangga atau ibu bekerja?' Dan itu kita masing2 yang bisa menjawabnya.

Sabtu, 06 Desember 2014

Tempe, Tahu dan GMO

Pilih mana tempe atau tahu? mmm... Enak mana tempe atau tahu? mmm... lagi. Jawabannya relatif sih ya, suka2 gw, tergantung masing-masing orang. Tapi kalo pertanyaannya diubah  jadi bagus mana tempe atau tahu? Jawabannya... ya bagusan tempe lah
Kenapa bisa begitu? Awas kalo begini ceritanya lagi, kebiasaan. Begini alasannya :D

Meskipun sama-sama dibikin dari kedelai, yang bedain tempe dan tahu itu adalah prosesnya. Pada pembuatan tempe ada yang namanya proses fermentasi/peragian oleh jamur tempe, sedangkan pada tahu gak ada. Sebagai gambaran,  meskipun kedelai punya nilai gizi yang tinggi,  dia juga punya beberapa senyawa anti gizi seperti asam fitat, saponin, goitrogen, tripsin inhibitor dll. Senyawa antigizi  ini bisa menghambat proses pencernaan beberapa zat gizi yang terkandung dalam makanan lain yang dikonsumsi bersamaan. Asam fitat misalnya, dia bisa mengikat mineral seperti kalsium, Zn dan zat besi sehingga mengganggu penyerapan mineral2 ini dalam tubuh.  Nah, proses fermentasi ternyata dapat menurunkan kadar senyawa2 anti gizi ini. Kapang/jamur tempe akan menghidrolisis/menguraikan senyawa2 komplek pada kedelai menjadi senyawa yang lebih sederhana yang mudah diserap tubuh (termasuk mengurai zat antigizi pada kedelai itu). Sementara perebusan saja (pada tahu) tidak begitu signifikan menurunkan kadar zat2 antigizi tersebut. 
Jadi jelas kan kenapa tempe lebih baik dibandingkan tahu? Kalo masih belom yakin, saya cantumkan deh nilai gizi tempe dan tahu versi dkbm (ini kitab wajibnya orang pangan). Dalam 100gram bahan, tempe mengandung kalori 149kal, tahu 68kal; protein tempe 18.3gram, tahu 7.8gram; lemak di tempe 4gram, tahu 4.6gram; karbohidrat tempe 12.7gram, tahu 1.6gram; kalsium di tempe 129mg, tahu 124mg; pospor di tempe 154mg, tahu 63mg; zat besi di tempe 10mg, tahu 1mg. (Niat banget :)). Secara overall lebih bergizi tempe daripada tahu kan?

Oke lanjut... Di indonesia, 90% perajin tempe tahu itu pakenya kedelai impor. Dari kebutuhan kedelai yang 2,5jt ton per tahun, 80%nya harus impor *cmiiw. Diimpornya dari mana? Dari Amerika. Di sana itu lagi ngetren yang namanya produk GMO/transgenik (bukan transgender ya). Apa itu? Produk GMO (Genetically Modified Organism) secara sederhananya adalah produk2 dari tanaman atau hewan yang telah direkayasa/dimodifikasi secara genetik. Biasanya dilakukan dengan menggabungkan DNA dari 2 spesies berbeda. Misal: gen tomat yang disisipi gen ikan dari kutub sehingga tomat menjadi tahan dingin dan gak cepet busuk atau bakteri E.Coli yang disisipi gen dari pankreas babi sehingga bisa menghasilkan insulin dalam jumlah besar atau tanaman kapas yang disisipi pestisida biar kebal hama dan masih banyak lagi (tadi itu contoh2 ekstrimnya ya). Yang saya bayangin itu kayak berada di sebuah lab. dengan banyak ilmuwan berdarah dingin dan bermuka datar lagi ngutik2 sepotong dna di bawah mikroskop yang disambungin ke komputer super canggih *lebay. Kalo udah pernah baca novel trilogi divergent, sedikit kebayang gimana teknologi rekayasa genetik itu mempengaruhi 'kemanusiaan' manusia. Nah, teknologi rekayasa genetik ini banyak diaplikasikan ke tanaman pangan seperti jagung, kedelai, kentang dll dengan cara menyisipkan gen tertentu yang tidak dipunyai tanaman (bisa dari sel apa saja) ke dalam gen tanaman sehingga tanaman yang dihasilkan punya sifat2 unggulan yang diinginkan seperti tahan hama, tahan antibiotik, produktivitas tinggi dll. Saya gak tau ya kedelai yang diimpor di kita itu termasuk yang GMO atau tidak. Yang jelas hingga saat ini produk GMO itu masih menjadi kontroversi. Ada yang pro karena teknologi itu diklaim mampu meningkatkan kualitas pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia, namun lebih banyak yang kontra karena berbagai macam alasan seperti produk2 ini diduga menyebabkan alergi, kanker, melanggar keetisan, merusak keseimbangan alam dan masih banyak lagi. Saya gak terlalu menguasai masalah perGMO an ini sih, sekedar ingin menggambarkan bahwa "ada lho teknologi kaya gini". Kalo versi bpom produk2 GMO ini aman ya. Jadi gak perlu terlalu kuatir makan tempe atau tahu.Tapi secara pribadi, saya agak kurang sreg dengan teknologi ini. Berasa terlalu mengintervensi tuhan gituh.

Oke, balik ke kedelai, kenapa perajin tahu tempe lebih milih kedelai impor daripada kedelai lokal? Katanya sih karena kedelai impor lebih 'berkualitas' dibanding kedelai lokal. Berkualitas di sini maksudnya, ukuran bijinya lebih besar2 dan seragam, lebih bersih, lebih cepat lunak saat direbus dll. Kalo dari segi rasa, sebenernya kedelai lokal lebih unggul dari kedelai impor dan yang jelas gak pake GMO2an. Kenapa gak dibikin biar kedelai lokal berjaya di negri sendiri? Seandainya bisa... Soalnya ini terkait dengan pemerintah dan kitanyah. Regulasi yg keren, kemandirian, mental cinta produk dalam negri dll....

Ya sudah pengen cerita itu aja. Sebagai penutup, saya jadi inget kata bu dosen favorit saya dulu  "you are what you eat". Silahkan cek sendiri2 makanan2 seperti apa yang udah masuk ke tubuh kita.

Kamis, 27 November 2014

Jangan Takut Makan Mie Instan

Semangkuk mie instan rebus dipakein telur sama irisan cabe rawit ituuuhhh........ sluuurrrppp....salah satu surga dunia. Rugi kalo gak nyobain


Enggak ah. Serem. Mie instan itu makanan gak sehat tauk. Ati-ati ada lilinnya, bisa bikin kanker pulak MSG nya.Eleuh-eleuh....segitu pisan yak sama mie instan. 

Oke. Sekarang ngomongin tentang mie instan yuukk. Teringat beberapa waktu lalu saya lagi mau masak mie instan dan tiba2 sodara nyeletuk, air rebusan yang pertama dibuang dulu baru diganti pake air termos soalnya ada lilinnya itu
Jreng...jreeng.... Spechless sayanya mah

Coba sekali-sekali liat proses pembuatan mie instan (googling please). Lihat tahapan terakhir sebelum dikemas. Yesss, digoreng pada suhu 140°-150°C selama 60-120detik kemudian langsung didinginkan. Proses ini ditujukan agar tekstur mie jadi keras, kadar air berkurang, lebih awet karena bakteri/jamur tidak bisa tumbuh. Naaaahhh, nggoreng nya itu pake minyak kan ya, bukan air (kalo pake air namanya ngrebus mbak)? Abis digoreng, ditiriskan trus didinginkan maka jadilah itu minyak yang masih tersisa nempel di mie. Betul apa bener? 
Jadiiiii kalo saat merebus mie itu ada kaya minyaknya di air rebusan,  itu bukan lilin buibu tapi minyak goreng. Jelas yaaaa??*ala cikgu dosen, hhhhhhh *hela napas, esmosi saia. 

Lanjuuutt.... Info keterlaluan kedua nih, kalo masak mie instan bumbunya jangan direbus bareng mie nya karena pada suhu 120°C MSG akan terurai menjadi senyawa2 yang berpotensi karsinogenik (pemicu kanker) atau yang semacam itu redaksinya. Ngerasa ada yang janggal gak sama informasi di atas? Nggak ada?? Sini sini saya tunjukin. 
Inget pelajaran SD dulu dong? "Berapa titik didih air anak-anak?" Bertanyalah ibu guru sumini pada anak muridnya. "100°C bu guruuuu" Jawab murid-muridnya serempak. Iyak pintar sekali.  
Naaah masak mie instan ini pake kompor sama panci kan ya?  Masak mi pake panci dan kompor sampe yang masak ubanan juga tidak akan pernah mengubah titik didih air yang 100°C menjadi 120°C, kecuali kalo sodara/sodari semua masak mie nya pake panci presto (Lodrok dong mie gue).
Lha gimana critanya itu MSG bisa terurai/terpirolisis atau apalah namanya jadi senyawa-senyawa karsinogenik?

Yang terakhir nih penting  banget, masih percaya kan sama badan pengawas obat dan makanan (bpom)?  Di setiap kemasan mi instan pabrikan merk2 terkenal itu pasti ada ijin bpom nya *kalo gak ada, gak usah dibeli. Badan pom ga akan dengan mudahnya mengeluarkan nomor perijinan bpomnya untuk suatu produk yang gak jelas keamanannya. Kalo mie instan itu gak aman dan gak layak makan udah dari dulu ditarik dari peredaran. Yang harus diwaspadai justru mie2 industri rumah tangga yang banyak bertebaran di pasar atau tukang sayur itu. Tanpa merk, tanpa kemasan higienis, gak tau pake pengawet formalin atau tidak dll. Jangan terbalik-balik. Gak semua yang pabrikan (berpengawet kimia) itu kurang baik untuk kesehatan. Dan sebaliknya gak semua yang tanpa pengawet itu pasti baik. Selama penggunaan pengawet itu terkontrol dan sesuai patron its oke menurut saya.

Nah masalahnya sekarang adalah seberapa sering kita konsumsi mie instan itu sendiri. Kalo tiap hari sehari 3x dan bener-bener mie instan doang, ya itu lebay bingits namanya. Kenapa gak boleh keseringan?

1. Mie instan itu makanan yang 'gak bergizi' (haha. Jahatnya... yaudah deh gizinya minimalis). Jadi ngapain juga masuk-masuk-in sesuatu yang gak ngasih manfaat ke tubuh sering-sering? Selingan gakpapa, sebagai recreational food, seminggu 2-3x masih tolerable. Kalo mau lebih bergizi campurkan dengan sayur, telur atau bahan bergizi lain.

2. Mie instan itu makanan yang tinggi garam. Diet tinggi garam terus menerus jelas gak baik untuk tubuh apalagi untuk orang-orang yang punya riwayat hipertensi, sangat tidak dianjurkan

3. Mie instan itu pantangan buat yang alergi atau intoleran terhadap gluten. Gluten itu protein yang terdapat pada tepung2an seperti gandum sebagai bahan dasar mie. Orang-orang seperti ini biasanya akan jadi pusing, mual atau sakit perut setelah makan makanan-makanan mengandung gluten seperti mie atau roti.

Jadi mie instan itu aman ya, asal semua aturannya dipatuhi dan gak berlebihan. Sooo.....cek dan validasilah  informasi2 yang diterima. Jangan mudah menelan mentah-mentah semua data. Digoreng apa direbus dulu gitu biar agak enak. Sayang banget kan ilmu yang berharga itu  menjadi tak bernilai hanya karena ditemplokkan dengan semena2 untuk menghukumi suatu fenomena dengan tidak tepat.

Ancaman Di Balik Manisnya Gula

Gambar diambil dari intisari-online.com

Set dah, tumben bikin judul a la-a la media abal-abal gini. Wkwk. Kenapa oh kenapa buk? Yah karena inilah faktanya. Daripada ibu-ibu parno berlebihan terhadap MSG -yang notabene sudah dijamin aman-, sepertinya lebih pas kalo kuatir berlebihannya dialihkan pada gula pasir. Kenapa gula pasir? Begini ceritanya:
Gula pasir (atau nama kimianya sukrosa)itu masuknya ke golongan karbohidrat, yang di dalam tubuh dipecah jadi unsur penyusunnya (fruktosa dan glukosa). Glukosa di tubuh ini yang nantinya sering disebut dengan istilah gula darah. 

Coba bayangkan berapa gelas gula yang dibutuhkan untuk bikin 1sachet nutrijel? Ukurannya udah gelas bo' bukan sendok lagi. Belom lagi gula yang ngumpet di dalam  sirup, softdrik, es teh manis, sup buah, es krim, jus buah, biskuit, macem2 kue kering, permen dan banyak lagi.  Itu perhitungan di luar nasi lho. Iya nasi putih. Nasi putih itu termasuk makanan dengan indek glikemik tinggi. Makanan ber IG tinggi itu adalah makanan yang dengan cepat menaikkan kadar gula darah. Yess sepertinya konsumsi kita high sugar banget ya. Emang ada yang salah dengan diet high sugar? Begini ceritanya (lagi :)): yang kadang sering disalah-salahin sebagai biang kegemukan itu kan lemak ya. Gorengan, makanan bersantan dkk. Ada benernya juga sih. Tapi taukah anda jika kelebihan gula yang tidak dipake tubuh itu juga disimpan sebagai.... jreng...jreng......
yup  L E M A K.
Dan itu justru yang jadi penyebab utama kegemukan. Iyaaa lemak yang bikin gendut itu. Wkwk

Jadi hubungan diet tinggi gula dengan kegemukan? Ya sodara sepupu deh, deket banget. Sebagai tambahan, kadar gula  yang tinggi dalam darah itu akan memaksa pankreas untuk kerja rodi ngeluarin insulin (buat menyeimbangkan kadar gula darah tubuh). Kalo pola ini dilakukan terus menerus, yang ada insulinnya jadi gak sensitif, terpaksa pankreas ngeluarin lebih banyak insulin lagi. Nah sekresi insulin berlebih ini diduga sebagai penyebab dasar munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes dkk. Jadi teringat bude saya yang harus sangu alat suntik kemana-mana. Karena setelah selesai makan beliau harus selalu menyuntikkan insulin ke dirinya sendiri untuk menurunkan kadar gula darahnya. 

Pola konsumsi tinggi gula ini juga mungkin yang jadi penyebab naiknya prevalensi penyakit semacam jantung koroner, stroke dkk di semua kalangan. Dulu kan penyakit-penyakit 'keren' ini cuma jadi milik orang-orang kaya yang makannya enak-enak trus ya. Tapi sekarang dari lapisan bawah sampe atas tidak jarang yang mengidap penyakit-penyakit semacam ini. Btw saya juga pernah baca (belom tau validitasnya ya), bahwa proses pengolahan gula yang puanjang (dari penggilingan, pemurnian, evaporasi, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan sampe pengepakan) ini akan menghilangkan semua mineral yang tadinya ada di tebu. Jadi gula pasir yang putih bersih dan manis itu benar-benar hanya murni berisi sukrosa tok. Gak ada mineral apalagi vitamin yang masih bisa digunakan tubuh.

Oke. Berapa sih batas maksimal konsumsi gula pasir sehari yang seharusnya? Menurut WHO tidak lebih 5% kebutuhan energi harian. Kalo kita asumsikan sehari itu 2000kkalori, ya berarti tidak lebih dari 100kkalori yang itu setara dengan 25gram gula atau kira-kira 6 sendok teh. Kalo versi peraturan menteri kesehatan RI, konsumsi gula dalam sehari itu tidak lebih dari 4 sendok makan. Sedikit ya... ? Ngeteh manis pagi hari 2 sendok teh gula pasir. Coffeebreak siang 2 sendok lagi. Eh, sarapan sama ngemil donatnya belum diitung :p, sampe rumah sore, teh manis anget enak nih, 2 sendok teh lagi yang datengnya serombongan bareng sahabat2nya yaitu pisang goreng, roti goreng dkk. Ya sutralah... lewat deh tuh 4 sendok makan gula/hari. haha. Trus gimana dong? Pengen makan manis tapi takut gula. Makannya sambil liat saya aja *senyum manis.

Ada sih yang namanya pemanis buatan yang rendah kalori tapi semanis gula. Seperti aspartam (tropicanaslim),  stevia dll. Ini masuk kategori aman ya (ada nilai ADI)-nya,  tapi ada beberapa kontroversi juga. Jadi kalo hati gak mantep ya gak usah dipake. Intinya terapkan pola hidup sehat, kurangi aktivitas ngopi-ngopi cantik, ngemil donat kentang (deket rumah saya ada yang jual donat kentang enak murce dan laris bgt *abaikan), kurangi nasi putih, makanan manis, goreng-gorengan, perbanyak serat dan pastinya olahraga. Yaah endingnya kok lagi-lagi hidup sehat dan olahraga. Gak seru ini mah. Saya nulis-nulis gini tapi juga belom bisa menjalankannya lho (tutup muka), susah euy.

Gini lho, intinya tuh saya pengen mendudukkan semua itu proporsional pada tempatnya. Pas. Gak berlebihan. Gak lucu kan kalo misalnya bela-belain pesen bakso tanpa vetsin (tapi kecap+saos 3sendok :)), tapi merasa santai-santai aja ngeteh anget sama ngemil donat tiap sore.
Khawatirlah dengan sesuatu yang memang layak dikhawatirkan, jangan membebani otak dengan kekhawatiran2 yang sebenarnya tidak diperlukan :)

Jadi judul di atas gak lebay kan? Asli gula itu lebih mengancam dibandingkan MSG karena cara mengancamnya itu semanis rasanya, bikin kita gak sadar kalo dia itu sebenarnya harus dihindari.

Powered By Blogger