Tampilkan postingan dengan label mitos & fakta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitos & fakta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

Susu Kedelai Bikin Mandul? Ciyuuss??

Kemarin ada teman yang nanya bener gak susu kedelai bikin mandul? Saya gak bisa jawab pertanyaan itu sejelas menjawab pertanyaan bener gak manusia bernafas dengan paru2? Jadi di sini saya coba tuliskan alur pikir nya aja ya, versi saya.

Susu kedelai/sari kacang kedelai itu sudah dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu terutama oleh orang2 asia (awalnya dari cina), (sumber:wikipedia). Kalo konsumsi kedelai dikatakan bisa bikin mandul, harusnya sekarang udah ada masalah dengan jumlah populasi manusia terutama di kawasan asia dong?

Kedelai merupakan sumber protein non hewani yang sangat bagus, karena dia memiliki hampir semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Namun demikian, di dalam kedelai itu juga ada beberapa senyawa anti gizi seperti asam fitat, inhibitor tripsin, goitrogen, saponin dsb. Senyawa antigizi ya bukan senyawa berbahaya *catet. Namun seiring dengan makin berkembangnya penelitian, senyawa2 antigizi ini ternyata juga bisa bersifat menguntungkan. Asam fitat misalnya, dia disebut antigizi karena dapat mengikat mineral2 penting seperti kalsium, seng dan magnesium membentuk endapan sukar larut sehingga mengurangi ketersediaan mineral2 tersebut bagi tubuh. Tapi kemampuan ini juga menjadikannya mampu bertindak sebagai antioksidan dengan mencegah reaksi oksidasi yang merugikan tubuh.
Itulah kenapa ngomongin gizi itu gak sepasti ngomongin satu tambah satu sama dengan dua.

Balik ke susu kedelai. Susu kedelai ini sama seperti tahu termasuk produk yang gak difermentasi (liat tulisan saya sebelumnya tentang bedanya tahu sama tempe). Produk2 yang tidak difermentasi ini kemungkinan punya kandungan senyawa antigizi yang lebih tinggi dibandingkan produk2 fermentasi seperti tempe dan kecap.

Satu lagi yang jadi kontroversi pada susu kedelai, yaitu isoflavon. Isoflavon banyak terdapat pada kedelai dan produk turunannya. Isoflavon ini termasuk dalam golongan fitoestrogen yaitu senyawa yang mirip dengan hormon estrogen pada manusia. Di satu sisi dia punya segudang manfaat seperti anti oksidan, anti kanker, menurunkan kolesterol jahat dan masih banyak lagi. Namun di sisi lain -karena kemiripannya dengan estrogen-, dia dikatakan dapat mengganggu sistem reproduksi manusia, bikin infertil dan gangguan seksualitas lain. Saya gak tau yang bener yang mana. Yang jelas penelitian2 terkait isoflavon yang banyak dilakukan pada tikus percobaan (bukan manusia) ini biasanya menggunakan isoflavon dengan dosis sangat tinggi. Sejauh saya gugling, hasil2 penelitian ini bervariasi, ada yang memberikan hasil positif maupun negatif.

Yang jelas lagi, susu kedelai itu solusi untuk anak2 yang alergi dengan laktosa pada susu sapi (lactose intolerance). Anak2 yang tidak tahan terhadap laktosa (diare kalo abis minum susu) biasanya disarankan beralih pada susu kedelai karena komposisi gizinya yang hampir mendekati susu sapi.
Saya kasih susu kedelai juga kok ke anak saya. Tapi saya gak rutinkan. Saya menempatkan susu (baik sapi maupun kedelai) itu sebagai pilihan bukan kewajiban. Pengen minum silakan, enggak juga gakpapa.

Kalo ngomongin infertilitas, kanker, stroke dan penyakit2 serem sebangsanya, menurut saya gak bisa diambil kesimpulan hanya dengan menuduh satu faktor saja sebagai penyebabnya. Kedelai bikin mandul. Mie instan dan MSG bikin kanker. Gorengan bikin kolesterol tinggi dan semacamnya. Naiknya prevalensi penyakit2 serem itu bisa jadi merupakan gabungan dari perkembangan teknologi, pola makan gak bener dan gaya hidup gak jelas. Rokok, alkohol, makanan junkfood, makanan instan, diet tinggi gula, kebanyakan nonton insert atau jodha akbar, kurang olahraga, depan laptop seharian, gadget gak bisa lepas dari tangan and so on. Faktor2 itu bergabung jadi satu dan terakumulasi bertahun2, jadilah boooomm!!! Penyakit2 manusia modern yang jaman dulu mungkin jadi penyakit langka.

Dapet benang merahnya kan ya dari catatan ini? Tiwas nulis panjang2 malah gak nyambung atau bikin pusing kan gak asik banget.
Jadi gimana itu tadi susu kedelai? Asal minumnya gak heboh2 amat alias wajar2 saja, saya pikir gak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Makan tempe tahunya kalo bisa jangan tiap hari, sehari 3x, bosen euy :D ganti telor ceplok, ikan atau apa gitu. Oiya ada kok produk susu kedelai yang udah difermentasi. Namanya soyghurt, temennya yoghurt. Secara teori itu lebih baik dibandingkan susu kedelai biasa.

Yuk Telaah Kebenaran Iklan Minyak Goreng


Gambar diambil dari kompasiana.com

Kenapa gorengan itu jadi favorit hampir semua penduduk indonesia raya? Jawabannya cuma satu: karena  e n a k. Apa yang bikin enak? Yap, MINYAKnya. Btw soal minyak,  jadi inget persaingan para produsen minyak dengan merk dan jargon masing-masing untuk menarik konsumen memilih produknya. Itu beneran gak sih?

Yuk cek atu-atu...

1. Minyak 2x penyaringan itu lebih baik?
Apa sih tujuan penyaringan dalam pengolahan minyak itu? Ngilangin kolesterol? Ngilangin kotoran? Bukaaann..............!!! Penyaringan (bahasa teknologinya fraksinasi) itu tujuannya buat misahin fraksi cair minyak (olein) dengan fraksi padat (stearin)nya. Emang kalo masih ada bagian yang padat jadi bahaya gitu? Enggak juga. Cuma minyaknya jadi lebih mudah 'membeku' pada suhu kamar, jadi keliatan kurang oke penampakannya. Kalo disaring 2x fraksi padatnya udah gak ada, jadi gak mudah 'beku'. Kalo yang dimaksud 'baik' itu kaya gini ya jelas 2x penyaringan lebih baik dari 1x penyaringan. Tapi kayanya hampir semua merk minyak goreng kemasan udah menerapkan 2x penyaringan deh (tuntutan konsumen yang suka minyak goreng bening)

2. Minyak mengandung omega 3, omega 6 dan omega 9 itu keren?
Jadi ya Omega 9 itu nama lainnya adalah asam oleat. Asam oleat itu komponen utama dari minyak sawit (bimoli, filma, tropical, sunco, sania dkk). Jadi semua minyak sawit mengandung omega 9? Iyak. Minyak sawit juga punya kandungan asam lemak linoleat (omega 6) sekitar 8%an. See, bagaimana bahasa iklan mempengaruhi pikiran kita? Kalo minyak yang dicap mengandung omega 3 ya berati itu ditambahkan dari sumber hewani. Tapi sepertinya gak gitu ngefek juga itu omega 3, toh kita mengonsumsi minyak goreng juga gak sampe segelas sehari :p. Lagian  kira2 omega 3 itu akan rusak gak karna penggorengan?

3. Minyak non kolesterol itu lebih sehat?
Sekali lagi. Yang punya kolesterol itu cuma manusia dan produk2 dari sumber hewani. Lemak yang ada pada bahan minyak goreng nabati itu namanya fitosterol. Jadi tanpa dicap 'nonkolesterol' pun semua minyak goreng itu ya emang non kolesterol. Jargon ini sebenernya justru agak menyesatkan, soalnya jadi memberi kesan kalo minyak bebas kolesterol itu njuk bebas dinggo sakkarepe dewe (baca: terus bisa dipake suka2 gue -gak dapet feel nya kalo diindonesiain-). Padahal yang namanya minyak ya tetep minyak, yang harus dibatasi penggunaanya.

4. Minyak yang sehat bisa diminum?
Diminum itu cuma salah satu cara menguji kualitas minyak. Minyak goreng yang baik, saat diminum akan berasa seperti minum air biasa. Minyak goreng yang sudah mengalami multiple proses (pemurnian, penghilangan warna dan bau dll) biasanya juga bisa diminum (tapi tidak ditujukan untuk diminum).

5. Minyak goreng mengandung vitamin A, D, E, K?
Secara alami minyak goreng memang mengandung vitamin2 ini. Ada juga yang masih ditambahkan/difortifikasi dengan vitamin A. Masalahnya buat sebagian besar kita, minyak goreng ini dipake sebagai media penghantar panas -bilang aja buat nggoreng, riweh pisan-, nah vitamin2 ini sangat mudah rusak akibat pemanasan suhu tinggi. Jadi ya gak usah ngarep masih bisa dapet vitamin2 itu pada pisang goreng, tempe goreng dkk.

Jadi lagi2 jangan mudah terprovokasi baik oleh iklan maupun kata orang. Jadilah konsumen yang keren. Oke kembali lagi ke pilihan masing-masing sukanya pake minyak goreng yang merk mana. Kalo saya sih sukanya minyak goreng yang mengandung....... diskonan :D

Makanan Organik vs Makanan Konvensional

Let's talk about 'pangan organik'. Apa sih yang terasosiasi di benak kita kalo ngomongin makanan organik? 3 kata? Kalo saya mahal, aman, sehat. Cek satu2.
Sebelumnya back to definisi dulu. Bahan pangan organik itu adalah bahan pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik. Minim pestisida sintetis dan pupuk kimia. 'Organik' di sini hanya istilah ya, untuk pertanian yang ramah lingkungan, back to nature dsb,  beda sama 'organik' yang dimaksudkan di pelajaran kimia itu (semacam molekul yang mengandung atom karbon). Jadi saya pake istilah bahan pangan biasa/konvensional aja sebagai kebalikan dari bahan pangan organik.

1. Lebih mahal?
Bahan pangan organik ini harganya biasanya 10-30% lebih mahal dari bahan pangan konvensional. Kenapa lebih mahal? Antara lain karena perawatannya yang lebih riweuh, permintaan yang lebih tinggi daripada penawaran, penanganan pasca panen yang lebih ribet, tenaga kerja yang lebih banyak, dan sertifikasi pangan organik yang gak mudah dan gak murah dll.

2. Lebih aman?
Samakan persepsi aman dulu. Apa yang dimaksud aman itu adalah karena kandungan pestisidanya lebih sedikit? kalo itu, ya jelas pangan organik punya residu pestisida lebih rendah dibandingkan pangan konvensional. Wong syarat disebut organik itu emang meminimalkan/meniadakan pestisida sintetis. Tapi menurut saya, sebenernya kuncinya itu ada pada dosis. Apakah dosis pestisida di bahan pangan konvensional itu melebihi ambang batas maksimum penggunaan pestisida yang diijinkan? Kalo masih jauh di bawah dosis, ya masih aman, gak perlu terlalu parno. Masalahnya ada juga petani2 nakal yang kadang bertanam gak pake aturan, semena2 ngasih pestisida ke tanamannya. Nah dosis untuk pestisida itu beda2, tergantung jenis pestisidanya dan bahan pangannya. Bisa di cek di SNI (saya lagi males nyarinya. Banyak :D). Meskipun begitu, sangat jauh lebih baik kalo pestisida sintetis itu bisa diganti dengan pestisida alami/hayati/nabati yang lebih ramah lingkungan.

3. Lebih sehat?
Lha kalo tentang nutrisinya gimana? Apakah pangan organik lebih tinggi nutrisinya dibandingkan yang konvensional? Sepertinya gak begitu. Yang saya baca2 itu ternyata beda kandungan gizi antara pangan organik dan yang konvensional itu gak signifikan/gak beda2 amat/sama aja. Yang harus diperhatikan dari pangan organik itu sebenarnya adalah tentang kontaminasi mikrobianya. Kan pupuknya itu biasanya pake pupuk kandang ya, bakteri semacam E.Coli di pupuk kandang itu kira2 bisa mengkontaminasi bahan pangannya gak? Gak tau juga, belom dapat referensinya.

Pilihan banyak orang untuk pindah haluan dari pangan konvensional ke pangan organik itu sebenarnya lebih terkait dengan persepsi otak. Semacam halo efek gitu, sugesti mungkin ya. Tanpa melihat nilai nutrisi di kemasan, konsumen biasanya menyimpulkan kalo pangan yang dilabelin dengan cap 'organik' itu lebih sehat, lebih bergizi, rendah kalori dan lebih aman, sekalipun lebih mahal. Kaya persepsi kalo mobil Honda itu lebih keren dari Hyundai *gak nyambung ya :D Persepsi ini sebenarnya kurang tepat dan kurang kuat, karena belom didukung dengan banyak penelitian. Kebanyakan penelitian yang dilakukan adalah membandingkan kandungan residu pestisida pada pangan organik dan konvensional. Penelitian2 yang membandingan kandungan nutrisi kedua jenis pangan ini hasilnya bervariasi sehingga belom bisa ditarik kesimpulan besarnya kalo pangan organik itu lebih tinggi nutrisinya dibandingkan pangan konvensional.

Jadi ya biasa aja deh, gak perlu terlalu rem to the pong dan ri to the bet. Lagi2 kembali pada preferensi masing2. Kalo ngerasa lebih mantep dengan makanan2 organik, -dengan resiko harus merogoh kocek lebih dalam- sok dilanjutken. Tetapi kalo masih tetep bertahan dengan pangan yang biasa aja ya gakpapa juga. Dengan catatan diperhatikan preparasinya. Residu pestisida yang paling banyak itu biasanya ada di permukaannya. Jadi kalo mau makan buah ya kupas dulu kulitnya. Apalagi untuk buah manggis, kabar gembiranya kan kulitnya bisa diekstrak tuh :D. Atau kalo buah2 yang kulitnya harus dimakan macam stroberi, anggur atau apel ya dicuci pake sabun yang foodgrade itu. Kalo kubis, bagian terluarnya mending dibuang dulu.

Kalo pengen yang aman dan murah ya nanam sendiri aja sayur2 dan buah2annya. Pake metode hidroponik juga oke kayanya. Gak pake tanah2an. Saya kemarin juga udah nanem cabe, tomat dan sesayuran lain. Menyenangkan lho. Melihat sebuah proses kehidupan baru, dari sebutir biji, berkecambah, tumbuh daun da..da..da.. trus dipanen deh, kalo gak dipanenin ulat sama walang duluan :D

Oke, demikian sekelumit cerita tentang pangan organik yang saya tahu. Monggo kalo ada koreksi atau info tambahan.

Sabtu, 06 Desember 2014

Tempe, Tahu dan GMO

Pilih mana tempe atau tahu? mmm... Enak mana tempe atau tahu? mmm... lagi. Jawabannya relatif sih ya, suka2 gw, tergantung masing-masing orang. Tapi kalo pertanyaannya diubah  jadi bagus mana tempe atau tahu? Jawabannya... ya bagusan tempe lah
Kenapa bisa begitu? Awas kalo begini ceritanya lagi, kebiasaan. Begini alasannya :D

Meskipun sama-sama dibikin dari kedelai, yang bedain tempe dan tahu itu adalah prosesnya. Pada pembuatan tempe ada yang namanya proses fermentasi/peragian oleh jamur tempe, sedangkan pada tahu gak ada. Sebagai gambaran,  meskipun kedelai punya nilai gizi yang tinggi,  dia juga punya beberapa senyawa anti gizi seperti asam fitat, saponin, goitrogen, tripsin inhibitor dll. Senyawa antigizi  ini bisa menghambat proses pencernaan beberapa zat gizi yang terkandung dalam makanan lain yang dikonsumsi bersamaan. Asam fitat misalnya, dia bisa mengikat mineral seperti kalsium, Zn dan zat besi sehingga mengganggu penyerapan mineral2 ini dalam tubuh.  Nah, proses fermentasi ternyata dapat menurunkan kadar senyawa2 anti gizi ini. Kapang/jamur tempe akan menghidrolisis/menguraikan senyawa2 komplek pada kedelai menjadi senyawa yang lebih sederhana yang mudah diserap tubuh (termasuk mengurai zat antigizi pada kedelai itu). Sementara perebusan saja (pada tahu) tidak begitu signifikan menurunkan kadar zat2 antigizi tersebut. 
Jadi jelas kan kenapa tempe lebih baik dibandingkan tahu? Kalo masih belom yakin, saya cantumkan deh nilai gizi tempe dan tahu versi dkbm (ini kitab wajibnya orang pangan). Dalam 100gram bahan, tempe mengandung kalori 149kal, tahu 68kal; protein tempe 18.3gram, tahu 7.8gram; lemak di tempe 4gram, tahu 4.6gram; karbohidrat tempe 12.7gram, tahu 1.6gram; kalsium di tempe 129mg, tahu 124mg; pospor di tempe 154mg, tahu 63mg; zat besi di tempe 10mg, tahu 1mg. (Niat banget :)). Secara overall lebih bergizi tempe daripada tahu kan?

Oke lanjut... Di indonesia, 90% perajin tempe tahu itu pakenya kedelai impor. Dari kebutuhan kedelai yang 2,5jt ton per tahun, 80%nya harus impor *cmiiw. Diimpornya dari mana? Dari Amerika. Di sana itu lagi ngetren yang namanya produk GMO/transgenik (bukan transgender ya). Apa itu? Produk GMO (Genetically Modified Organism) secara sederhananya adalah produk2 dari tanaman atau hewan yang telah direkayasa/dimodifikasi secara genetik. Biasanya dilakukan dengan menggabungkan DNA dari 2 spesies berbeda. Misal: gen tomat yang disisipi gen ikan dari kutub sehingga tomat menjadi tahan dingin dan gak cepet busuk atau bakteri E.Coli yang disisipi gen dari pankreas babi sehingga bisa menghasilkan insulin dalam jumlah besar atau tanaman kapas yang disisipi pestisida biar kebal hama dan masih banyak lagi (tadi itu contoh2 ekstrimnya ya). Yang saya bayangin itu kayak berada di sebuah lab. dengan banyak ilmuwan berdarah dingin dan bermuka datar lagi ngutik2 sepotong dna di bawah mikroskop yang disambungin ke komputer super canggih *lebay. Kalo udah pernah baca novel trilogi divergent, sedikit kebayang gimana teknologi rekayasa genetik itu mempengaruhi 'kemanusiaan' manusia. Nah, teknologi rekayasa genetik ini banyak diaplikasikan ke tanaman pangan seperti jagung, kedelai, kentang dll dengan cara menyisipkan gen tertentu yang tidak dipunyai tanaman (bisa dari sel apa saja) ke dalam gen tanaman sehingga tanaman yang dihasilkan punya sifat2 unggulan yang diinginkan seperti tahan hama, tahan antibiotik, produktivitas tinggi dll. Saya gak tau ya kedelai yang diimpor di kita itu termasuk yang GMO atau tidak. Yang jelas hingga saat ini produk GMO itu masih menjadi kontroversi. Ada yang pro karena teknologi itu diklaim mampu meningkatkan kualitas pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia, namun lebih banyak yang kontra karena berbagai macam alasan seperti produk2 ini diduga menyebabkan alergi, kanker, melanggar keetisan, merusak keseimbangan alam dan masih banyak lagi. Saya gak terlalu menguasai masalah perGMO an ini sih, sekedar ingin menggambarkan bahwa "ada lho teknologi kaya gini". Kalo versi bpom produk2 GMO ini aman ya. Jadi gak perlu terlalu kuatir makan tempe atau tahu.Tapi secara pribadi, saya agak kurang sreg dengan teknologi ini. Berasa terlalu mengintervensi tuhan gituh.

Oke, balik ke kedelai, kenapa perajin tahu tempe lebih milih kedelai impor daripada kedelai lokal? Katanya sih karena kedelai impor lebih 'berkualitas' dibanding kedelai lokal. Berkualitas di sini maksudnya, ukuran bijinya lebih besar2 dan seragam, lebih bersih, lebih cepat lunak saat direbus dll. Kalo dari segi rasa, sebenernya kedelai lokal lebih unggul dari kedelai impor dan yang jelas gak pake GMO2an. Kenapa gak dibikin biar kedelai lokal berjaya di negri sendiri? Seandainya bisa... Soalnya ini terkait dengan pemerintah dan kitanyah. Regulasi yg keren, kemandirian, mental cinta produk dalam negri dll....

Ya sudah pengen cerita itu aja. Sebagai penutup, saya jadi inget kata bu dosen favorit saya dulu  "you are what you eat". Silahkan cek sendiri2 makanan2 seperti apa yang udah masuk ke tubuh kita.

Kamis, 27 November 2014

Jangan Takut Makan Mie Instan

Semangkuk mie instan rebus dipakein telur sama irisan cabe rawit ituuuhhh........ sluuurrrppp....salah satu surga dunia. Rugi kalo gak nyobain


Enggak ah. Serem. Mie instan itu makanan gak sehat tauk. Ati-ati ada lilinnya, bisa bikin kanker pulak MSG nya.Eleuh-eleuh....segitu pisan yak sama mie instan. 

Oke. Sekarang ngomongin tentang mie instan yuukk. Teringat beberapa waktu lalu saya lagi mau masak mie instan dan tiba2 sodara nyeletuk, air rebusan yang pertama dibuang dulu baru diganti pake air termos soalnya ada lilinnya itu
Jreng...jreeng.... Spechless sayanya mah

Coba sekali-sekali liat proses pembuatan mie instan (googling please). Lihat tahapan terakhir sebelum dikemas. Yesss, digoreng pada suhu 140°-150°C selama 60-120detik kemudian langsung didinginkan. Proses ini ditujukan agar tekstur mie jadi keras, kadar air berkurang, lebih awet karena bakteri/jamur tidak bisa tumbuh. Naaaahhh, nggoreng nya itu pake minyak kan ya, bukan air (kalo pake air namanya ngrebus mbak)? Abis digoreng, ditiriskan trus didinginkan maka jadilah itu minyak yang masih tersisa nempel di mie. Betul apa bener? 
Jadiiiii kalo saat merebus mie itu ada kaya minyaknya di air rebusan,  itu bukan lilin buibu tapi minyak goreng. Jelas yaaaa??*ala cikgu dosen, hhhhhhh *hela napas, esmosi saia. 

Lanjuuutt.... Info keterlaluan kedua nih, kalo masak mie instan bumbunya jangan direbus bareng mie nya karena pada suhu 120°C MSG akan terurai menjadi senyawa2 yang berpotensi karsinogenik (pemicu kanker) atau yang semacam itu redaksinya. Ngerasa ada yang janggal gak sama informasi di atas? Nggak ada?? Sini sini saya tunjukin. 
Inget pelajaran SD dulu dong? "Berapa titik didih air anak-anak?" Bertanyalah ibu guru sumini pada anak muridnya. "100°C bu guruuuu" Jawab murid-muridnya serempak. Iyak pintar sekali.  
Naaah masak mie instan ini pake kompor sama panci kan ya?  Masak mi pake panci dan kompor sampe yang masak ubanan juga tidak akan pernah mengubah titik didih air yang 100°C menjadi 120°C, kecuali kalo sodara/sodari semua masak mie nya pake panci presto (Lodrok dong mie gue).
Lha gimana critanya itu MSG bisa terurai/terpirolisis atau apalah namanya jadi senyawa-senyawa karsinogenik?

Yang terakhir nih penting  banget, masih percaya kan sama badan pengawas obat dan makanan (bpom)?  Di setiap kemasan mi instan pabrikan merk2 terkenal itu pasti ada ijin bpom nya *kalo gak ada, gak usah dibeli. Badan pom ga akan dengan mudahnya mengeluarkan nomor perijinan bpomnya untuk suatu produk yang gak jelas keamanannya. Kalo mie instan itu gak aman dan gak layak makan udah dari dulu ditarik dari peredaran. Yang harus diwaspadai justru mie2 industri rumah tangga yang banyak bertebaran di pasar atau tukang sayur itu. Tanpa merk, tanpa kemasan higienis, gak tau pake pengawet formalin atau tidak dll. Jangan terbalik-balik. Gak semua yang pabrikan (berpengawet kimia) itu kurang baik untuk kesehatan. Dan sebaliknya gak semua yang tanpa pengawet itu pasti baik. Selama penggunaan pengawet itu terkontrol dan sesuai patron its oke menurut saya.

Nah masalahnya sekarang adalah seberapa sering kita konsumsi mie instan itu sendiri. Kalo tiap hari sehari 3x dan bener-bener mie instan doang, ya itu lebay bingits namanya. Kenapa gak boleh keseringan?

1. Mie instan itu makanan yang 'gak bergizi' (haha. Jahatnya... yaudah deh gizinya minimalis). Jadi ngapain juga masuk-masuk-in sesuatu yang gak ngasih manfaat ke tubuh sering-sering? Selingan gakpapa, sebagai recreational food, seminggu 2-3x masih tolerable. Kalo mau lebih bergizi campurkan dengan sayur, telur atau bahan bergizi lain.

2. Mie instan itu makanan yang tinggi garam. Diet tinggi garam terus menerus jelas gak baik untuk tubuh apalagi untuk orang-orang yang punya riwayat hipertensi, sangat tidak dianjurkan

3. Mie instan itu pantangan buat yang alergi atau intoleran terhadap gluten. Gluten itu protein yang terdapat pada tepung2an seperti gandum sebagai bahan dasar mie. Orang-orang seperti ini biasanya akan jadi pusing, mual atau sakit perut setelah makan makanan-makanan mengandung gluten seperti mie atau roti.

Jadi mie instan itu aman ya, asal semua aturannya dipatuhi dan gak berlebihan. Sooo.....cek dan validasilah  informasi2 yang diterima. Jangan mudah menelan mentah-mentah semua data. Digoreng apa direbus dulu gitu biar agak enak. Sayang banget kan ilmu yang berharga itu  menjadi tak bernilai hanya karena ditemplokkan dengan semena2 untuk menghukumi suatu fenomena dengan tidak tepat.

Ancaman Di Balik Manisnya Gula

Gambar diambil dari intisari-online.com

Set dah, tumben bikin judul a la-a la media abal-abal gini. Wkwk. Kenapa oh kenapa buk? Yah karena inilah faktanya. Daripada ibu-ibu parno berlebihan terhadap MSG -yang notabene sudah dijamin aman-, sepertinya lebih pas kalo kuatir berlebihannya dialihkan pada gula pasir. Kenapa gula pasir? Begini ceritanya:
Gula pasir (atau nama kimianya sukrosa)itu masuknya ke golongan karbohidrat, yang di dalam tubuh dipecah jadi unsur penyusunnya (fruktosa dan glukosa). Glukosa di tubuh ini yang nantinya sering disebut dengan istilah gula darah. 

Coba bayangkan berapa gelas gula yang dibutuhkan untuk bikin 1sachet nutrijel? Ukurannya udah gelas bo' bukan sendok lagi. Belom lagi gula yang ngumpet di dalam  sirup, softdrik, es teh manis, sup buah, es krim, jus buah, biskuit, macem2 kue kering, permen dan banyak lagi.  Itu perhitungan di luar nasi lho. Iya nasi putih. Nasi putih itu termasuk makanan dengan indek glikemik tinggi. Makanan ber IG tinggi itu adalah makanan yang dengan cepat menaikkan kadar gula darah. Yess sepertinya konsumsi kita high sugar banget ya. Emang ada yang salah dengan diet high sugar? Begini ceritanya (lagi :)): yang kadang sering disalah-salahin sebagai biang kegemukan itu kan lemak ya. Gorengan, makanan bersantan dkk. Ada benernya juga sih. Tapi taukah anda jika kelebihan gula yang tidak dipake tubuh itu juga disimpan sebagai.... jreng...jreng......
yup  L E M A K.
Dan itu justru yang jadi penyebab utama kegemukan. Iyaaa lemak yang bikin gendut itu. Wkwk

Jadi hubungan diet tinggi gula dengan kegemukan? Ya sodara sepupu deh, deket banget. Sebagai tambahan, kadar gula  yang tinggi dalam darah itu akan memaksa pankreas untuk kerja rodi ngeluarin insulin (buat menyeimbangkan kadar gula darah tubuh). Kalo pola ini dilakukan terus menerus, yang ada insulinnya jadi gak sensitif, terpaksa pankreas ngeluarin lebih banyak insulin lagi. Nah sekresi insulin berlebih ini diduga sebagai penyebab dasar munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes dkk. Jadi teringat bude saya yang harus sangu alat suntik kemana-mana. Karena setelah selesai makan beliau harus selalu menyuntikkan insulin ke dirinya sendiri untuk menurunkan kadar gula darahnya. 

Pola konsumsi tinggi gula ini juga mungkin yang jadi penyebab naiknya prevalensi penyakit semacam jantung koroner, stroke dkk di semua kalangan. Dulu kan penyakit-penyakit 'keren' ini cuma jadi milik orang-orang kaya yang makannya enak-enak trus ya. Tapi sekarang dari lapisan bawah sampe atas tidak jarang yang mengidap penyakit-penyakit semacam ini. Btw saya juga pernah baca (belom tau validitasnya ya), bahwa proses pengolahan gula yang puanjang (dari penggilingan, pemurnian, evaporasi, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan sampe pengepakan) ini akan menghilangkan semua mineral yang tadinya ada di tebu. Jadi gula pasir yang putih bersih dan manis itu benar-benar hanya murni berisi sukrosa tok. Gak ada mineral apalagi vitamin yang masih bisa digunakan tubuh.

Oke. Berapa sih batas maksimal konsumsi gula pasir sehari yang seharusnya? Menurut WHO tidak lebih 5% kebutuhan energi harian. Kalo kita asumsikan sehari itu 2000kkalori, ya berarti tidak lebih dari 100kkalori yang itu setara dengan 25gram gula atau kira-kira 6 sendok teh. Kalo versi peraturan menteri kesehatan RI, konsumsi gula dalam sehari itu tidak lebih dari 4 sendok makan. Sedikit ya... ? Ngeteh manis pagi hari 2 sendok teh gula pasir. Coffeebreak siang 2 sendok lagi. Eh, sarapan sama ngemil donatnya belum diitung :p, sampe rumah sore, teh manis anget enak nih, 2 sendok teh lagi yang datengnya serombongan bareng sahabat2nya yaitu pisang goreng, roti goreng dkk. Ya sutralah... lewat deh tuh 4 sendok makan gula/hari. haha. Trus gimana dong? Pengen makan manis tapi takut gula. Makannya sambil liat saya aja *senyum manis.

Ada sih yang namanya pemanis buatan yang rendah kalori tapi semanis gula. Seperti aspartam (tropicanaslim),  stevia dll. Ini masuk kategori aman ya (ada nilai ADI)-nya,  tapi ada beberapa kontroversi juga. Jadi kalo hati gak mantep ya gak usah dipake. Intinya terapkan pola hidup sehat, kurangi aktivitas ngopi-ngopi cantik, ngemil donat kentang (deket rumah saya ada yang jual donat kentang enak murce dan laris bgt *abaikan), kurangi nasi putih, makanan manis, goreng-gorengan, perbanyak serat dan pastinya olahraga. Yaah endingnya kok lagi-lagi hidup sehat dan olahraga. Gak seru ini mah. Saya nulis-nulis gini tapi juga belom bisa menjalankannya lho (tutup muka), susah euy.

Gini lho, intinya tuh saya pengen mendudukkan semua itu proporsional pada tempatnya. Pas. Gak berlebihan. Gak lucu kan kalo misalnya bela-belain pesen bakso tanpa vetsin (tapi kecap+saos 3sendok :)), tapi merasa santai-santai aja ngeteh anget sama ngemil donat tiap sore.
Khawatirlah dengan sesuatu yang memang layak dikhawatirkan, jangan membebani otak dengan kekhawatiran2 yang sebenarnya tidak diperlukan :)

Jadi judul di atas gak lebay kan? Asli gula itu lebih mengancam dibandingkan MSG karena cara mengancamnya itu semanis rasanya, bikin kita gak sadar kalo dia itu sebenarnya harus dihindari.

Kamis, 20 November 2014

Kecap=MSG ???




Ini adalah tulisan pertama saya yang ada hubungannya sama pangan (dunia yang pernah saya geluti selama 7 tahun, sekalipun kini ilmunya udah ketumpuk-tumpuk sama ilmu-ilmu tentang cara praktis menyiasati kenaikan harga beras, listrik dan bbm untuk ibu rumah tangga eaa

Baiklah, sekarang saya mau ngomongin tentang pangan, khususon MSG a.k.a micin, vetsin, penyedap rasa, masako, royco dan kawan-kawannya. Kenapa MSG? Karena tadi pagi Berry anak saya lahap banget makannya hingga nambah 3 piring nasi dengan berlaukkan kecap alias nasi kecap (Haha. Poor Berry) 
Back to kecap, emang ape hubungannya kecap sama MSG? Langsung cuss ke TKP. Cekidot yaa....

Saya inget sekali anekdot yang pernah bapak dosen ceritakan (sedikit hal yang saya ingat dari banyak hal yang saya pelajari :p). Begini ceritanya:
Ibu A: "Saya gak pernah lho masak pake vetsin. Gak sehat, bahaya, bisa bikin anak bodoh" (dengan gaya sok paling yes sedunia)
Ibu B: "Saya mah kurang mantep kalo masak gak pake micin. ". 
Ibu A: "Anak saya itu gampang banget makannya. Asal ada kecap aja beres deh, lahaappp. Jadi saya gak perlu susah-susah"
....................................
Jreng....jreng.....!!!!!
Bu Joko Bu Joko... tau gak sih kecap itu isinya apaan? Yap, anda benar, M S G

Monosodium Glutamat
MSG (Monosodium Glutamat) adalah garam natrium dari asam glutamat , senyawa yang memberikan rasa gurih (umami). Asam glutamat sendiri merupakan komponen protein yang secara alami terdapat pada hampir semua makanan. Adapun kecap, kecap adalah salah satu makanan hasil fermentasi kedelai hitam oleh jamur. Pada proses pembuatan kecap dilakukan penambahan garam (NaCl), dan salah satu hasil fermentasi jamur itu adalah asam glutamat. Ada Na dari garam dan glutamat dari asam glutamat, maka jadilah Na glutamat alias MSG. Get it kan hubungan kecap sama MSG? Jadi sama juga boong dong kalo masak tanpa vetsin tapi kecap jalan terus? Bukan boong sih, tapi kurang tepat. Ibaratnya pesen semangkok bakso tanpa vetsin, pas baksonya dateng langsung kalap naroh bersendok-sendok kecap, saos ma sambel. Lhah ape gunanya tadi mesen bakso gak pake vetsin mbak? pesen aja bakso gak pake mangkok, wkwk. Memang sih MSG dalam kecap terbentuk secara alami melalui fermentasi bukan sengaja disintesis secara kimia. Tapi pada dasarnya bahan yang terkandung di dalamnya sama-sama natrium dan glutamat kan? Jadi.....??

Benarkah MSG Berbahaya?
Ngomongin tentang MSG, pasti yang terlintas di kepala adalah tentang gak sehat dan gak aman. Benarkah Itu? 
MSG itu bahaya gak sih? Hmmm.... bahaya binggoooo......
.....kalo kita pakenya 6 kg/hari. 
Jadi gini. Di dalam dunia pangan itu ada yang namanya ADI (acceptable daily intake) yaitu batasan seberapa banyak konsumsi bahan tambahan pangan yang dapat diterima dan dicerna setiap hari sepanjang hayat tanpa mengalami resiko kesehatan (bisa dianalogikan dengan dosis dalam dunia perobatan). Dan ada batas maksimum penggunaan yang bisa dihitung dari nilai ADI. Tahukah berapa nilai ADI untuk MSG? Berdasarkan perka bpom no 23 th 2013, batas maksimum penggunaan MSG adalah secukupnya atau sewajarnya (not specified), gak ada batasan maksimal, yang berarti aman untuk dikonsumsi. Saya bandingkan dengan ADI untuk natrium benzoat yaitu 0-5mg/kg berat badan. See! Harusnya kalau mau khawatir lebih ke pengawet dong daripada ke MSG. Toh kalau pakai vetsin pun paling pol gak sampai 1/2 sendok teh kan? Soalnya kalo kebanyakan yang ada rasa masakannya malah jadi pahit bukannya enak.  
Lanjuuuttt.....

MSG Penyebab Chinese Restaurant Syndrom?
Trus gimana dengan chinese restaurant syndrome yang disebut-sebut disebabkan oleh pemakaian MSG? It's so yesterday. Banyak penelitian-penelitian baru  yang dilakukan yang membuktikan bahwa ternyata MSG bukanlah penyebab sindrom itu (pan penelitian itu berkembang terus yak, kalo ada yang keliru ya direvisi). Dengan banyaknya penelitian yang membuktikan bahwa MSG itu aman maka dimasukkanlah MSG itu sebagai GRAS (Generally Recoqnize as Safe). 

Kecap Sehat Tanpa MSG?
Gimana dengan iklan-iklan yang mengklaim kecap sehat tanpa MSG? Ya itu pinter-pinternya produsen kecap  itu dalam memainkan kata-kata aja. Mungkin dalam pembuatannya memang tidak ditambahkan MSG secara langsung. Tetapi substansinya kan MSG jugak? Jelilah dengan bahasa iklan. Seperti minyak goreng yang hobi ngiklan non kolesterol. Lha emang yang namanya minyak goreng itu gak ada kolesterolnya melainkan fitosterol. Jadi tanpa di-cap nonkolesterol pun semua minyak goreng nabati itu memang gak ada kolesterolnya.

Jadi MSG itu insyaalloh aman ibu-ibu (dengan pemakaian yang sewajarnya). Dan yang terpenting batasi asupannya karena segala yang berlebihan itu kagak baik kan ya. Buat yang antipati sama MSG, suka puyeng kalo makan masakan ber-MSG (sugesti atau bukan?) yaaa gapapa juga sih. Bagus kok bisa memanfaatkan yang alami-alami sebagai pengganti MSG seperti tomat, daging, keju misalnya. Tapi jangan juga terlalu nyinyir sama ibu-ibu yang masih pake MSG, apalagi sampai bego-begoin anak-anak yang masakanya dipakein vetsin. Dan buat pemakai MSG yang merasa masakannya kurang mantap, silakan gunakan dalam jumlah yang sesuai. Preferensi masing-masing orang aja. Gak usah terlalu parno sama MSG karena MSG emang bukan sesuatu yang harus terlalu dikhawatirkan.

Powered By Blogger